Desakan Rakyat Keluar dari BoP Diabaikan Pemerintah Masih Bertahan
OpiniBoP tidak lain sebagai proyek kolonial AS
dan legitimasi untuk menguasai P4lestina
_____________________
Penulis Rahma Zakiyah
Kontributor Media Kuntum Cahaya
KUNTUMCAHAYA.com, OPINI- Rakyat Mendesak Keluar BoP.
Bergabungnya Indonesia dalam keanggotaan Board Of Peace (BoP) yang dicanangkan pada tanggal 22 Januari 2026 lalu, dikecam keras oleh rakyat Indonesia.
Selain merugikan Indonesia, BoP dinilai tidak mewujudkan perdamaian yang telah menjadi tajuk eksistensinya. 70 Organisasi Masyarakat Sipil (OMS) dan lebih dari 60 tokoh nasional mendesak pemerintah dan DPR RI untuk menarik Indonesia dari keanggotaan tersebut. (inilah.com, 02-03-2026)
OMS menilai lembaga tersebut telah kehilangan legitimasi moralnya. Pasalnya sembilan hari setelah BoP dibentuk, Isra*l sebagai salah satu anggota BoP, melancarkan serangan udara dan menyebabkan tewasnya 31 orang penduduk Palestina. (dpr.go.id, 02-02-2026)
Akan tetapi, Prabowo masih menilai BoP adalah satu-satunya jalan diplomasi realistis untuk memperjuangkan kemerdekaan P4lestina. “Pak Presiden pun mempertanyakan, jika memang ada yang mendesak untuk keluar BoP, lalu untuk merundingkan perdamaian palestina itu di forum apa? "Karena satu-satunya forum perundingan tersebut hari ini adalah di BoP", imbuh Nusron Wahid, Menteri Agraria Dan Tata Ruang/ Kepala Badan Pertanahan Nasional. (aboutmalang.com, 06-03-2026)
Hal ini menjadi ironi, seolah BoP memang the only option. Padahal ia menjadi alat geopolitik yang memang direncanakan untuk mencapai perdamaian ala AS.
Tipu Muslihat BoP
Kontroversi BoP sendiri membuat rakyat semakin ragu jika ini ditujukan untuk kemerdekaan G4za. Donald Trump, Presiden AS yang menginisiasi pembentukan BoP merencanakan perdamaian G4za dengan mengajak berbagai pemimpin negara untuk melancarkan misi ini. Namun, lagi-lagi BoP tidak ditargetkan untuk meraih kemerdekaan P4lestina, tetapi sebagai alat kontrol penuh pembangunan dan perekonomiannya dengan dalih membantu P4lestina.
Ironinya, di waktu yang sama, AS juga menjadi donatur utama persenjataan militer Israel untuk menyerang Palestina.
Atas paradoks ini, BoP tidak lain ialah proyek kolonial AS sebagai legitimasi untuk menguasai Palestina dari dulu hingga sekarang, seperti Perjanjian Oslo hingga BoP ini. Bukti AS ingin G4za di bawah komando mereka bahkan sebelum BoP terbentuk. Yakni, dengan memberikan dukungan penuh terhadap pendanaan militer Isra*l dengan dalih membasmi H4mas, sebagai teroris ala mereka. Trump juga mengatakan, “…kami akan selalu berdiri bersama dengan sahabat dan mitra terkasih kami, negara Isra*l.” (trumpwhitehouse.archive.gov, 25-03-2019)
Selain kontrol AS terhadap P4lestina, BoP juga alat untuk mengontrol negara anggota BoP itu sendiri, salah satunya Indonesia. tergabungnya Indonesia dalam BoP dinilai tidak menguntungkan Indonesia dan justru malah merugikan. Di balik itu semua, ada beberapa syarat yang harus disepakati yang justru membuat Indonesia makin tidak berdaya, salah satunya nilai substansi ekonomi.
Perekonomian Indonesia yang telah tergadai oleh AS akibat BoP ini di antaranya:
Pertama, pemberlakuan bea masuk 0 persen bagi barang dari AS. Kedua, pembebasan sertifikasi halal untuk produk AS. Ketiga, pelonggaran eksploitasi di sektor pertambangan. Keempat, larangan bergabung dengan blok ekonomi lain yang berseberangan dengan AS. Dengan demikian, Indonesia secara tidak langsung terjerat dalam manipulasi AS.
Alih-alih mampu meraih perdamaian dengan kemerdekaan Palestina, justru Indonesia makin terjajah dan terkekang dalam imperialisme AS. Hal ini membuktikan bahwa meski Indonesia menggadaikan Rp16,7 triliun untuk menjadi anggota tetap BoP, tetapi ia tidak bisa memberikan pengaruh apa pun terhadap arah pergerakan BoP yang berada dalam kontrol penuh AS. Indonesia justru makin terjajah dan tereksploitasi oleh hegemoni AS dengan berbagai kebijakan dan tekanannya, dengan dalih diplomasi.
Inilah kapitalisme di mana segala hal penuh dengan kepentingan, bahkan termasuk Hak Asasi Manusia (HAM) sekalipun. Selain HAM bukan konsepsi dari Islam, ia juga terbentuk dari kepentingan Barat yang menjadi alat legitimasi mereka untuk mengakuisisi kontrol penuh atas kehendak mereka. Demikian juga Indonesia dengan berbagai persoalan negerinya yang bahkan tak segan-segan bergandengan tangan dengan pelanggar HAM itu sendiri, jika memang ada kepentingan dan manfaat yang bisa didapat dari itu.
Standar keadilan pun makin semu dan abu-abu, penuh intrik tipu muslihat, demi kepentingannya tercapai bagaimanapun caranya. Kapitalisme lekat dengan penjajahan, dengan penjajah-lah yang berhak mengontrol dan menentukan arah negeri jajahannya, seperti Indonesia. ia tidak bisa bergerak leluasa sehingga seolah tidak punya pilihan selain bertahan dalam keanggotaan BoP, demi kepentingan yang sebenarnya membuatnya semakin terjajah.
Haram Bekerjasama dengan Musuh Umat Islam
BoP sudah terbukti tidak mampu mewujudkan perdamaian, terbukti dari penyerangan Isra*l pada G4za dan baru-baru ini serangan terhadap Iran. Kedua negeri dengan penduduk mayoritas muslim ini menjadi korban penyerangan brutal Isra*l dan AS yang menjadi anggota BoP. Hal ini tentu kontra dengan dalih perdamaian yang digaungkan kalau mereka saja telah menjadi musuh daripada kaum muslim.
Allah Swt. mengharamkan umat Islam bergandengan tangan dengan musuh.sebagaimana firman Allah dalam surah Al-Baqarah 191 yang berbunyi:
وَاقْتُلُوْهُمْ حَيْثُ ثَقِفْتُمُوْهُمْ وَاَخْرِجُوْهُمْ مِّنْ حَيْثُ اَخْرَجُوْكُمْ وَالْفِتْنَةُ اَشَدُّ مِنَ الْقَتْلِۚ وَلَا تُقٰتِلُوْهُمْ عِنْدَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ حَتّٰى يُقٰتِلُوْكُمْ فِيْهِۚ فَاِنْ قٰتَلُوْكُمْ فَاقْتُلُوْهُمْۗ كَذٰلِكَ جَزَاۤءُ الْكٰفِرِيْنَ
Artinya:
“Bunuhlah mereka (yang memerangimu) di mana pun kamu jumpai dan usirlah mereka dari tempat mereka mengusirmu. Padahal, fitnah itu lebih kejam daripada pembunuhan. Lalu janganlah kamu perangi mereka di Masjidilharam, kecuali jika mereka memerangimu di tempat itu. Jika mereka memerangimu, maka perangilah mereka. Demikianlah balasan bagi orang-orang kafir.”
Alhasil, umat Islam harus bersikap tegas dalam menghadapi Isra*l dan AS. Bukan malah ikut berkolusi dan bahkan ikut mendanai aksi mereka yang mengusung perdamaian palsu.
Satu-satunya solusi dalam membebaskan P4lestina adalah jihad yang dilakukan oleh segenap kaum muslim sedunia, tidak hanya Iran saja, tetapi semuanya bersatu padu dalam komando khalifah. Jihad tidak akan terwujud sebelum umat bersatu dalam institusi Khil4fah, institusi yang menerapkan Islam diseluruh aspek kehidupan.
Allah Swt. sudah menjanjikan kemenangan kaum muslim pada surah Ar-Rum ayat 4 dan 5 yang artinya:
“Dalam beberapa tahun (lagi). Bagi Allah-lah urusan sebelum dan setelah (mereka menang). Dan pada hari (kemenangan bangsa Romawi) itu bergembiralah orang-orang yang beriman, karena pertolongan Allah. Dia menolong siapa yang Dia kehendaki. Dia Mahaperkasa, Maha Penyayang.”
Sudah saatnya kaum muslim bersatu tidak lagi berharap pada alat penjajahan Barat yang penuh tipu muslihat dan kehancuran. Karena umat yang kuat adalah umat yang bersatu dan menyerukan suara yang satu, tidak lagi bersandar pada solusi parsial ataupun negara tertentu. Karena umat tergerak bukan karena kepentingan, tetapi yakin bahwa janji Allah Swt. umat Islam pasti menang dan pasti meraih perdamaian hakiki yang diridai oleh Allah Swt.. Wallahualam bissawab. [EA/MKC]


