Demo No Kings: Antara Sinyal Kebangkrutan AS dan Hilal Kebangkitan Islam
OpiniUmat Islam tidak boleh terus-menerus dieksploitasi oleh ambisi serakah AS
Biarkanlah negara tersebut menghadapi konsekuensi dari krisis ekonominya sendiri
________________________________
Penulis Dyah Pitaloka, S. Hum.
Tim Media Kuntum Cahaya
KUNTUMCAHAYA.com, OPINI - Dikutip dari cnnindonesia.com yang dipublikasi pada 29-3-2026, gelombang protes besar melanda Amerika Serikat (AS). Dilaporkan jutaan warga memadati jalan-jalan dalam aksi massa bertajuk "No Kings" pada Sabtu, 28 Maret 2026 waktu setempat.
Pada saat yang sama, beban utang nasional Amerika Serikat secara resmi melampaui angka US$39 triliun (setara Rp661.440 triliun) di bulan Maret 2026. Lonjakan utang ini dipicu oleh besarnya pengeluaran untuk membiayai eskalasi konflik antara AS, Isra*l, dan Iran. Dampaknya setiap warga AS kini menanggung beban utang secara rata-rata sebesar Rp1,93 M yang menempatkan negara tersebut di ambang keruntuhan ekonomi.
Ambisi Berbuah Ironi
Sangat ironis melihat bagaimana ambisi Trump untuk mendominasi dunia lewat kekuatan militer justru memicu penumpukan utang yang luar biasa dan membawa negara menuju kebangkrutan. Pada hakikatnya, setiap peperangan membutuhkan modal dan pendanaan yang masif guna menyokong kebutuhan senjata, alutsista, hingga bahan bakar.
Langkah keras AS (terutama di bawah kepemimpinan Trump) dalam menyokong Isra*l untuk menguasai wilayah P4lestina, serta beraliansi dengan Eropa dan negara-negara Teluk demi memerangi Iran, telah membuka mata penduduk dunia dan warga AS sendiri. Mereka mulai menyadari dampak buruk dari kebijakan Trump dan dominasi kapitalisme yang diusung Amerika.
Di sisi lain, ketergantungan para penguasa muslim yang bersekutu dengan AS sudah sepatutnya ditinjau ulang. Sebagai contoh, Indonesia yang kini menjadi anggota Board of Peace terikat pada kesepakatan untuk turut mengirimkan kekuatan militer dalam konflik yang melibatkan AS atau Isra*l dengan dalih "menjaga perdamaian".
Hal serupa terjadi di negeri-negeri muslim lainnya seperti Arab Saudi atau Kuwait yang wilayahnya harus rela dijadikan pangkalan militer AS dalam perseteruan melawan Iran. Akibatnya, dunia Islam terjepit di antara dua pilihan sulit: mempertahankan identitas persaudaraan sesama muslim atau terpaksa memunggungi bahkan melawan saudara seiman seperti di P4lestina dan Iran.
Langkah Trump Makin Mencengkeram
Egoisme Trump dalam menetapkan kebijakan luar negeri, khususnya terkait perang dengan Iran, justru makin menjerat warga Amerika serta negara-negara sekutunya.
Tekanan kebijakan Trump yang mengakibatkan krisis utang di berbagai sektor ini harus segera dilepaskan. Tidak heran jika rakyatnya sendiri melakukan demonstrasi agar bisa terbebas. Namun, muncul pertanyaan besar: mengapa sebagian negeri muslim yang menjadi sekutu AS justru tampak makin merapat dan menjalin hubungan erat dengannya?
Hai Kaum Muslimin, Mari Sadari
Melihat realitas yang makin terang benderang ini, sudah saatnya umat Islam dan para pemimpin negeri muslim di kancah global menyadari bahwa hegemoni kapitalisme serta sistem politik demokrasi yang dipimpin AS telah membawa kerusakan pada tatanan dunia. Umat dan penguasa muslim sering kali hanya dijadikan objek adu domba untuk memenuhi kepentingan Washington. Pada akhirnya, hanya Trump dan lingkaran politiknya yang meraih kekuasaan dan keuntungan dari segala konflik yang tercipta.
Sebagai umat Islam, kita harus merumuskan solusi fundamental untuk menghadapi egoisme global ini. Penting bagi kita untuk memberikan edukasi dan kesadaran kepada masyarakat serta para pemimpin mengenai fakta-fakta kezaliman yang terjadi.
Umat Islam tidak boleh terus-menerus dieksploitasi oleh ambisi serakah AS. Biarkanlah negara tersebut menghadapi konsekuensi dari krisis ekonominya sendiri. Inilah saatnya bagi dunia Islam untuk merapatkan barisan dan bangkit melawan ketidakadilan yang nyata.
Tanda-tanda kelemahan ekonomi dan kegagalan sistemik AS beserta sekutunya merupakan isyarat bagi munculnya fajar kebangkitan Islam. Hal ini tentu harus diwujudkan dalam sebuah sistem Islam yang kuat dan mandiri untuk mengimbangi dominasi kekuatan global yang ada saat ini. Wallahualam bissawab.


