Alt Title

Tahun Baru Makna Baru: Kita Usahakan Lagi

Tahun Baru Makna Baru: Kita Usahakan Lagi



Dengan mengkaji Islam kafah

remaja muslim akan dibina sehingga kukuh akidahnya

______________________________


Penulis Siska Juliana 

Tim Media Kuntum Cahaya 


KUNTUMCAHAYA.com, REPORTASE – Tahun baru kembali menyapa dan lagi-lagi mayoritas masyarakat merayakannya dengan foya-foya. Lantas, bagaimana pandangan Islam mengenai hal tersebut?


Untuk menjawab rasa penasaran itu, Komunitas Smart With Islam mengadakan kajian yang bertajuk “Tahun Baru Makna Baru: Kita Usahakan Lagi” pada Ahad, 18 Januari 2026. Kegiatan ini dihadiri oleh puluhan pelajar dan mahasiswa area Kota Bandung, Jawa Barat. 


Para peserta antusias mengikuti acara ini dari awal hingga akhir. Adanya sesi tanya jawab dan silah ukhuwah bersama peserta menambah pemahaman para remaja muslimah yang menghadiri acara ini. 


Teh Nandiana selaku pemateri memaparkan fakta remaja saat menyambut tahun baru. Tahun baru dilalui dengan foya-foya. Padahal tahun baru bukan budaya Islam. 


"Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka." (HR. Ahmad dan Abu Dawud)


Perilaku negatif pada remaja disebabkan oleh hidup tanpa punya tujuan yang akhirnya mengikuti tren. Gaya hidup sekuler dengan slogan YOLO, FOMO, waktu muda untuk senang-senang, sedangkan mengkaji Islam menunggu waktu tua. Cuek dengan urusan orang lain, akhirnya bersifat individualistis


Contohnya, di sini kita bisa merayakan tahun baru, sementara saudara kita di Sumatra dan Aceh sedang menderita akibat bencana banjir bandang dan longsor. Kita bisa hidup nyaman, di sisi lain masih banyak masyarakat yang miskin dan terjebak kebodohan karena putus sekolah. 


Remaja muslim seharusnya: 


Pertama, memiliki tujuan hidup yang jelas.


Kedua, menuntut ilmu karena ilmu akan mendatangkan kemuliaan di dunia dan akhirat.


Dengan mengkaji Islam kafah, remaja muslim akan dibina sehingga kukuh akidahnya dan memiliki pola pikir serta pola sikap Islam (kepribadian Islam).


Nasihat Imam Syafi'i dalam kitab Diwan:


"Eksistensi seorang pemuda -Demi Allah- adalah dengan ilmu dan ketakwaan. Jika keduanya tidak ada padanya, maka tidak ada jati diri padanya." 


Sebagaimana firman Allah dalam QS. Al-Hasyr (59): 18, “Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat). Bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan.”


Ketiga, peduli terhadap umat, hidup dan berjuang untuk kebangkitan umat. 


Menjadi problem solver berbagai persoalan umat, termasuk problem pribadinya. Mereka yakin hanya dengan Islam kafah, seluruh masyarakat akan merasakan keamanan, perlindungan, ketenteraman, serta kesejahteraan.


“Tahun baru saatnya untuk upgrade iman, upgrade tsaqafah, dan upgrade skill,” pungkasnya.