Alt Title

Regulasi Zalim Persoalan Lahan, Akibat Kapitalisme Sekuler yang Diemban

Regulasi Zalim Persoalan Lahan, Akibat Kapitalisme Sekuler yang Diemban

Dalam kapitalisme memang tidak ada kamus untuk mempermudah rakyat. "Yang ada, kalau bisa dipersulit ngapain dipermudah," ucap Ustazah

_________________________________________



KUNTUMCAHAYA.com, REPORTASE - Ratu Kabupaten Bandung - Masjid luas nan sejuk di wilayah sudut timur kabupaten Bandung, Ahad (31/12) dipadati Jemaah ibu-ibu dan remaja putri dari berbagai majelis taklim hingga hampir 1000 orang. Agenda Risalah Akhir Tahun (Ratu) 2023 diselenggarakan oleh Majelis Taklim Al-Istiqamah Kabupaten Bandung. Hadir sebagai pemateri Ustazah Adibah N.F., A.Md. selaku Pembina MT Al-Istiqama dan Ustazah Dra. Irianti Aminatun, Ketua Komunitas Mengenal Islam Kafah. 


Pemaparan materi pertama oleh Ustazah Adibah diawali dengan menyampaikan beragam regulasi zalim di bidang pertanahan. Pertama adanya HGU (Hak Guna Usaha). Ini terasa sekali keberpihakannya bukan untuk rakyat. 


Kedua terkait sertifikat lahan sebagai legalitas kepemilikan tanah. Jika sebuah lahan yang dimiliki warga meskipun sdh bertahun-tahun dikelola namun tidak ada sertifikat atas lahan tersebut, maka negara bisa mengambil lahan tadi dari kepemilikannya.


Ketiga hutan dijadikan kawasan usaha sementara legalitas diberikan oleh penguasa. Mulai dari dijadikan tempat wisata, bisnis properti, perkebunan, industri, pertambangan, dll..


Ustazah menggambarkan dikarenakan regulasi tersebut muncul dampak rusak dan merusak. Peralihan lahan dari peruntukannya menjadikan binatang-binatang hutan banyak yang kabur ke lahan warga, karena hutannya diobrak-abrik. 


"Investasi katanya prestasi, buat rakyat, rakyat yang mana? Rakyat yang jadi pengusaha," paparnya. 


Hasil dari investasi disebutkan oleh beliau semisal KCIC dan infrastruktur lainnya. Ia tampak mentereng, keren, tapi didirikan dengan proses alih fungsi lahan perumahan warga dan pesawahan. Hasilnya nyata bukan untuk rakyat kebanyakan. Bahkan yang ada dampak rumah rakyat tergusur, suaminya kehilangan lahan pekerjaan, keluarga terjebak pinjol dan bank emok, perempuan bekerja generasi jadi telantar, dan seterusnya. 


Rakyat pun khususnya para perempuan dan generasi tak sedikit yang mendapat ancaman keamanan. Mereka trauma, ketakutan, diakibatkan konflik antara yang punya lahan dengan pengusaha. Begitu penjelasan Ustazah. 


Dalam kapitalisme memang tidak ada kamus untuk mempermudah rakyat. "Yang ada, kalau bisa dipersulit ngapain dipermudah," ucap Ustazah


Pemberlakuan kapitalisme sungguh menzalimi rakyat. Dan nyata betapa rakyat butuh penerapan sistem yang berasal dari Zat Maha Baik yakni sistem Islam. [By]