Alt Title

Putus Asa Berujung Duka

Putus Asa Berujung Duka




Para generasi perlu mengkaji Islam kafah

agar terbentuk jiwa yang kuat dan produktif

________________________________


Penulis Ummu Anggit

Kontributor Media Kuntum Cahaya


KUNTUMCAHAYA.com, OPINI- Kasus bunuh diri sepertinya bukan sesuatu yang tabu lagi tetapi sudah seperti jamur yang tumbuh subur pada saat musim hujan. Artinya, kasus ini bisa terjadi kapan saja, di mana saja, serta bisa menimpa siapa saja.


Dilansir dari radarbanyumas.co.id, pada 11-5-2026, terjadi peristiwa dramatis yang terjadi di Jembatan Sungai Serayu, Kecamatan Banyumas, Jawa Tengah, Ahad (10-05-2026) malam. Seorang pria bernama Imam Fauzi (32), warga RT 4 RW 2, Desa Karangrau, Kecamatan Banyumas, nekat terjun ke sungai, dan hingga kini masih dalam pencarian Tim SAR gabungan. 


Di hari yang sama seorang pria berinisial S (60), diduga nekat mengakhiri hidupnya dengan naik ke atap gedung di Jalan Patriot, Kelurahan Karangpucung, Kecamatan Purwokerto Selatan, sambil membawa pisau dapur. Namun, aksi percobaan bunuh diri yang dilakukan S berhasil digagalkan oleh aparat kepolisian bersama tim gabungan pada Senin (11-05-2026).


Kasus Bunuh Diri Meningkat


Maraknya orang yang nekat mengakhiri hidupnya dengan jalan bunuh diri merupakan indikasi bahwa kesehatan mental rakyat saat ini sedang tidak baik baik saja, termasuk di Provinsi Jawa Tengah. Hal itu bisa dilihat dari data angka kasus bunuh diri yang cukup tinggi di berbagai daerah di negeri ini. 


Data dari Dataloka.id (06-02-2026), mengabarkan bahwa angka bunuh diri di Indonesia berjumlah 1.492 kasus di tahun 2025. Jumlah tersebut lebih banyak dibandingkan tahun 2024, yaitu 1.439 kasus. Dengan demikian telah terjadi peningkatan sebesar 3,68 persen. Mirisnya, Jawa Tengah menjadi provinsi penyumbang tertinggi untuk kasus ini. 


Data di atas disampaikan berdasarkan informasi dari kepolisian wilayah Jawa Tengah, yaitu Polda Jawa Tengah. Data yang dirilis menginfokan bahwa jumlah kasus bunuh diri di wilayah ini mencapai 433 kasus. Itu artinya, provinsi tersebut menyumbang 29,02 persen dari total seluruh kasus bunuh diri di Indonesia. 


Faktor Penyebab


Ada banyak faktor yang menyebabkan seseorang nekat untuk mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri seperti; kesehatan mental, faktor ekonomi, percintaan, broken home, dan lain-lainnya. Namun, apakah semua permasalahan tersebut harus diselesaikan dengan jalan bunuh diri?


Seharusnya tidak demikian. Kondisi ini mengisyaratkan sempitnya pemikiran membuat seseorang merasa tak ada jalan lain untuk menyelesaikan masalah kecuali dengan bunuh diri. 


Orang-orang yang memutuskan untuk bunuh diri termasuk generasi muda tentu berangkat dari permasalahan yang sama yaitu rasa putus asa. Rasa itulah yang mendorongnya untuk menyelesaikan masalah dengan mengakhiri hidup. Hal tersebut disebabkan oleh akidah yang sangat lemah sehingga membuat mental seseorang menjadi rusak. Akhirnya, mereka tidak mampu untuk untuk berpikir yang benar karena  menuruti hawa nafsu.


Lemahnya akidah membuat mereka lupa, bahwa ada Allah Swt. sebagai tempat untuk mengadu dan memohon pertolongan. Sayangnya, generasi saat ini cenderung mudah rapuh. Di hatinya minim keimanan terhadap hari akhir. Maka dari itu, jalan pintas pun diambil tanpa memikirkan risiko dan konsekuensinya. 


Kondisi Generasi di Sekularisme


Sayangnya, generasi saat ini lahir di sekularisme. Sistem ini menjadikan agama dipisahkan dari kehidupan. Sistem ini juga berasal dari akal yang terbatas dan lemah hingga tidak akan mampu untuk mencari solusi dari permasalahan yang dialami. 


Maka dari itu, mereka menganggap bahwa masalahnya saja yang paling berat. Akhirnya, solusi yang diambil adalah memilih mengakhiri hidup daripada menghadapi masalah yang ada. Demikianlah kondisi generasi di sistem yang tak mampu menyikapi masalah yang ada dengan cara yang benar . 


Manusia Pasti Diuji


Setiap orang pasti punya masalah dan ujian masing-masing. Namun, sebagai orang beriman harus yakin bahwa Allah Swt. akan memberikan jalan kemudahan. Firman Allah Swt. di dalam surah Al-Insyirah ayat 5-6, yang artinya:


"Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan."


Maka sebagai orang yang beriman tentu saja kita harus percaya adanya kehidupan setelah hidup. Artinya ada kehidupan abadi setelah hidup di dunia, sehingga segala perbuatan yang dilakukan saat ini akan dimintai pertanggungjawaban. Termasuk ketika mereka melakukan bunuh diri. Padahal yang seharusnya dilakukan oleh orang beriman ketika ditimpa musibah adalah berpasrah diri kepada Allah Swt..


Arti pasrah di sini bukan berarti tidak melakukan apa-apa tetapi tetap berikhtiar untuk mencari solusi dengan diiringi berdoa kepada Allah Swt. supaya diberikan solusi terbaik di sisi-Nya.


Bunuh Diri dalam Pandangan Islam


Dalam pandangan Islam, bunuh diri hukumnya haram dan termasuk dosa besar. Islam sangat keras melarang terhadap perbuatan bunuh diri, karena perbuatan ini adalah menghilangkan nyawa. Sedangkan nyawa adalah amanah dari Allah bukan milik individu, sehingga pelakunya diancam dengan siksa neraka.


"Dan janganlah kamu membunuh dirimu; sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu. Dan barangsiapa berbuat demikian dengan melanggar hak dan aniaya, maka kelak Kami akan memasukkannya ke dalam neraka. Yang demikian itu mudah bagi Allah." (TQS. An-Nisa [4]: 29-30) 


Seharusnya generasi hari ini kepribadiannya bisa dibentuk. Begitu juga dengan mentalnya. Namun, satu-satunya cara untuk bisa membentuk hal itu hanya dengan mengkaji Islam kaffah bersama kelompok yang ideologis. Hal itu akan membentuk generasi menjadi seorang hamba yang berkepribadian Islam. 


Setelah itu, dirinya berupaya mencari jemaah yang mendekatkan diri kepada Allah Swt. sebagai bagian dari solusi. Di jemaah tersebut nantinya akan berteman dengan sahabat salihah. Hal itu menjadi suatu kenikmatan tersendiri bagi jiwa individu yang kering dan sedang ditimpa masalah. 


Terakhir, jemaah tersebut bukan hanya sekadar mengingatkan perkara keimanan saja, tetapi bagaimana ia bisa bermanfaat bagi Islam. Hal itu hanya bisa diperoleh dengan belajar Islam secara sempurna. Sebab hanya dengan itu, kita mampu memberikan penguat bagi ruh dan pemikiran yang sudah tumpul akibat sekularisme. Wallahualam bissawab. [EA/MKC]