Alt Title

Sinyal Bahaya Liberalisme bagi Anak

Sinyal Bahaya Liberalisme bagi Anak



Anak-anak diasuh oleh lingkungan yang belum tentu steril dari kerusakan

Boleh jadi hal itu awal mula dari kerusakan, seperti masuknya nilai-nilai liberal yang membahayakannya

______________________________


Penulis Siska Juliana 

Tim Media Kuntum Cahaya


KUNTUMCAHAYA.com, OPINI-Anak merupakan peniru ulung. Biasanya mereka akan menirukan segala sesuatu yang dilihat baik secara nyata maupun dunia maya, salah satunya gerakan di gim online. 


Nasib nahas menimpa siswa kelas 1 SD asal Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat yang meninggal akibat mengikuti gerakan freestyle dari gim online yang dilihatnya. Ia sempat menjalani perawatan intensif dan operasi akibat cedera fatal di bagian leher dan kepala. Namun, takdir berkata lain. Ia mengembuskan napas terakhir pada Minggu (3-5). (detiknews.com, 07-05-2026)


Lantas, apakah freestyle sangat berbahaya?


Alasan Freestyle Berbahaya bagi Anak 


Dokter spesialis anak sekaligus pengurus IDAI dr. Reza Fahlevi, Sp.A(K) menjelaskan bahwa sebenarnya freestyle masih boleh dilakukan. Namun, harus berlatih dengan tenaga profesional atau di gimnastik untuk memastikan otot anak kuat. Bila dilakukan sembarangan akan menimbulkan risiko hingga kematian. 


Risiko yang ditimbulkan akibat freestyle tanpa berlatih bersama ahlinya, yaitu: patah tulang, cedera leher yang menyebabkan gangguan pernapasan, dan adanya pendarahan di otak. 


Pentingnya Pengawasan Orang Tua 


Joko Jumadi Ketua Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Kota Mataram menanggapi peristiwa tersebut. Menurutnya, pengawasan orang dewasa saat anak mengonsumsi konten media sosial sangatlah penting. Melarang anak-anak bukanlah satu-satunya solusi, melainkan mengarahkan minat mereka ke kegiatan positif dengan pendampingan profesional jika ingin berlatih keterampilan ekstrem. 


Oleh karena itu, dibutuhkan perhatian orang tua dalam mengawasi anak-anaknya. Mereka harus selalu menyaring konten yang dikonsumsi oleh anak-anaknya. 


Kapitalisme Merusak Generasi 


Rusaknya generasi muda saat ini menjadi ancaman besar bagi eksistensi umat. Generasi muda merupakan agent of change yang akan mengantarkan umat sebagai umat terbaik di dunia. Kerusakan generasi disebabkan oleh faktor sistemik yang saling berkelindan sehingga tidak cukup menyerahkan solusinya hanya pada keluarga sebagaimana yang dinarasikan saat ini. 


Keluarga dalam kapitalisme sangat sulit menjadi keluarga ideal sebab biaya hidup yang tinggi memaksa orang tua bekerja keras untuk bertahan. Tidak hanya ayah, ibu pun harus bekerja keras demi menambal keuangan keluarga. Kebutuhan pokok yang mahal, pendidikan, kesehatan, juga tuntutan materialisme membuat mereka mengedepankan pekerjaan dan mengabaikan anak-anak. 


Alhasil, anak-anak diasuh oleh lingkungan yang belum tentu steril dari kerusakan. Boleh jadi hal itu awal mula dari kerusakan, seperti masuknya nilai-nilai liberal, paham L6BT, dan sebagainya. Oleh karena itu, diperlukan benteng yang kokoh bagi anak, mereka membutuhkan kekuatan yang lebih besar. 


Kekuatan itu mampu menciptakan suasana kondusif bagi anak, lingkungan, dan masyarakat. Kekuatan tersebut adalah negara. Dalam kapitalisme, fungsi perlindungan negara hampir tidak ada sebab ia hanya berfungsi sebagai regulator. 


Negara tidak boleh mengekang konten-konten yang ada sebab itu bagian dari kebebasan berekspresi, termasuk gaya freestyle. Lembaga-lembaga perlindungan anak yang sudah dibentuk belum mampu menyelesaikan masalah sebab akar masalah dari kebebasan ini belum tercabut, yaitu kapitalisme sekuler. 


Khil4fah Perisai Generasi 


Islam memiliki paradigma berbeda dalam menyelamatkan generasi. Khil4fah Islam menerapkan seperangkat aturan yang menyelesaikan masalah mulai dari akar sampai cabang-cabangnya. Hukum ini diterapkan oleh penguasa yang bertaggung jawab kepada Allah Swt.. 


Pemimpin dalam Islam memiliki dua fungsi yaitu sebagai raain (pengurus) dan junnah (perisai). Negara merupakan benteng sesungguhnya dalam melindungi generasi dari bahaya apa pun. Berikut pengaturan dari negara: 


Pertama, pengatur sistem ekonomi. Islam mewajibkan negara menyediakan lapangan kerja yang luas agar kepala keluarga dapat menafkahi keluarganya. Negara juga wajib mendistribusikan seluruh hasil sumber daya milik umat untuk kesejahteraan warga negara. 


Kedua, pengaturan sistem pendidikan. Negara wajib menyelenggarakan pendidikan berbasis akidah Islam bagi seluruh anak. Alhasil, terbentuk kepribadian Islam pada anak yang standar berpikir dan bersikapnya sesuai Islam. Kepribadian Islam akan menyelamatkan generasi dari gempuran ide Barat yang menyesatkan. 


Ketiga, pengaturan sistem sosial. Sistem pergaulan Islam mengatur interaksi antara laki-laki dan perempuan dalam masyarakat. Hal ini akan menghasilkan interaksi yang produktif dan tolong-menolong dalam membangun umat. Interaksi campur baur laki-laki dan perempuan tanpa ada keperluan akan dilarang. Laki-laki dan perempuan diwajibkan untuk menutup aurat dan menundukan pandangan. 


Keempat, pengaturan media massa. Media massa memiliki kebebasan untuk menyampaikan informasi. Namun, mereka diwajibkan untuk memberikan pendidikan bagi umat, menjada akidah, dan kemuliaan akhlak serta menyebarkan kebaikan di tengah masyarakat. Media massa juga berperan mengungkap kesalahan pemikiran, paham, ideologi, dan aturan sekuler liberal. Alhasil, masyarakat bisa terhindar dari gaya hidup yang tidak islami. 


Kelima, pengaturan sistem kontrol sosial. Masyarakat yang bertakwa akan selalu mengontrol agar individu tidak melakukan pelanggaran. Suasana ketakwaan senantiasa dibangun di tengah umat melalui kajian agama. Amar makruf nahi mungkar senantiasa dihidupkan agar orang tidak berani melakukan maksiat. 


Keenam, pengaturan sistem sanksi. Negara menerapkan sanksi yag ditetapkan oleh Allah Swt.. Sanksi ini tegas bagi setiap pelanggar hukum syarak berfungsi sebagai pencegah (zawajir) dan penebus dosa (jawabir). 


Khatimah 


Berbagai pengaturan yang diterapkan oleh Khil4fah akan membangun perlindungan yang utuh untuk anak-anak. Ide kapitalis, liberalis, dan ide perusak lainnya tidak akan mampu menyentuh anak-anak. Oleh karena itu, menjadi sangat penting untuk membangun kesadaran umat agar kembali melanjutkan kehidupan Islam di bawah naungan Khil4fah. Wallahualam bissawab.