Alt Title

Ambisi Presiden Usulkan Sawit di Papua, Bagaimana Pandangan Islam?

Ambisi Presiden Usulkan Sawit di Papua, Bagaimana Pandangan Islam?




Penggundulan hutan dengan menanam pohon sawit, singkong, atau pun tebu

bisa memicu masalah yang mungkin lebih besar

_________________________


KUNTUMCAHAYA.com, SURAT PEMBACA - Beberapa waktu terakhir ini, Indonesia kembali dihebohkan dengan pernyataan Presiden Prabowo yang menyampaikan keinginannya untuk menanam kelapa sawit di Papua. Hal ini sebagai upaya untuk pengembangan bioenergi, mulai dari biodiesel berbahan sawit, hingga bioetanol dari singkong dan tebu. Dilansir dari berita kompas.tv pada Rabu (17-12-2025) lalu dalam rapat percepatan pembangunan Papua yang di gelar di istana negara. 


Penanaman Sawit Merusak Ekosistem Hutan


Ambisi Presiden Prabowo ini berangkat dari ketergantungan masyarakat Indonesia terhadap penggunaan BBM, sedangkan nilai impor BBM berada pada kisaran Rp500 hingga Rp520 triliun per-tahun. Jadi diharapkan proyek swasembada ini bisa membantu menghemat biaya impor BBM ke Indonesia. (Parboaboa.com, 21-12-2025) 


Menyikapi masalah di atas, sangat wajar jika kita geram dan marah atas tindakan para penguasa yang seperti tak mendengarkan teguran atas terjadinya bencana di wilayah Sumatra kemarin yang sampai sekarang pun belum tuntas dan selesai. Bukannya mencari solusi untuk menyelesaikan masalah rakyat, tetapi malah menambah polemik baru dengan menggencarkan ambisi dengan dalih menghemat uang negara. Namun, tak diketahui bagian anggaran negara yang mana yang dimaksudkan. 


Penggundulan hutan dengan menanam pohon sawit, singkong, atau pun tebu bisa memicu masalah yang mungkin lebih besar. Seperti yang kita tahu hutan Papua merupakan salah satu hutan hujan tropis terluas yang memiliki peran penting dalam ekosistem keanekaragaman hayati. Jika benar itu terjadi, tak hanya rakyat saja yang di rugikan, tapi spesies flora dan fauna yang sudah menjadikan hutan sebagai habitat tempat tinggal mereka akan jauh lebih menderita.

 

Terlebih ada masyarakat adat yang juga bergantung pada pertahanan ekosistem hutan yang sudah Allah atur sempurna dengan berbagai manfaatnya, sebagaimana firman-Nya : 

 

 وَاللّٰهُ اَنۡزَلَ مِنَ السَّمَآءِ مَآءً فَاَحۡيَا بِهِ الۡاَرۡضَ بَعۡدَ مَوۡتِهَا‌ؕ اِنَّ فِىۡ ذٰ لِكَ لَاٰيَةً لِّقَوۡمٍ يَّسۡمَعُوۡنَ


"Dan Allah menurunkan air (hujan) dari langit dan dengan air itu dihidupkan-Nya bumi yang tadinya sudah mati. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang-orang yang mendengarkan (pelajaran).” (QS. An-Nahl: 65) 


Dari ayat di atas, Allah memberi tahu kepada seluruh manusia bahwa Allah telah menurunkan hujan dan menghidupkan bumi yang telah mati. Maksudnya di sini Allah menyuburkan tanah yang telah kering, dan menumbuhkan tanaman yang subur dengan rahmat-Nya yaitu air. Lalu bagaimana bisa air menjadi permasalahan terjadinya banjir? Bukankah kita diperintahkan untuk berpikir bahwa pasti ada kesalahan yang dilakukan manusia?


Banjir Akibat Ulah Ceroboh Manusia


Rasulullah Shalallahu 'alaihi wasallam juga pernah bersabda:

 

إِذَا ضُيِّعَتِ اْلأَمَانَةُ فَانْتَظِرِ السَّاعَةَ. قَالَ: كَيْفَ إِضَاعَتُهَا يَا رَسُولَ اللهِ؟ قَالَ: إِذَا أُسْنِدَ اْلأَمْرُ إِلَى غَيْرِ أَهْلِهِ فَانْتَظِرِ السَّاعَةَ.

 

"Jika amanah telah disia-siakan, maka tunggulah hari Kehancuran,’ dia (Abu Hurairah) bertanya, ‘Wahai Rasulullah, bagaimanakah menyia-nyiakan amanah itu?’ Beliau menjawab, ‘Jika satu urusan diserahkan kepada bukan ahlinya, maka tunggulah hari kehancuran." 


Bukankah hadis Rasulullah Shalallahu 'alaihi wasallam di atas sudah sangat menggambarkan terjadi penyelewengan amanah yang sudah hilang. Seharusnya pemimpin menjaga dan menyejahterakan rakyatnya. Namun malah sebaliknya. Bagaimana Allah memerintahkan seseorang untuk berlaku adil saat menjadi pemimpin, menyelesaikan masalah, dan mengelola negara sesuai dengan apa yang Allah perintahkan.

 

Kita bisa mempelajarinya dengan melihat bagaimana Rasulullah memimpin umatnya dengan menerapkan Islam secara kafah dalam seluruh aspek kehidupan meliputi bidang ekonomi, sosial, budaya bahkan politik sekalipun. Islam bukan hanya agama, tetapi juga peraturan hidup yang sempurna. Wallahualam bissawab. [GSM/MKC]


Tri Ayu Lestari, S.Pd.