Pentingnya Ibu Ideologis di Era Digital
Surat PembacaIbu ideologis adalah cerminan wanita muslimah sejati yang taat
dan tidak mudah ikut-ikutan hidup hedonis yang mengekor pada sistem kapitalis
__________________
KUNTUMCAHAYA.com, SURAT PEMBACA - Peringatan hari ibu menjadi momentum untuk perempuan Indonesia sebagai agen perubahan. Namun, apakah perubahan itu sesuai dengan standar syariat Islam atau hanya untuk perubahan perjuangan semu semata.
Peringatan Hari Ibu yang diperingati setiap 22 Desember kembali dirayakan dengan khidmat di seluruh penjuru Tanah Air. Pada tahun ini, tema yang diusung adalah Perempuan Berdaya dan Berkarya, Menuju Indonesia Emas 2045. Tema tersebut menegaskan bahwa perempuan bukan hanya penerima manfaat pembangunan, melainkan juga motor utama perubahan.
Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (PANRB) Rini Widyantini menyampaikan bahwa peringatan Hari Ibu menjadi pengingat pentingnya peran perempuan dalam pembangunan bangsa.
Di era saat ini, perempuan Indonesia telah menjadi agen perubahan yang menggerakkan inovasi, memperjuangkan keadilan, serta menguatkan nilai-nilai kemanusiaan, ujarnya saat membacakan amanat Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) pada upacara bendera Peringatan Hari Ibu ke-97 di halaman Kantor Kementerian PANRB, Jakarta, Senin (mempan.go.id com, 22-12-2025)
Makin pesat perkembangan zaman di era digital saat ini membuat peran perempuan ikut mengambil adil dalam setiap pergerakan perjuangannya. Tidak hanya tinggal diam mereka ikut terlibat agar lebih tahu dan paham mengenai informasi serta berperan aktif dalam berbagai kegiatan khususnya masalah perlindungan anak, serta menjadikan hari ibu adalah sebagai momentum yang tepat untuk mempertegas perjuangan perempuan sebagai agen perubahan dengan berbagai kreativitas dan inovasi yang mereka miliki.
Namun di sisi lain, sepertinya perjuangan ini semu tanpa arah tujuan yang jelas. Apakah semua ini untuk kepentingan pribadi, kelompok, atau hanya sekadar popularitas. Sesungguhnya jika tujuan ini dilandaskan berdasarkan standar syariat Islam mungkin tujuannya jelas. Sangat penting sekali kesadaran berpolitik dan diiringi dengan kesadaran syariat Islam sehingga paham peranan apa yang harus dilakukan sebagai agen perubahan di era digital terutama peranannya sebagai ibu.
Peranan perempuan sangat penting di era digital yaitu sebagai ibu ideologis. Mereka adalah agen perubahan penggerak perjuangan generasi muda sesuai dengan standar syariat Islam, memberikan pendidikan dan pemahaman nilai-nilai ideologis serta pengetahuan tentang arti kehidupan yang sesungguhnya.
Ibu ideologis juga akan menanamkan syariat Islam sejak dini dan mendidik anak-anak mereka untuk mempersiapkan menjadi pejuang-pejuang Islam yang tangguh. Dari ibu ideologis inilah kelak akan lahir para pejuang-pejuang muda yang tahan banting dan tidak mudah goyah diterpa badai. Mereka adalah generasi yang lurus bertauhid dan berakhlak mulia, serta menjadikan Islam sebagai pandangan hidupnya, dan sadar akan jati diri seorang muslim.
Karena sesungguhnya perubahan hakiki tidak muncul begitu saja. Melainkan dari pendidikan yang berlandaskan iman dan takwa. Dari ibu ideologis yang mendidik ia sadar akan amanah, tugas dan tanggung jawabnya sebagai ummu warabbatul bait.
Ibu ideologis adalah cerminan wanita muslimah sejati yang taat dan tidak mudah ikut-ikutan hidup hedonis yang mengekor pada sistem kapitalis. Sifat inilah yang akhirnya ibu ideologis wariskan kepada anak-anaknya. Ibu ideologis paham menjadi generasi muda saat ini tidaklah mudah. Karena mereka lahir di tengah tantangan teknologi yang semakin maju dan sistem yang rusak serta banyaknya orang-orang pintar yang tidak amanah.
Dengan memberikan pemahaman ideologi secara kafah agar generasi muda mampu membentengi dirinya dari sistem kapitalis yang kufur. Karena itu, sangat penting perannya seorang ibu ideologis dari mengandung sudah mempersiapkan hingga melahirkan dan mendidik anak-anak untuk menjadi pejuang Islam ideologis yang tangguh.
Tidaklah mudah melakukan hal itu karena perjuangan sudah mereka tanamkan kepada anak-anaknya selama dalam kandungan. Dan saat ini, mereka harus mampu bersaing dengan perkembangan dunia digital. Karena ibu ideologis dituntut untuk serba tahu, pintar dan ikut mengerti perkembangan digital.
Allah Swt. berfirman: "Sesungguhnya agama (yang benar) di sisi Allah hanyalah Islam" (TQS. Ali ‘Imran [3]: 19)
Permasalahan ini terjadi karena jauh dari Islam, serta kurangnya pemahaman ideologi Islam yang mereka dapatkan. Maka dari itu, mari kembali kepada hukum Islam.
Dengan meneguhkan keimanan kita serta genggam erat putra-putri kita dengan standar pendidikan syariat Islam agar mereka terhindar dan terjaga dari media digital dan ujian akhir zaman. Serta menegakkan dan mengembalikan kehidupan Islam yang telah lama hilang dan menyampaikan risalah dakwah Islam hingga penjuru dunia.. Wallahualam bissawab. [Dara/MKC]
Ermawati


