Darah di Ujung Slot
OpiniIbu pertiwi menangis, alam berduka, menyaksikan nyawa ibu melayang
Sadisnya anak kandung menjadi algojo bagi ibunya
_____________________________
Penulis Yulfianis
Kontributor Media Kuntum Cahaya dan Aktivis Dakwah
KUNTUMCAHAYA.com, OPINI- Ketika uang lebih berharga dari nyawa dan judi lebih menggoda daripada kasih sayang.
Pemuda berinisial AF (23) di Kabupaten Lahat, Sumatera Selatan, tega membunuh lalu memutilasi jasad ibu kandungnya, SA (63). Perbuatan keji itu dilakukan karena pelaku merasa emosi akibat tidak diberi uang untuk bermain judi online. (kompas.id, 09-04-2026)
Tragedi di Lahat bukan sekadar kisah kriminal yang menggetarkan. Ini adalah bukti telanjang dari kegagalan sistem kehidupan sekularisme. Seorang anak membunuh ibu kandungnya demi uang untuk judi slot. Fakta ini menunjukkan bukan sekadar rusaknya individu, melainkan rusaknya fondasi berpikir yang dibentuk oleh sistem sekularisme kapitalis.
Ketika manusia dididik untuk menjadikan materi sebagai tuhan, maka hilanglah kemanusiaan, lenyaplah kasih sayang, dan hancurlah batas halal haram. Allah ﷻ berfirman:
"Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya?" (QS. Al-Jatsiyah: 23)
Senjata Sistem untuk Menghancurkan Akal dan Generasi
Judi online bukan sekadar penyimpangan, ia adalah instrumen sistemik yang dibiarkan hidup dalam ekosistem kapitalisme. Dengan balutan teknologi dan janji kekayaan instan yang mampu menipu akal, menumpulkan logika, dan merusak struktur kepribadian manusia.
Allah ﷻ menegaskan:
"Sesungguhnya setan itu bermaksud menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu melalui khamar dan judi, serta menghalangi kamu dari mengingat Allah dan salat." (QS. Al-Maidah: 91)
Apa yang terjadi hari ini? Anak membenci ibu. Keluarga berubah menjadi medan konflik. Nafsu mengalahkan akal. Bahkan, nyawa menjadi taruhan. Ini bukan kebetulan ini konsekuensi logis dari sistem yang membiarkan racun tersebar tanpa kontrol hakiki.
Akar masalahnya jelas yaitu sekularisme yang memisahkan agama dari kehidupan dan kapitalisme yang menjadikan manfaat sebagai standar benar salah. Dalam sistem ini, selama menghasilkan uang, maka ia dianggap sah. Bahkan jika harus menginjak nilai moral dan menghancurkan keluarga. Rasulullah ﷺ bersabda:
"Akan datang suatu masa di mana seseorang tidak peduli dari mana ia mendapatkan harta, apakah dari yang halal atau haram." (HR. Bukhari)
Inilah wajah masyarakat hari ini. Judi dilegalkan secara de facto, bahkan menjadi sumber pemasukan. Negara tidak hadir sebagai penjaga moral tetapi sebagai regulator kepentingan. Hukum tidak membentuk ketakwaan, ia hanya mengelola kejahatan. Sanksi lemah, tidak menjerakan, dan seringkali tunduk pada kekuasaan dan uang. Maka lahirlah manusia-manusia pragmatis yaitu berpikir pendek, berorientasi instan, dan siap melakukan apa saja demi materi. Bahkan jika harus membunuh orang tua sendiri.
Satu-satunya Sistem yang Memutus Akar Kejahatan
Islam tidak sekadar mengutuk perbuatan, tetapi mencabut akar kerusakannya. Dalam Islam, akidah menjadi landasan berpikir. Halal haram menjadi standar bertindak. Negara menjadi penjaga yang tegas terhadap segala bentuk kemaksiatan. Allah ﷻ berfirman:
"Barang siapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itulah orang-orang zalim." (QS. Al-Ma’idah: 45)
Islam mengharamkan judi secara mutlak dan menutup seluruh pintunya. Negara wajib memblokir, memberantas, dan menghukum tegas pelakunya. Bukan sekadar penjara tanpa efek jera, tetapi sanksi yang bersifat jawazir (pencegah) dan jawabir (penebus dosa).
Dalam kasus pembunuhan, Islam menetapkan qishash atau balasan setimpal yang akan menjaga kehormatan nyawa manusia. Sebagaimana dalam firman-Nya:
"Dan dalam qishash itu ada kehidupan bagimu..." (QS. Al-Baqarah: 179)
Islam memastikan kebutuhan rakyat terpenuhi tanpa harus menempuh jalan haram. Negara bertanggung jawab atas kesejahteraan, pendidikan, dan penjagaan moral masyarakat. Tidak ada ruang bagi judi untuk tumbuh.Tidak ada celah bagi kerusakan untuk berkembang.
Tragedi ini bukan akhir ia adalah peringatan keras. Selama sistem kufur sekularisme-kapitalisme masih menjadi asas kehidupan, maka tragedi serupa akan terus berulang. Bahkan, bisa jadi lebih mengerikan.
Ini bukan sekadar krisis moral ini krisis ideologi. Selama umat masih bertahan dalam sistem yang rusak, maka jangan heran jika anak berubah menjadi algojo bagi ibunya sendiri. Saatnya memilih tetap bertahan dalam sistem yang melahirkan kehancuran? atau kembali kepada Islam sebagai satu-satunya jalan keselamatan? Wallahualam bissawab.[EA/MKC]


.jpg)