Alt Title

Jangan Rendahkan Profesi Guru

Jangan Rendahkan Profesi Guru

 


Inilah buah Pendidikan kapitalisme sekuler yang tidak menjadikan Akidah Islam sebagai landasan untuk mengatur kehidupan berbangsa dan bernegara

Akibatnya, mereka bertindak dan berperilaku semaunya, komentar seenaknya, tidak peduli pahala atau dosa

_____________________


Penulis AB LATIF

Kontributor Media Kuntum Cahaya


KUNTUMCAHAYA.com, OPINI - Jagad dunia maya kembali heboh dengan peristiwa kecelakaan bus yang membawa siswa SMK Lingga Kencana Depok pada sabtu, 11 Mei 2024 yang memakan korban belasan meninggal dunia dan puluhan luka berat. Bus hilang kendali hingga menabrak mobil dan 3 motor lalu terguling. Korban meninggal 9 siswa, 1 guru, 1 pengendara motor. (www.cnbcindonesia.com)


Dari peristiwa ini, netizen banyak menyampaikan komentarnya. Ada yang pro dan ada yang kontra tentang acara study tour siswa sekolah. Tidak hanya itu, bahkan ada yang mencela, memaki, dan merendahkan profesi guru terungkap dari beberapa tulisan komentar, atau video langsung yang mereka unggah. Hati ini miris melihat netizen yang agresif memberikan kata-kata yang kasar dalam tuduhan sekaligus merendahkan. Seolah peristiwa ini, semua salah guru dan sekolah. 


Pro dan kontra itu hal yang lumrah. Semua boleh menyampaikan pendapatnya, baik dengan tulisan maupun ucapan sesuai yang telah tertuang dalam Undang-Undang. Namun, jangan seenaknya menghina profesi seorang guru. Tidak ada seorangpun guru yang menghendaki keburukan terhadap semua siswanya. Walaupun faktanya banyak siswa dan wali siswa yang tidak menghormati gurunya. Namun hati seorang guru tidak akan rela melihat anak didiknya dalam keburukan. 


Ketahuilah, tidak semua guru itu PNS atau PPPK. Banyak di antara para guru yang hanya honorer atau guru sekolah swasta. Gaji mereka ada yang di bawah Rp 500.000/bulan, tetapi mereka tetap ikhlas untuk mengajar, mencerdaskan putra-putri negeri ini. Bukankah yang komentar kasar pada hari ini ada jasa guru dalam dirinya? Tidak sepatutnya kita menyalahkan sepenuhnya pada guru dan sekolah.


Inilah buah pendidikan kapitalisme sekuler yang tidak menjadikan Akidah Islam sebagai landasan untuk mengatur kehidupan berbangsa dan bernegara. Akibatnya, mereka bertindak dan berperilaku semaunya, komentar seenaknya, tidak peduli pahala atau dosa. Pendidikan kapitalisme yang berasas kepentingan dan manfaat, senantiasa mengorbankan orang lain, mencari kambing hitam, seolah pahlawan kesiangan untuk sebuah pencitraan.


Tidak hanya itu, pendidikan yang kapitalis telah merubah pandangan hidup manusia menjadi liberal dan jauh dari akhlak juga moral. Mereka dituntut pintar dengan berorientasi pada kesuksesan finansial. Sehingga, pendidikan dianggap sebagai ajang mencari legalitas selembar ijazah untuk meniti karir dunia. Pendidikan kapitalis telah menjadi ajang bisnis untuk meraup keuntungan semata, sehingga menjadi mahal dan kian tambah mahal. Akibat dari Pendidikan kapitalis adalah tekanan ekonomi yang kian tinggi membuat kebijakan dihitung untung dan rugi. Pendidikan dan kesehatan mahal, lapangan pekerjaan kian hilang, gaji guru yang tidak sepadan menambah deretan tindak kriminal. 


Sesungguhnya dalam pandangan Islam, peristiwa kecelakaan ini bukanlah keteledoran kru bus, guru, dan sekolah. Karena pada dasarnya, mereka sudah menyiapkan dengan sebaik-baiknya. Kita wajib faham bahwa ada lingkaran yang menguasai manusia dan ada lingkaran yang dikuasai manusia. Dalam lingkaran yang menguasai manusia, di sini manusia tidak mempunyai daya untuk mengaturnya. Semua terjadi atas kehendak sang Maha Kuasa yaitu Allah Azza wajalla. Seperti hidup dan mati manusia. Ini adalah takdir dan tidak dimintai pertanggung jawaban. Semua atas kehendak sang pencipta. Hidup dan mati manusia, sakit dan sehatnya, celaka dan bahagianya, semua diluar kekuasaan kita. Inilah lingkaran yang menguasai manusia.


Sementara, lingkaran yang dikuasai manusia adalah semua atas kehendak manusia dan inilah yang akan dipertanggungjawabkan. Ada pahala dan dosa, ada hisab dan balasan diakhirat. Di antara lingkaran yang dikuasai manusia adalah merencanakan, menyiapkan, memutuskan, dan menjalankan. Dan semua ini dipertanggungjawabkan di hadapan Allah Swt..


Dalam sistem Islam, kematian karena kecelakaan adalah bagian kematian yang tidak disengaja atau bukan bagian dari pembunuhan. Dan penguasa dalam sistem Islam akan memberi jaminan dengan memberi santunan senilai diyat pembunuhan. Harta jaminan atau santunan diambilkan dari Baitul mall. Biaya pengobatan bagi yang luka-luka dan pengurusan jenazah bagi yang meninggal di tanggung sepenuhnya oleh negara. 


Dalam pandangan Islam guru sangat dimuliakan. Bahkan, gaji mereka sangat diperhatikan dengan benar. Pada masa khalifah Al-Mutawakkil, beliau memberi upah guru mencapai 50.000 dinar di luar gaji rutin sepanjang hidup, tempat tinggal, makanan, dan hadiah-hadiah lainnya. (Az-Zahrani,177-178). Sementara, di masa Khalifah Umar Bin Khatab, gaji guru sebesar 15 dinar atau setara Rp30.000.0000 tanpa memandang PNS, PPPK, Sertifakasi atau tidak. 


Sudah jelas, bahwa semua ini karena tidak diterapkannya Islam secara kaffah. Khalifah akan senantiasa bertanggungjawab atas apapun yang menimpa rakyatnya. Guru akan senantiasa dimuliakan, gajinya diperhatikan, pendidikan, kesehatan, keamanan akan digratiskan, kebutuhan pokok selalu dalam jaminan, dan ini semua telah dibuktikan dalam sejarah Isam. Lalu, masihkah kita tidak mau diatur dengan Islam?


Lihatlah hari ini, ketika Islam diterlantarkan, syariat tidak diterapkan, yang terjadi justru keburukan dan kesengsaraan disegala bidang. Jerih payah guru tidak dihargai, bahkan kebanyakan tidak dimuiakan. Wahai saudaraku, janganlah kalian merendahkan profesi guru. Merendahkan profesi guru berarti telah merendahkan diri sendiri, keberkahan ilmu akan dicabut Allah Swt..


Bukankah Rasulullah telah bersabda dalam hadisnya: ”Barang siapa memuliakan orang alim (guru) maka ia memuliakan aku. Dan barang siapa memuliakan aku maka ia memuliakan Allah. Dan barang siapa memuliakan Allah maka tempat kembalinya adalah surga” (Kitab Lubabul Hadis). Wallahuallam Bissawab. [Dara]