Alt Title

3 Maret 1924: Runtuhnya Pelindung dan Awal Luka P4lestina

3 Maret 1924: Runtuhnya Pelindung dan Awal Luka P4lestina



Sejarah selama satu abad ini telah memberikan pelajaran pahit

bahwa tanpa institusi politik yang berdaulat dan independen, negeri-negeri muslim hanya akan terus menjadi pelaksana dari agenda besar pihak lain


_______________


Penulis Eri

Kontributor Media Kuntum Cahaya dan Pemerhati Masyarakat


KUNTUMCAHAYA.com, OPINI- Bagi dunia Barat,  tanggal 3 Maret 1924 bukan sekadar tanggal biasa dalam kalender sejarah, itu adalah hari di mana wajah dunia Islam berubah selamanya.


Hari tanpa pelindung bagi kaum muslim, khususnya P4lestina. Penghapusan Kekhalifahan Utsmaniyah oleh Majelis Agung Nasional Turki secara resmi menandai puncak dari revolusi sekuler yang dipimpin oleh Mustafa Kemal. 


Inilah momen terburuk sekaligus luka peradaban yang paling dalam. Institusi Khil4fah yang selama 13 abad menjadi jangkar stabilitas, persatuan, dan perisai politik umat resmi dihapuskan dari peta sejarah. Sejak detik itu, pintu gerbang Al-Quds terbuka lebar dan P4lestina berubah dari tanah yang berdaulat menjadi "hidangan" di meja perundingan negara-negara Barat. 


Sepanjang penderitaan P4lestina, Amerika selalu hadir sebagai “penengah” atau juru damai antara Isra*l dengan P4lestina. Bahkan perannya makin masif sejak Perang Dunia II menggeser Inggris yang mulai melemah. Amerika menjadi kekuatan utama di Timur Tengah. Di sinilah konsep "Board of Peace" (Dewan Perdamaian) mulai dimainkan. Narasi perdamaian yang dipromosikan Amerika di era modern sering kali dipandang sebagai "obat penenang". Namun, alih-alih menyembuhkan justru melanggengkan status quo yang merugikan rakyat P4lestina sejak runtuhnya perlindungan mereka seabad yang lalu. 


Meskipun ada inisiatif "perdamaian" tersebut, serangan Isra*l ke P4lestina—baik di G4za maupun Tepi Barat—masih terus berlangsung dan bahkan dilaporkan meningkat dalam beberapa pekan terakhir di bulan Februari 2026 ini. Dilansir AFP, Jumat (27-02-2026), badan pertahanan sipil G4za yang beroperasi sebagai pasukan penyelamat di bawah otoritas Hamas menyebut bahwa ada serangan di G4za Tengah dan Selatan yang menewaskan sedikitnya lima orang dan melukai beberapa orang lainnya. (detiknews.com, 28-02-2026) 


Yang paling mengerikan dalam serangan Isra*l di masa berdirinya Board of Peace (BoP) ini adalah laporan mengenai penggunaan senjata termal dan termobarik yang makin masif. Sebuah investigasi terbaru pada awal 2026 (salah satunya oleh Al Jazeera) melaporkan fenomena mengerikan di mana ribuan warga P4lestina di G4za, tercatat sekitar 2.842 orang dinyatakan hilang. Mereka tidak ditemukan sebagai jenazah utuh, melainkan hanya menyisakan percikan darah atau fragmen kecil jaringan tubuh. (cnbcIndonesia.com, 11-02-2026) 


Penggunaan senjata termal dan termobarik yang menguapkan ribuan nyawa menghancurkan fondasi moral kampanye tersebut. Ini merupakan simbol konkret dari runtuhnya kredibilitas BoP. Kegagalan ini menciptakan jurang yang sangat lebar antara retorika perdamaian di meja perundingan dengan genosida teknologi yang terjadi di lapangan.


Pada akhirnya, kita harus menyadari bahwa penderitaan P4lestina yang bermula sejak runtuhnya perisai umat pada 3 Maret 1924 tidak akan bisa disembuhkan hanya dengan suntikan dana rekonstruksi atau manajemen keamanan ala Board of Peace. Sejarah selama satu abad ini telah memberikan pelajaran pahit: Bahwa tanpa institusi politik yang berdaulat dan independen, negeri-negeri muslim hanya akan terus menjadi pelaksana dari agenda besar pihak lain.


Sejarah mencatat bahwa stabilitas dan keamanan di tanah P4lestina mencapai puncaknya di bawah naungan Khil4fah selama kurang lebih 1.300 tahun yakni sejak Rasulullah saw. membangun Daulah Islamiyah di Madinah hingga runtuhnya kekhilafahan Turki Utsmani.


Sultan Abdul Hamid II dikenal dengan pernyataan legendarisnya saat menolak tawaran Theodor Herzl untuk membeli tanah P4lestina demi melunasi utang kekhilafahan Utsmani: ​"Saya tidak akan menjual walaupun sejengkal tanah ini, karena ia bukan milikku, tetapi milik rakyatku. Rakyatku telah memenangkan kekaisaran ini dengan menumpahkan darah mereka... Biarlah Yahudi menyimpan uang mereka."


Jika Sultan Abdul Hamid II dikenal karena keteguhannya mempertahankan P4lestina di akhir masa kekuasaan Islam, maka Umar bin Khattab ra. adalah peletak dasar bagaimana P4lestina (Baitul Maqdis) dijaga dengan kemuliaan, syariat, dan keadilan yang inklusif.


Kehancuran kaum muslim saat ini sebagaimana sabda Rasulullah saw. ​"...Dan jika mereka (para pemimpin) tidak berhukum dengan Kitabullah dan tidak memilih apa yang diturunkan Allah, maka Allah akan menjadikan peperangan (kekacauan/pertikaian) di antara mereka sendiri." (HR. Ibnu Majah)


Inilah akibat dari ditinggalkannya model penjagaan ala Umar yang menempatkan nyawa seorang manusia lebih berharga daripada seluruh bangunan di dunia. Fenomena ini adalah bukti paling mutakhir bahwa tanpa institusi pemersatu yang berdaulat seperti sebelum 3 Maret 1924, kekuatan besar dunia akan selalu mampu 'menjinakkan' solidaritas umat Islam dengan mengubah isu penjajahan menjadi sekadar proyek tata kelola dan investasi ekonomi. 


Tanpa 'perisai' ini, P4lestina menjadi wilayah tak bertuan yang diperebutkan oleh mandat kolonial, memicu rangkaian tragedi kemanusiaan yang tak kunjung usai hingga detik ini. ​Selama umat Islam—termasuk Indonesia—masih terjebak dalam sekat-sekat kepentingan nasional yang sempit dan tunduk pada orkestra kekuatan luar, maka pembebasan Al-Quds akan tetap menjadi mimpi yang tertunda.


Sudah saatnya kita menengok kembali pada akar masalahnya P4lestina butuh pelindung yang nyata, bukan sekadar dewan perdamaian yang transaksional. Wallahualam bissawab. [EA/MKC]