Eksistensi Isra*l dan Ilusi Pembebasan P4lestina
Opini
Isra*l merupakan entitas yang dibentuk negara adidaya untuk melakukan penjajahan
menolak perdamaian, dan memperluas kekuasaannya
_________________________
Penulis Amriane Hidayati
Kontributor Media Kuntum Cahaya
KUNTUM CAHAYA.com, OPINI - Luka P4lestina itu masih menganga, kondisinya kian terpuruk dan mengkhawatirkan. Pendudukan, pembantaian, dan krisis kemanusiaan yang menimpa warga P4lestina tak kunjung usai. Sementara, tidak ada solusi nyata dari para pemimpin dunia.
Menurut beberapa sumber medis, jumlah korban tewas akibat agresi Isra*l di Jalur G4za sejak Oktober 2023 telah mencapai 71.269 orang, sementara 171.232 lainnya mengalami luka-luka. (antaranews.com, 31-12-2025)
Bahkan baru-baru ini, pemerintah Israel mengambil keputusan kontroversial dengan mencabut izin operasional 37 organisasi kemanusiaan internasional yang bekerja di G4za dan Tepi Barat. Dengan alasan tidak memenuhi persyaratan berdasarkan aturan pendaftaran terbaru. (tempo.com, 31-12-2025)
Sementara itu, kecaman global pun terus bermunculan menanggapi keputusan pemerintah Isra*l ini. Pasalnya, keputusan ini dinilai sebagai hambatan serius yang akan memperburuk krisis kemanusiaan di wilayah P4lestina sebab organisasi-organisasi tersebut berperan penting dalam memberikan bantuan pelayanan medis, bantuan pangan, pelayanan darurat, serta perlindungan sipil di tengah agresi yang masih berlangsung.
Penderitaan P4lestina Terus Berlanjut
Penderitaan P4lestina niscaya akan terus berlangsung selama negara Israe*l tetap eksis, baik diakui atau pun tidak oleh dunia sebab Isra*l akan terus mewujudkan cita-citanya untuk mendirikan negara Isra*l Raya dan menguasai politik, ekonomi dunia dengan segala cara. Inilah tujuan Isra*l sejak awal, dengan jalan melakukan pendudukan paksa dan perampasan tanah atas P4lestina.
Isra*l merupakan entitas yang dibentuk negara adidaya untuk melakukan penjajahan, menolak perdamaian, dan memperluas kekuasaannya. Oleh karena itu, selama pemimpin negeri-negeri muslim membiarkan Isra*l tetap eksis, sama saja dengan membiarkan P4lestina menderita selamanya.
Maka berbagai upaya perdamaian pun dilakukan oleh negara-negara PBB untuk mengakhiri penderitaan P4lestina, mulai dari gencatan senjata hingga menyerukan kemerdekaan. Namun, sering kali berakhir dengan pengkhianatan yang dilakukan Israel dan sekutunya.
Selain itu, solusi dua negara yang ditawarkan dunia internasional yang dipimpin AS selama ini juga terbukti gagal dalam menyelesaikan permasalahan P4lestina. Sebaliknya, berbagai tawaran penyelesaian yang dipimpin AS hanya memposisikan P4lestina ke dalam jurang penderitaan yang makin dalam.
Termasuk retorika diplomatik dunia yang sekadar mengutuk atau memohon kebaikan Isra*l untuk membuka bantuan kemanusiaan, nyatanya tak cukup membebaskan penderitaan P4lestina sebab P4lestina tidak hanya butuh bantuan pangan, pakaian dan medis saja, tetapi butuh bantuan militer lengkap untuk mengusir penjajahan Isra*l.
Solusi Islam dan Urgensi Persatuan Umat
Kita menyaksikan hari ini umat Islam jumlahnya sangat banyak, tetapi begitu rapuh dan tak berdaya di hadapan musuh-musuh Islam. Kita tidak mampu menolong saudara-saudara kita yang tertindas, mengapa? Karena keadaan umat Islam saat ini terpecah belah oleh batas-batas wilayah yang diterapkan sistem kapitalis saat ini.
Maka kita menyaksikan hari ini bagaimana para penguasa negeri muslim melakukan pengkhianatan terhadap saudara muslimnya sendiri, yakni diam menyaksikan pembantaian demi pembantaian saudaranya di P4lestina tanpa mampu mengirimkan bantuan militernya. Karena para penguasa muslim saat ini memandang persoalan P4lestina sekadar isu kemanusiaan, bukan persoalan umat.
Padahal sejatinya ini adalah persoalan kedaulatan dan pembelaan umat Islam terhadap penjajahan. Semua ini terjadi dikarenakan ketiadaan satu kepemimpinan umat Islam yakni Khil4fah, yang dulu pernah menyatukan umat Islam di seluruh dunia dan memiliki kedaulatan.
Kondisi umat muslim saat ini jumlahnya banyak, namun tidak memiliki kekuatan. Keadaan ini telah disebutkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadist berikut :
“Hampir-hampir umat-umat lain mengeroyok kalian (umat Islam) sebagaimana orang-orang yang makan memperebutkan piring besar mereka". Sebagian sahabat berkata: "apakah ketika itu kita sedikit wahai Rasulullah?" Nabi menjawab: "Bahkan ketika itu kalian sangat banyak. Namun kalian seperti buih di aliran air. Dan Allah akan mencabut rasa takut dari dada musuh-musuh kalian terhadap kalian. Dan Allah akan menimpakan wahn (kelemahan) di dalam hati kalian”. Sebagian sahabat bertanya: "Wahai Rasulullah, apakah wahn itu?”. Nabi menjawab: “Cinta dunia dan takut menghadapi mati." (HR. Abu Dawud no. 4297)
Maka fakta ini seharusnya memberikan kesadaran kepada kita semua umat muslim, bahwasanya penderitaan P4lestina akan berakhir ketika umat Islam bersatu dalam satu kepemimpinan politik yang kuat, yaitu dalam naungan Khil4fah yang berjalan di atas syariat Islam untuk kemudian menjalankan hukum Allah Swt. dalam mengatur kehidupan seluruh kaum muslimin. Karena pemimpin dalam Islam adalah junnah (perisai) bagi rakyatnya. Dengan cara ini, para penjajah akan menghadapi lawan yang sesungguhnya.
Sebagaimana dahulu di masa kejayaan Daulah Islam tanah P4lestina menjadi bagian dari negeri Syam yang telah ditaklukkan oleh pasukan kaum muslim di masa Khalifah Umar bin Khattab sehingga tanah P4lestina menjadi tanah milik umat Islam. Maka sudah sepatutnya kaum muslim menguatkan perjuangannya untuk membebaskan tanah kaum muslim tersebut dengan cara bersatu dan berjuang menegakkan kembali Daulah Islam di tengah umat dan dunia internasional dengan jalan amar makruf nahi mungkar.
Persatuan umat dan urgensi kepemimpinan yang satu di bawah naungan Islam merupakan solusi nyata bagi persoalan P4lestina dan negeri-negeri muslim yang kini tertindas. Tanpa persatuan umat dan perubahan struktural tersebut, maka pembebasan P4lestina hanyalah ilusi dan akan menjadi penderitaan yang tak kunjung usai. Wallahualam bissawab. [GSM/MKC]


