Alt Title

Demo No Kings Kebangkrutan AS dan Penegakan Khil4fah

Demo No Kings Kebangkrutan AS dan Penegakan Khil4fah



Umat harus terus disadarkan bahwa

AS dan hegemoni kapitalismenya serta politik demokrasinya telah merusak dunia dan kehidupan antar bangsa


_____________________


Penulis Salma Lisania

Kontributor Media Kuntum Cahaya 


KUNTUMCAHAYA.com, OPINI - Perang antara Amerika Isra*l VS Iran telah berlangsung selama lebih dari satu bulan. Dibalik perang tersebut, ternyata banyak rakyat Amerika Serikat sendiri tidak setuju adanya perang.


Karena itu, terjadilah unjuk rasa besar-besaran di berbagai wilayah Amerika Serikat (AS). Jutaan warganya turun ke jalan dalam demonstrasi bertajuk "No Kings" pada Sabtu, 28 Maret 2026 waktu setempat. (idnfinancials.com, 29-03-26)


Adapun keluhan dalam unjuk rasa ini antara lain konflik dengan Iran yang menewaskan 13 tentara AS, kenaikan harga minyak dan barang, tarif impor yang berdampak pada kenaikan harga barang kebutuhan sehari-hari, dan antrean pemeriksaan keamanan di bandara akibat kebuntuan pembahasan anggaran.


Selain itu, utang nasional Amerika Serikat (AS) sendiri resmi menembus US$39 triliun (Rp 661.440 triliun) pada Maret 2026, mencapai rekor tertinggi baru. Lonjakan utang ini didorong oleh akumulasi defisit anggaran, biaya bunga yang melonjak, serta stimulus pandemi. Jika saat ini penduduk AS ada 342,62 juta jiwa, berarti utang yang ditanggung per penduduk AS Rp1,93 M. AS di ambang kebangkrutan. (cnbcindonesia.com, 28-03-26)


Ambisi yang Menyebabkan Kerusakan


Ambisi Trump untuk menguasai dunia dengan kebijakan militernya membuat utang AS berlipat dan menuju kebangkrutan. Keterlibatan AS dalam berbagai konflik, khususnya perang dengan Iran mengakibatkan lonjakan kenaikan anggaran militer sekitar 50% dari tahun sebelumnya dan menjadi yang terbesar dalam sejarah AS. Kondisi inilah yang memicu kemarahan rakyat AS hingga beramai-ramai turun ke jalan.


Meskipun jutaan rakyat AS turun ke jalan dan tingkat kepuasan publik terhadap kepemimpinan Trump merosot ke level terendah, tetapi hal ini tidak berpengaruh apa-apa. Karena, pihak Gedung Putih tampak berusaha mengecilkan arti demonstrasi ini. Seorang juru bicara menyebutnya sebagai “Sesi Terapi Gangguan Trump” yang hanya dipedulikan oleh media.


Dengan mendukung Isra*l untuk menguasai P4lestina, bersekutu dengan Eropa dan negara-negara Teluk untuk kompak memerangi Iran, telah membuka mata dunia dan warga AS akan kejahatan Trump dan hegemoni kapitalisme AS. Beberapa negara Teluk membiarkan AS menempatkan pangkalan militernya, padahal AS membangun hubungan dengan tujuan mencapai kepentingan pribadi dan mengukuhkan keserakahan kapitalisme.


Negara-negara Teluk adalah kelompok negara Arab yang berbatasan dengan Teluk Persia, yaitu negara-negara Muslim. Tetapi mereka bergabung dengan AS dan membiarkan AS membangun pangkalan militer. Hal ini membuktikan pengkhianatan penguasa muslim yang bersekutu dengan AS. Padahal bersekutu dengan AS tidak ada kemaslahatan sama sekali, karena AS adalah negara penjajah, pendukung genosida dan penganut sistem kapitalisme. Semua itu sangat bertentangan dengan Islam yang rahmatan lil alamin, hal ini seharusnya membuat penguasa Muslim mengakhiri persekutuan dengan AS.


Kembali pada Sistem Politik Islam


Umat harus terus disadarkan bahwa AS dan hegemoni kapitalismenya serta politik demokrasinya telah merusak dunia dan kehidupan antar bangsa. AS membuat sistem untuk menjadikannya sebagai negara adidaya yang dapat menguasai dunia dari seluruh aspek kehidupan.


Sistem kapitalisme AS dapat mengontrol sistem ekonomi dunia yaitu mengganti alat tukar dengan uang kertas seperti dolar yang mempengaruhi nilai tukar mata uang lain. Sistem demokrasi yang cacat, nyatanya kedaulatan tidak ada di tangan rakyat tapi ada di tangan kepentingan elite. Dari semua itu umat Islam dan penguasa muslim menjadi korban adu domba demi kepentingan AS.


Sudah seharusnya kita kembali pada aturan yang telah dibuat sang pencipta Allah Swt. yakni kembali pada aturan Islam. Islam mengatur seluruh aspek kehidupan tidak hanya pada aspek ibadah saja, contohnya aspek politik, ekonomi, pendidikan, kesehatan, pergaulan, dan lain-lain. Politik Islam atau siyasah Islam tegak atas dasar akidah Islam, yaitu pengurusan urusan rakyat berdasarkan prinsip syariat. Sistem pemerintahan dan sistem kepemimpinan berada pada koridor syariat. Inilah makna kedaulatan berada di tangan syara, bukan pada suara mayoritas atau kepentingan elit saja.


Gambaran jihad yang terkesan menyeramkan tidaklah benar. Nyatanya jihad sangat jauh dari penjajahan saat ini. Jihad yang dilakukan Islam adalah pembebasan manusia dari hukum jahiliah menuju hukum Allah yang Maha Adil. Allah taala berfirman, “Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?” (QS. Al-Maidah: 50)


Dalam Islam, kepemilikan harta dibagi menjadi tiga yaitu kepemilikan individu, kepemilikan umum dan kepemilikan negara. Sumber daya alam termasuk kepemilikan negara dan akan dikelola oleh negara untuk kepentingan masyarakat, sehingga tidak akan ada ketimpangan ekonomi. Jika Islam diterapkan sebagai sistem kehidupan secara kafah akan terwujud Islam yang rahmatan lil alamin (rahmat bagi seluruh alam).


Untuk menegakan hukum Islam tidak hanya dari jihad para pengemban dakwah, tetapi juga diperlukan peran negara. Diperlukan juga kerja dakwah politis yang terarah. Oleh karena itu kaum muslim wajib bergabung dalam jamaah dakwah yang menyerukan perjuangan penegakan Islam secara kaffah.


Alhasil, masyarakat dapat memahami syariat Islam yang agung secara luas. Negara tidak memaksakan siapa pun untuk masuk ke dalam Islam, tetapi tugas berdakwah ke seluruh dunia adalah kewajiban. Dengan cara ini syariat Islam akan tersebar luas, dipahami, dan diterapkan secara praktis dalam segala aspek kehidupan. Wallahualam bissawab. [Dara/MKC]