Alt Title

Mitigasi Komprehensif, Angan-Angan Semu dalam Sistem Kapitalisme

Mitigasi Komprehensif, Angan-Angan Semu dalam Sistem Kapitalisme

 


Mitigasi komprehensif tidak bisa terwujud melalui penerapan sistem kapitalisme

Dibutuhkan Individu yang memiliki kompetensi tinggi dalam mewujudkannya

______________________________


Penulis Ummu Saibah 

Kontributor Media Kuntum Cahaya


KUNTUMCAHAYA.com, OPINI - Sejak bulan Desember 2023 sampai April 2024 tidak kurang dari 3 kali banjir bandang dan lahar dingin terjadi di Sumatera Barat. Kali ini pada bulan Mei 2024 banjir bandang dan lahar dingin kembali terjadi, di Kabupaten Agam, Kabupaten Tanah Datar dan Kota Padang Panjang. Bencana tersebut merenggut 43 korban jiwa dan banyak warga terluka juga kehilangan tempat tinggal.


Aktivis lingkungan menilai bencana alam ini terjadi akibat kerusakan lingkungan yang disebabkan oleh eksploitasi sumber daya alam (SDA) yang berlebihan dan pembangunan yang serampangan.


Hal ini didukung oleh pernyataan Hengki Purwanto, Direktur Eksekutif Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Sumatera Barat, yang menyatakan bahwa bencana alam yang terjadi di Sumatera Barat merupakan bencana ekologis karena salah sistem pengurusan alam seperti, pembalakan dan pembukaan lahan perkebunan kelapa sawit di dalam dan sekitar Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS) juga penambangan emas di kawasan penyangga TNKS. (BBC.com, 12/5/2024)


Sejatinya bencana alam bisa terjadi karena faktor alam ataupun karena ulah tangan manusia. Seperti yang telah Allah Swt. beritakan dalam QS Ar Rum: 41.

"Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).


Hal ini seharusnya menyadarkan manusia untuk lebih bijaksana dalam bertindak.


Mitigasi Komprehensif Tidak Terwujud dalam Sistem Kapitalisme

Berulangnya bencana alam menunjukkan belum optimalnya upaya mitigasi komprehensif yang dilakukan oleh negara, maupun pihak terkait. Hal ini tentu saja meresahkan masyarakat, karena tidak terpenuhi jaminan keselamatan dan perlindungan. Kerugian psikologis maupun fisik akibat kehilangan jiwa dan harta membayangi kehidupan mereka.


Mitigasi komprehensif tidak bisa terwujud melalui penerapan sistem kapitalisme. Karena dibutuhkan Individu yang memiliki kompetensi tinggi dalam mewujudkannya. Sebagai pejabat negara yang memangku kebijakan, sebagai para pendidik yang menyosialisasikan kepada masyarakat tentang pentingnya pencegahan bencana alam. Juga peran pelaku usaha, sebagai investor yang memiliki modal juga kemampuan untuk mengelola SDA dan terjun langsung di lapangan. 


Tetapi faktanya sistem kapitalisme melahirkan pribadi yang individualistis, jauh dari nilai-nilai agama sehingga cenderung tidak memedulikan keadaan sekitarnya dan bertindak sebebas-bebasnya, tanpa memperhatikan peraturan yang berlaku. Selama tercapai tujuan untuk mengeruk keuntungan sebanyak-banyaknya maka apa pun dianggap sah untuk dilakukan.


Hal ini tercermin dari bagaimana perilaku para pemangku jabatan, kebijakan ataupun peraturan yang diambil tidak dilandasi atas dasar ketakwaan kepada Allah Swt.. Sehingga memungkinkan terjadinya ketimpangan, menguntungkan pihak-pihak tertentu dan merugikan rakyat serta alam. Mereka juga bersikap lunak terhadap pelanggaran yang dilakukan oleh para investor baik individu maupun korporasi, sehingga pelanggaran terus berulang.


Begitu juga dengan para investor yang hanya memikirkan keuntungan yang bisa diraih dengan menekan biaya produksi serendah-rendahnya. Sehingga berpotensi mengurangi proses yang tidak ada hubungannya dengan produksi, seperti pengelolaan limbah, pembukaan lahan dengan pembakaran, penebangan hutan tanpa mengadakan reboisasi dan pembangunan infrastruktur tanpa memedulikan kawasan hijau, dan lain-lain. 


Begitulah yang terjadi di dalam sistem kapitalisme. Kerusakan demi kerusakan akan terus berlanjut karena sistem ini memang tidak layak untuk diterapkan. Saatnya kita beralih pada sistem yang lebih baik, sistem yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad saw. yaitu sistem Islam.


Sistem Islam Mewujudkan Mitigasi Komprehensif

Terwujudnya mitigasi komprehensif melalui penerapan sistem Islam sangat mungkin terjadi. Karena Islam memiliki mekanisme yang tepat.


Pertama, pendidikan di dalam Islam mencetak individu yang beriman dan bertakwa kepada Allah Swt.. Sehingga ketika menjadi pejabat yang berwenang untuk memutuskan suatu kebijakan, ataupun menjadi pelaku usaha dan pemilik modal yang memiliki kemampuan mengelola SDA dan terjun langsung di lapangan, ataupun ketika menjadi masyarakat umum selalu bertindak sesuai dengan sudut pandang Islam.


Kedua, kebijakan dan peraturan yang diambil oleh penguasa, berlandaskan pada hukum Islam, baik untuk mengatur kehidupan bermasyarakat maupun bernegara termasuk di dalamnya kebijakan melakukan pembangunan ataupun pengelolaan SDA. Karena kebijakan pembangunan ataupun pengelolaan SDA di dalam Islam ditetapkan dengan memperhatikan kebutuhan rakyat dan menjaga kelestarian alam, tidak eksploratif dan destruktif. 


Ketiga, masyarakat juga akan mendapatkan pendidikan sejak dini, tentang sebab terjadinya bencana alam, bagaimana menghadapinya, dan bagaimana mencegah agar bencana alam tidak terulang lagi. Sehingga masyarakat mampu membekali diri dan siap menghadapi bencana alam.


Para ahli juga akan ditempatkan pada posisi sesuai bidang keahliannya. Sebagai peneliti maupun pemantau titik-titik wilayah yang diduga rawan bencana alam. Sehingga tindakan pencegahan maupun penyelamatan bisa lebih cepat dan efektif.


Tentu saja negara akan mendanai dan memfasilitasi seperti menyediakan tempat dan peralatan dengan tekhnologi mutakhir untuk menunjang terwujudnya mitigasi komprehensif. Wallahualam bissawab. [SJ]