Realitas Pahit Game Online di Era Sekularisme
Surat PembacaMeskipun bukan faktor tunggal, game online bisa saja menjadi stimulus tindak kekerasan
Seperti yang terjadi pada kasus pembunuhan ibu F (43) oleh anak A (12) di Medan
_________________________
KUNTUMCAHAYA. com, SURAT PEMBACA - Perkembangan teknologi makin berkembang pesat saat ini. Salah satu bentuknya adalah masifnya penggunaan internet dalam kehidupan sehari-hari. Internet bahkan dianggap sebagai kebutuhan dalam kehidupan modern. Selain itu internet juga bisa dijadikan sarana hiburan yang dapat ditemui salah satunya di game online.
Menurut goodstat.id (5-10-2004) Indonesia menduduki peringkat kedua di Asia Tenggara dengan 95,3% pengguna internetnya yang bermain video games. Peringkat pertama dipegang oleh Filipina sementara Vietnam ada di peringkat ketiga.
Masih menurut goodstat, pilihan game dengan tema tembak menembak masih menjadi favorit masyarakat dunia. Hal ini dikarenakan sarat ketegangan dan aksi heroik. Pendeknya, tema kekerasan menjadi salah satu unsur yang menonjol untuk menarik orang agar berlarut-larut bermain game.
Game Online Produk dari Kapitalisme
Hanya saja, harus dipikirkan bersama mengenai dampak aksi kekerasan yang ada dalam game online. Karena aksi tersebut bisa saja ditiru dan menginspirasi penggunanya di dunia nyata. Salah satu faktor penyebabnya adalah kemampuan kontrol setiap individu berbeda-beda.
Meskipun bukan faktor tunggal, game online bisa saja menjadi stimulus tindak kekerasan. Seperti yang terjadi pada kasus pembunuhan ibu F (43) oleh anak A (12) di Medan (detiknews.com, 29-12-2025). Selain kasus diatas, ada lagi kasus yang diakibatkan oleh game online di Depok. Seorang Istri dianiaya oleh suaminya R yang kesal karena tidak dipinjami handphone untuk bermain game online oleh korban (kompas.tv, 29-12-2025).
Dua kasus tersebut terjadi di lingkungan keluarga yang idealnya menjadi tempat teraman dalam kehidupan. Keluarga dalam konsep Islam menjadi lingkaran pertama pemberi rasa aman. Sungguh miris jika kekerasan itu justru dilakukan oleh orang yang terdekat.
Saat ini kehidupan diliputi oleh udara sekulerisme sehingga terasa sesak. Kehidupan keluarga pun rapuh tidak lagi bisa menjadi pendukung utama. Alhasil, saat ada faktor eksternal yang menstimulus maka meledaklah berbagai kejahatan yang justru dilakukan oleh orang terdekat.
Industri game di Indonesia memang sangat menggiurkan. Pada tahun 2022 saja, industri game ini mendapatkan keuntungan sebesar 25 triliyun hanya dari uang yang dikeluarkan oleh pemain game saja. Keuntungan 99,5 persen mengalir keluar negeri sementara 0,5 persen masuk ke pelaku industri dalam negeri. (antaranews.com, 14-10-2023)
Di era sekularisme, apa saja dibebaskan selama menghasilkan keuntungan materi. Tidak ada tanggungjawab moral mengenai efek buruk dari sebuah produk. Selama banyak pembeli maka produsen akan terus memproduksi. Tidak ada regulasi jelas untuk memfilter produk teknologi mana yang berdampak positif atau negatif.
Islam Mengatur Produk Digital
Kontras dengan pandangan Islam yang memuat bahwa pembuat regulasi harus memiliki kedaulatan digital yang bernafaskan akidah Islam. Sehingga bisa dengan tegas menangkis berbagai produk digital yang membawa pengaruh buruk. Peradaban Islam dibangun atas dasar akidah dan mengakui bahwa sains dan teknologi tetap berjalan dengan landasan tersebut.
Peradaban Islam memiliki sistem pendidikan yang mumpuni dan mampu mencetak kepribadian Islam. Di mana pola pikir dan pola sikapnya sejalan dengan akidah Islam. Peradaban Islam mencetak manusia unggul yang salih dan memiliki ketakwaan yang produktif.
Dalam waktu bersamaan, peradaban Islam mampu mencetak manusia yang akan menghasilkan berbagai produk sains dan teknologi yang bermanfaat bagi kehidupan manusia. Di mana pahala menjadi orientasi dalam hidupnya. Sehingga, tidak akan ditemukan dalam peradaban Islam produk teknologi yang membawa keburukan pada kehidupan manusia baik jangka pendek maupun jangka panjang.
"Dan tiadalah Kami mengutus engkau (Muhammad), melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi seluruh alam." (Al-Anbiya: 107)
Wallahualam bissawab. [GSM/MKC]
Riri Rikeu


