Bencana Banjir Belum Usai, Patutkah Pesta Tahun Baru?
Surat PembacaDi tengah penderitaan yang belum berakhir, muncul pertanyaan
patutkah masyarakat di wilayah yang tidak terdampak bereuforia dengan kembang api dan petasan menyambut tahun baru 2026?
_________________________
KUNTUMCAHAYA.com,SURAT PEMBACA - Duka banjir belum usai. Sejak akhir November hingga pertengahan Desember 2025, banjir melanda secara serentak wilayah Sumatra Utara, Sumatra Barat, dan Aceh.
Dirilis detik.com 22 Desember 2025 berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) bahwa bencana banjir memakan korban mencapai 1.106 orang meninggal dunia, tujuh ribuan orang luka-luka, ratusan orang dinyatakan hilang, serta lebih dari sepuluh ribu warga mengungsi. Ribuan bangunan rumah terendam. Sejumlah akses logistik terputus akibat rusaknya infrastruktur, bahkan muncul laporan warga meninggal dunia karena kelaparan di tengah keterisolasian.
Perayaan Tahun Baru di Tengah Bencana
Lebih jauh, banjir yang terus berulang bukan semata akibat faktor alam. Alih fungsi hutan tropis menjadi perkebunan sawit skala besar telah merusak keseimbangan ekologis. Deforestasi besar-besaran dilakukan demi kepentingan bisnis pasar global. Hutan yang seharusnya menjadi benteng alami justru direduksi menjadi komoditas ekonomi.
Ironisnya, bencana ini menunjukkan satu fakta penting: negara belum sepenuhnya hadir sebagai pelindung rakyat. Respons yang lambat, distribusi bantuan yang tersendat, serta ketergantungan pada relawan menegaskan lemahnya tata kelola penanganan bencana yang bersifat sistemik, bukan sekadar insidental.
Dalam sistem kapitalistik, alam diposisikan sebagai objek eksploitasi, bukan amanah yang harus dijaga. Ketika daya dukung lingkungan runtuh, rakyatlah yang menanggung dampaknya. Baik dalam bentuk kehilangan tempat tinggal, mata pencaharian, maupun nyawa.
Di tengah penderitaan yang belum berakhir, muncul pertanyaan: patutkah masyarakat di wilayah yang tidak terdampak bereuforia dengan kembang api dan petasan menyambut tahun baru 2026? Jika itu terjadi, kontras ini bukan sekadar persoalan etika sosial, melainkan mencerminkan krisis empati yang lahir dari cara pandang hidup yang terlepas dari nilai-nilai Islam.
Muhasabah di Momen Tahun Baru
Islam memandang negara sebagai raa‘in (pengurus) dan junnah (pelindung). Kekuasaan bukan simbol prestise, melainkan amanah untuk mengurusi kebutuhan rakyat secara menyeluruh. Rasulullah saw. bersabda,
“Imam adalah raa‘in dan ia akan dimintai pertanggungjawaban atas rakyatnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Dalam Islam, penanganan bencana tidak berhenti pada bantuan darurat dan pencitraan sesaat. Negara wajib menjamin pemenuhan kebutuhan dasar rakyat seperti pangan, sandang, papan, kesehatan, dan keamanan, hingga kondisi benar-benar pulih secara bermartabat.
Alhasil, pembiaran terhadap penderitaan rakyat merupakan bentuk kezaliman terhadap amanah kepemimpinan.
Adapun perayaan pergantian tahun dengan kembang api sejatinya tidak memiliki landasan dalam Islam. Ia hanyalah simbol euforia sesaat yang kerap mengaburkan kepekaan sosial.
Seorang muslim dituntut memiliki kesadaran kolektif sebagai satu umat. Rasulullah saw. bersabda, “Perumpamaan kaum mukminin dalam hal saling mencintai dan menyayangi adalah seperti satu tubuh, jika satu bagian sakit, seluruh tubuh ikut merasakan.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini menegaskan bahwa penderitaan saudara sebangsa dan seiman tidak boleh dipisahkan oleh batas geografis. Ketika sebagian rakyat masih berjuang bertahan hidup di pengungsian, pesta kembang api menjadi ironi yang melukai rasa keadilan sosial.
Karena itu, pergantian tahun menuju 2026 semestinya dijadikan momentum muhasabah nasional. Negara harus mengevaluasi sistem pembangunan yang abai terhadap kelestarian alam dan keselamatan rakyat. Masyarakat pun dituntut menahan euforia serta menguatkan solidaritas.
Islam tidak mengajarkan kegembiraan yang lahir dari kelalaian terhadap penderitaan orang lain. Islam menawarkan peradaban yang menempatkan manusia, alam, dan kekuasaan dalam satu bingkai amanah. Selama prinsip ini diabaikan, bencana bukan hanya akan terus berulang, tetapi juga akan terus menyingkap rapuhnya sistem sekularisme kapitalisme yang diadopsi dalam mengelola kehidupan hari ini. Wallahualam bissawab. [GSM/MKC]
Hawilawati


