Petani Sejahtera dalam Sistem Islam
Surat PembacaNegara Islam menjamin ketersediaan bibit unggul, pupuk, tanah yang subur, alat canggih yang cepat dan mudah
dan distribusi pertanian sehingga menguntungkan seluruh lapisan masyarakat
_________________________
KUNTUMCAHAYA.com, SURAT PEMBACA - "Jauh panggang dari api" begitulah kalimat yang cocok untuk menggambarkan rencana pemerintah Deli Serdang dalam peningkatan produktivitas dalam sektor pertanian dan kesejahteraan petani.
Penerapan Teknologi Pertanian Modern Tidak Berkaitan dengan Kesejahteraan Petani
Salah satu langkah yang dilakukan yakni dengan penerapan teknologi pertanian modern melalui penggunaan drone dalam penyemprotan atau pengendalian organisme pengganggu tanaman (OPT). Menurut Wabup Lom Lom, penggunaan drone ini lebih efektif dan efisien dan mengurangi paparan bahan kimia terhadap petani.(HETANEWS.com, 22-12-2025)
Pemerintah juga mendorong pemanfaatan alat tanam padi modern seperti rice transplanter yaitu mesin penanam padi otomatis yang memindahkan bibit padi dari persemaian ke sawah secara mekanis. Mereka mengatakan lebih hemat tenaga, waktu, dan dari paparan bahan kimia. (HETANEWS.com, 22-12-2025)
Kesejahteraan pangan dan petani tentu bukan hanya bersandar hanya pada teknologi semata. Belum lagi masalah petani paham apa tidak terkait dengan alat-alat canggih di era digital hari ini.
Hasil panen yang belum tentu berkualitas, ditambah lagi dengan adanya bencana alam yang mengancam mereka gagal panen. Dari sisi dana yang harus mereka keluarkan, tidak sedikit mereka meminjam uang kepada individu 50,1 %, meminjam ke bank 29,3 % dan sisanya ke lembaga keuangan seperti koperasi belum lagi agunan dan suku bunga yang tinggi. (MNews.com, 19-07-2024)
Masalahnya bukan di pertanian digitalnya, tetapi upaya bagaimana pemerintah dalam menyejahterakan petani dalam segala bidang. Hal itu dibutuhkan untuk para petani secara menyeluruh bukan hanya fokus kepada teknologi, tetapi tidak menyentuh ke akar masalahnya. Para petani menghadapi bukan bagaimana memanen, menabur bibit, pupuk, tetapi juga kesejahteraan petani dalam menjadikan hasil panen di sektor ekonomi mereka. Sementara justru para tengkulak yang berperan untuk menentukan harga.
Di dalam sistem kapitalisme harga diserahkan ke mekanisme pasar sehingga akan memicu munculnya korporasi-korporasi raksasa bermodal besar yang mengakibatkan seluruh rantai pasok mulai dari produksi, distribusi sampai konsumsi hanya dikuasai oleh korporasi.
Pada akhirnya, kebijakan itu dimiliki oleh para pemilik modal yang berkolaborasi dengan penguasa karena memberikan jalan untuk masuknya investasi asing yang menanamkan modalnya di Indonesia. Artinya, semua kebijakan pangan Indonesia akan tersandera dengan utang.
Para investor akhirnya juga berpengaruh dalam menentukan kebijakan dan kita tidak punya kedaulatan pangan. Inilah sifat dari sistem kapitalis yang menjadikan segala sesuatunya sebagai ladang bisnis yang menghasilkan keuntungan. Negara sebagai regulator bagi memuluskan para kapital untuk memperkaya diri bukan berperan sebagai pengurus urusan umat yang mana pangan merupakan hak dasar masyarakat dalam memenuhi kebutuhan pokoknya.
Solusi dalam Islam
Islam tidak pernah meninggalkan kecanggihan teknologi dan memandang teknologi sebagai sarana dalam kehidupan.
Negara Islam menjamin ketersediaan bibit unggul, pupuk, tanah yang subur, alat canggih yang cepat dan mudah dan distribusi pertanian sehingga menguntungkan seluruh lapisan masyarakat. Islam memiliki sudut pandang yang berbeda dalam mewujudkan ketahanan pangan. Sistem ekonomi politik Islam akan mampu mewujudkan ketahanan pangan bahkan menjamin kesejahteraan rakyatnya lantaran tujuan utamanya adalah menjamin terpenuhinya kebutuhan pokok rakyat.
Selain itu, negara berperan sentral dalam seluruh urusan rakyat. Islam mewajibkan khalifah, yakni pemimpin negara Islam untuk mengurusi umatnya.
"Imam (khalifah) adalah ra’in (pengurus hajat hidup rakyat) dan ia bertanggung jawab terhadap rakyatnya.” (HR. Muslim dan Ahmad)
Sistem Islam memiliki mekanisme atau APBN pembiayaan dari sumber daya alam yang dikelola untuk negara dan hasilnya digunakan sebaik-baiknya untuk masyarakat tanpa memungut pajak dari rakyat.
Negara juga turut andil dalam penyuluhan pendidikan kepada para petani ketika mereka harus menggunakan teknologi yang memudahkan dalam proses pembibitan sampai proses panen. Negara menyediakan pupuk yang terbaik untuk menghasilkan padi yang unggul dari mulai vitamin untuk tanah maupun pengairan yang memadai.
Negara Islam (Khil4fah) akan mengatur distribusi hasil panen dan memberikan secara mudah ke masyarakat dan menjamin individu-individu untuk mendapatkannya. Khil4fah akan menetapkan kebijakan yang fokus pada kemaslahatan umat. Sudah saatnya kita kembali kepada sistem yang akan menyejahterakan manusia terkhusus petani, yakni sistem Islam yang diterapkan secara kafah dalam institusi Daulah Khil4fah Islamiah. Wallahualam bissawab. [GSM/MKC]
Ummi Aisyah


