Normalisasi Gaul Bebas Berujung Kekerasan Dampak Sekularisme
OpiniSungguh, kekerasan yang makin brutal hingga berujung pada pembunuhan
tidak bisa diselesaikan dengan sistem yang menjauhkan nilai agama dari kehidupan
____________________
Penulis Windih Silanggiri
Kontributor Media Kuntum Cahaya
KUNTUMCAHAYA.com, OPINI - Kekerasan kembali terjadi di dunia pendidikan. Seorang mahasiswi Faradilla Ayu (23) menjadi korban pembacokan oleh Reyhan Mufazzar (22) di Kampus Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau pada Kamis pagi, 26 Februari 2026 pukul 08.30 WIB.
Korban dilarikan ke rumah sakit karena mengalami luka berat di bagian kepala. Peristiwa ini terjadi pada saat korban akan mengikuti seminar proposal. (metrotvnews.com, 26-02-2026)
Kejadian bermula saat mereka mengikuti Kuliah Kerja Nyata (KKN) di tempat yang sama. Meski Fara sudah memiliki pacar, ternyata dia diam-diam menjalin hubungan khusus dengan Reyhan. Dengan kata lain, Reyhan adalah selingkuhannya Fara. Namun, hubungan asmara diputus secara sepihak oleh Fara dengan alasan korban sudah memiliki pacar lain. (tribunnews.com, 28-02-2026)
Normalisasi Gaul Bebas Berujung Kekerasan
Kekerasan yang terjadi pada generasi muda sungguh sangat memilukan. Generasi muda yang seharusnya menjadi tonggak perubahan justru memiliki karakter brutal. Bertindak tanpa berpikir matang dan lebih mengedepankan emosi, mengakibatkan mudah memilih jalan kekerasan dalam menyelesaikan masalah.
Kejadian ini menunjukkan bahwa perilaku pemuda yang dekat dengan aktivitas kekerasan, pembunuhan, dan pergaulan bebas adalah akibat dari gagalnya sistem sekularisme membentuk generasi memiliki kepribadian mulia. Sistem Sekularisme menjadikan output pendidikan lebih diutamakan memiliki prestasi akademik dan capaian materi daripada nilai moral. Pembinaan iman, penanaman aturan agama, dan pembentukan kepribadian Islam bukan menjadi fokus utama.
Sistem yang memisahkan aturan agama dari kehidupan mengakibatkan pemuda tidak memiliki kontrol dalam diri. Jika dalam hidupnya terdapat konflik atau penolakan, baik dari lingkungan atau orang lain, mental pemuda mudah rapuh dan cenderung memilih solusi cepat tanpa mempertimbangkan akibat kedepannya. Kedewasaan berpikir belum tumbuh secara matang dalam diri pemuda.
Sistem rusak dan merusak ini mengajarkan hidup dalam kebebasan. Kebahagiaan individu dijadikan sebagai standar hidup. Pemuda distimulasi untuk memenuhi perasaan tanpa batas sebagai wujud ekspresi diri untuk mencapai kebahagiaan. Jika tidak terpenuhi, maka emosi mudah meledak. Inilah yang disebut dengan liberalisme.
Normalisasi nilai-nilai liberalisme khususnya pergaulan bebas seperti pacaran, berduaan antar-lawan jenis, campur baru antara laki-laki dan perempuan, serta interaksi yang melewati batas, baik di tengah keluarga maupun masyarakat akan berdampak besar dalam mengubah perilaku yang bertentangan dengan nilai agama.
Interaksi yang tidak didasarkan aturan agama akan sulit dalam menentukan standar perbuatan. Kesalahpahaman penerimaan sikap, ekspektasi berlebihan, rasa memiliki yang dipaksakan, hingga terobsesi dapat menyulut konflik emosional hingga berujung pada tindak kekerasan bahkan pembunuhan.
Sistem pendidikan berbasis sekuler dan tatanan hidup masyarakat yang jauh dari nilai agama mengakibatkan pemuda makin kehilangan arah tujuan hidup. Apalagi negara memandang pemuda sebagai faktor ekonomi yang bernilai produktif dan berorientasi pada materi semata.
Seperti inilah sistem kapitalisme yang bercokol di negeri ini. Sebuah sistem kehidupan yang menjadikan pencapaian ekonomi sebagai tujuan utama bukan pembentukan karakter mulia pada generasi. Hal ini mengakibatkan generasi unggul dalam bidang akademis, tetapi kosong dari nilai moral dan akhlak.
Sungguh, kekerasan yang makin brutal hingga berujung pada pembunuhan tidak bisa diselesaikan dengan sistem yang menjauhkan nilai agama dari kehidupan. Perlu adanya sistem baru untuk menyelesaikan hingga ke akarnya.
Islam Membina Generasi Penerus Peradaban Mulia
Untuk menyelesaikan persoalan kekerasan hingga berujung pada pembunuhan tidak bisa hanya sekadar imbauan kepada pemuda. Perlu penegakkan aturan Islam yang diterapkan mulai level individu, masyarakat, hingga negara.
Sistem pendidikan Islam dibangun di atas dasar akidah Islam yakni membentuk generasi yang tidak hanya unggul dalam ilmu pengetahuan dan teknologi, tetapi juga membentuk kepribadian Islam yakni pola pikir dan sikap yang sesuai dengan Islam.
Kurikulum pendidikan dibuat untuk mencetak generasi yang menyadari bahwa ilmu harus didasari pada iman sehingga generasi akan memiliki kesadaran bahwa mencari ilmu sebagai bekal untuk taat pada aturan Allah bukan hanya sekadar capaian akademik atau keterampilan. Oleh karena itu, tujuan mendapatkan ilmu bukan untuk mencari kerja, tetapi harus membawa manfaat bagi umat manusia berdasarkan syariat Islam.
Sementara itu, masyarakat Islam akan saling mengingatkan dalam kebaikan, menentang kemaksiatan. Kondisi masyarakat seperti ini tidak akan membiarkan generasi terjerumus pada perilaku yang menyalahi aturan Allah sehingga generasi akan berada pada suasana yang senantiasa mendukung ketaatan dan menjauhkan dari perilaku menyimpang.
Selain itu, negara akan menerapkan aturan pergaulan yang sesuai dengan koridor syariat seperti kewajiban menundukkan pandangan, menutup aurat, larangan berduaan dengan lawan jenis tanpa disertai mahram, dan campur baur antara laki-laki dan perempuan. Sebagaimana sabda Rasulullah: "Janganlah salah seorang dari kalian berkhalwat dengan seorang wanita karena sesungguhnya syaitan menjadi orang ketiga diantara mereka berdua.” (HR. Ahmad)
Negara juga akan menerapkan sistem sanksi Islam untuk memberi efek jera bagi pelaku yang melanggar aturan Islam termasuk tindak kekerasan. Demikianlah pengaturan Islam yang akan mampu menjaga kehormatan masyarakat sehingga aman dalam menjalani kehidupan dapat terwujud. Sinergi antara ketakwaan individu, amar makruf nahi mungkar dalam kehidupan masyarakat, serta penegakkan aturan oleh negara akan melahirkan generasi yang kuat iman, matang secara emosional dan memiliki kepribadian Islam. Wallahualam bissawab. [Dara/MKC]


