Game Online Picu Kekerasan dan Pembunuhan
Surat PembacaRuang digital saat ini dikuasai oleh kapitalisme global
yang menjadikan keuntungan sebagai tujuan utama
_________________________
KUNTUMCAHAYA.com, SURAT PEMBACA - Maraknya game online dengan konten kekerasan kini tidak lagi sekadar hiburan, tetapi telah menjelma menjadi salah satu faktor pemicu kerusakan serius pada generasi muda. Berbagai kasus kekerasan menunjukkan adanya keterkaitan dengan game online yang dimainkan secara intens tanpa kontrol.
Game Online Pemicu Kekerasan
Salah satu peristiwa memilukan di Medan mengejutkan masyarakat luas. Seorang anak berusia 12 tahun tega menghabisi nyawa ibu kandungnya dengan 26 luka tusukan. Kepolisian mengungkap bahwa pelaku menyimpan rasa sakit hati setelah game online yang dimainkannya dihapus.
Tindakan tersebut dipengaruhi oleh berbagai faktor, mulai dari pola pengasuhan orang tua yang keliru hingga paparan platform digital, khususnya game online yang menampilkan kekerasan. Kasus serupa juga terjadi di Batam, ketika seorang siswa SMP mengancam akan meledakkan sekolahnya setelah meniru pola komunikasi dalam game, karena menganggap ancaman tersebut hanyalah bagian dari permainan semata. (Kompas.com, 29-12-2025)
Game online dengan muatan kekerasan sangat mudah diakses anak-anak dan remaja. Paparan visual brutal, normalisasi pembunuhan, serta kompetisi tanpa batas berpengaruh kuat terhadap emosi, kejiwaan, dan kesehatan mental. Anak yang belum matang secara psikologis rentan meniru, menginternalisasi, bahkan mempraktikkan kekerasan yang ia anggap wajar karena terbiasa dilihat di layar.
Generasi Digital Menggiring Generasi
Kasus ini menunjukkan bahwa platform digital sejatinya tidaklah netral. Di balik tampilan game yang menarik dan adiktif, terselip nilai-nilai yang merusak akal sehat, empati, dan fitrah kemanusiaan. Kekerasan dikemas sebagai hiburan, pembunuhan dijadikan misi, dan kemenangan diukur dari seberapa banyak lawan yang dieliminasi.
Ruang digital saat ini dikuasai oleh kapitalisme global yang menjadikan keuntungan sebagai tujuan utama. Industri game berlomba menciptakan produk yang paling adiktif demi meraup keuntungan sebesar-besarnya, tanpa memedulikan dampaknya terhadap generasi dan kehidupan manusia. Anak-anak dan remaja menjadi pasar empuk yang dieksploitasi secara sistematis.
Ironisnya, negara tampak tidak berdaya menghadapi arus kerusakan ini. Regulasi lemah, pengawasan minim, dan perlindungan terhadap generasi sering kali kalah oleh kepentingan ekonomi dan industri. Akibatnya, konten kekerasan tetap bebas beredar, sementara dampak buruknya ditanggung oleh keluarga dan masyarakat.
Pengelolaan Digital dalam Islam
Dalam Islam, negara memiliki kewajiban syar’i untuk menjaga agama, jiwa, akal, keturunan, dan harta rakyatnya. Berdasarkan sabda Rasulullah saw.,
“Sesungguhnya imam (penguasa) adalah raa’in (pengurus) dan ia bertanggung jawab terhadap (rakyat) yang dipimpinnya.” (HR. Bukhari)
Perlindungan generasi dari segala bentuk kerusakan, termasuk kerusakan akibat konten digital yang berbahaya, merupakan amanah yang tidak boleh diabaikan. Negara tidak boleh berposisi netral, apalagi tunduk pada kepentingan kapitalisme global.
Hegemoni ruang digital oleh kapitalisme harus dilawan oleh seorang kedaulatan digital yang berpihak pada keselamatan manusia, bukan semata keuntungan. Negara wajib mengatur, menyaring, dan menutup akses terhadap konten yang merusak akal dan moral generasi.
Lebih dari itu, kerusakan generasi hanya dapat dicegah secara menyeluruh melalui penerapan tiga pilar perlindungan yaitu ketakwaan individu yang membentuk kontrol diri dan kesadaran akan halal haram, kontrol masyarakat yang saling menasihati dan mencegah kemungkaran, dan perlindungan negara yang menegakkan aturan dan sistem secara tegas.
Ketiga pilar ini hanya dapat berjalan efektif apabila diterapkan dalam sistem politik, ekonomi, pendidikan, pergaulan sosial, dan budaya yang berlandaskan Islam. Tanpa perubahan sistemik, upaya parsial hanya akan menjadi tambalan yang tidak menyelesaikan akar masalah.
Sudah saatnya persoalan ini dipandang sebagai masalah serius yang menuntut solusi mendasar, bukan sekadar imbauan atau pembatasan semu. Hanya Islam yang menawarkan solusi komprehensif untuk melindungi generasi dan menjaga kemanusiaan dari kehancuran. Wallahualam bissawab. [GSM/MKC]
Elsa Nurraeni


