Alt Title

Ibu Generasi Ideologis: Pilar Kebangkitan Umat di Tengah Sistem Sekuler

Ibu Generasi Ideologis: Pilar Kebangkitan Umat di Tengah Sistem Sekuler




Ibu harus menyiapkan anak-anaknya sebagai abdullah yang taat kepada Allah

khalifah fil ardh yang bertanggung jawab mengelola kehidupan sesuai syariat, serta menjadi bagian khairu ummah

_________________________


Penulis Fatimah Al Fihri

Kontributor Media Kuntum Cahaya


KUNTUMCAHAYA.com, OPINI - Menjadi ibu di era sekarang bukanlah hal yang mudah. Kaum ibu hari ini dituntut berjuang lebih keras dalam mendidik anak terutama di era digital.Seiring masifnya paparan gawai dan media sosial yang memengaruhi pembentukan karakter anak. Peran ibu menjadi lebih berat karena salah satunya melawan kecanduan handphone. (antaranews.com, 22-12-2025)

 
Oleh karena itu, ibu dituntut menjadi sosok yang tangguh, sehat, dan penuh dedikasi dalam mendampingi tumbuh kembang anak. Ibu memiliki peran yang sangat mulia sekaligus strategis dalam Islam. Ia bukan hanya berperan di level domestik saja dalam keluarga, tetapi juga berperan dalam level yang lebih tinggi sebagai pendidik generasi.
 
 
Dari rahimnya kelak, akan lahir generasi yang menentukan arah perubahan umat, apakah tetap berjalan di atas koridor Islam atau justru terseret arus kebatilan. Oleh sebab itu, membicarakan peran ibu sejatinya adalah membicarakan masa depan umat dan peradaban.


Peran Ideal Ibu: Mencetak Generasi Pemimpin dan Penakluk


Peran ideal seorang ibu adalah mencetak generasi pemimpin dan penakluk, yakni generasi yang tidak takut kepada apa pun dan siapa pun kecuali kepada Allah Swt.. Generasi yang berani menyampaikan kebenaran, teguh memegang prinsip Islam, serta tidak tunduk pada tekanan zaman. Mereka adalah generasi visioner yang tujuan hidupnya tidak berhenti pada dirinya sendiri dan urusan dunia, tetapi menembus ke langit menuju surga.


Generasi seperti ini tidak lahir dari pendidikan yang biasa saja dan sekadar mengikuti arus. Ia dibentuk oleh ibu yang memahami bahwa anak bukan hanya amanah biologis, melainkan amanah ideologis. Dari sinilah lahir peran ibu generasi ideologis, yaitu ibu yang memadukan perannya sebagai pendidik anak dengan kewajiban berdakwah.


Dakwah seorang ibu dimulai dari rumah. Ia menanamkan Islam sebagai landasan berpikir, bersikap, dan bertindak. Kesadaran politik Islam menjadi bagian penting dari peran ini karena ibu generasi ideologis memahami bahwa kehidupan manusia diatur oleh sistem. Ia sadar bahwa berbagai persoalan umat mulai dari kemiskinan, ketidakadilan, rusaknya moral, hingga krisis keluarga bukan semata kesalahan individu, tetapi akibat diterapkannya sistem yang menjauh dari syariat Islam.


Dengan kesadaran politik yang tinggi, seorang ibu akan mampu memberikan makna dan nyawa pada perannya. Bagi ibu generasi ideologis, aktivitas mendidik anak tidak lagi sekadar rutinitas, tetapi menjadi bagian dari cita-cita besar yaitu menyiapkan generasi yang kelak akan memimpin umat. Ia paham bahwa pemimpin umat tidak lahir tiba-tiba, melainkan dibentuk sejak dini melalui pendidikan ideologis yang konsisten.


Sejarah Islam memberikan banyak teladan. Ibu Imam Syafi’i mendidik anaknya dengan kesungguhan meski hidup dalam keterbatasan. Ibunda Salahuddin al-Ayyubi menanamkan kecintaan pada Islam dan semangat perjuangan sejak kecil, hingga lahir pemimpin besar pembebas Baitul Maqdis. Semua ini menunjukkan bahwa ibu yang memiliki visi ideologis mampu melahirkan generasi yang mengubah sejarah.


Tantangan Peran Ibu di Tengah Sistem Sekuler


Namun, peran mulia ini menghadapi tantangan besar dalam sistem sekuler. Serangan pemikiran dan budaya datang dari berbagai arah. Narasi kesetaraan gender versi Barat, HAM liberal, dan moderasi beragama membentuk lingkungan yang merusak cara pandang umat. Menjadi ibu tidak lagi dipahami sebagai amanah strategis, melainkan dipersempit menjadi pilihan personal yang bisa ditinggalkan.


Serangan ini makin menguat melalui dunia digital. Media sosial, konten hiburan, dan informasi tanpa filter dengan mudah menguasai ruang keluarga. Nilai-nilai liberal dinormalisasi, gaya hidup bebas dipromosikan, sementara Islam dipinggirkan sebagai urusan privat. Tanpa kesadaran ideologis, ibu akan kesulitan membentengi anak-anaknya dari arus ini.


Di sisi lain, sistem ekonomi kapitalisme membuat peran perempuan makin berat. Tekanan ekonomi memaksa kaum ibu memikul beban ganda. Negara tidak hadir menjamin kebutuhan dasar keluarga, sementara perempuan didorong masuk ke pasar kerja demi menopang ekonomi. Akibatnya, peran ibu sebagai pendidik utama generasi menjadi terpinggirkan.


Kondisi ini merupakan bagian dari kerusakan yang lahir dari sistem buatan manusia. Allah Swt. mengingatkan:

 

“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS. Ar-Rum: 41)


Kerusakan keluarga, generasi, dan peran ibu yang kita saksikan hari ini tidak berdiri sendiri, tetapi merupakan konsekuensi dari penerapan sistem sekuler yang menjauhkan kehidupan dari aturan Allah.


Peran Riil Ibu Saat Ini: Dari Rumah hingga Perubahan Sistem


Di tengah kondisi tersebut, peran riil ibu harus dimulai dengan menetapkan visi pendidikan yang jelas. Ibu harus menyiapkan anak-anaknya sebagai abdullah yang taat kepada Allah, khalifah fil ardh yang bertanggung jawab mengelola kehidupan sesuai syariat, serta menjadi bagian khairu ummah yang membawa kebaikan bagi umat manusia.


Visi ini tidak akan bermakna tanpa keteladanan. Karena itu, ibu harus menjadi contoh nyata dalam kehidupan sehari-hari. Keteguhan akidah, kesungguhan beribadah, keberanian bersikap terhadap kebatilan, serta kepedulian terhadap urusan umat adalah pendidikan paling efektif bagi anak.


Namun, peran ibu tidak cukup jika berhenti pada ranah keluarga. Kerusakan yang bersifat sistemik menuntut solusi yang juga sistemik. Selama sistem kapitalisme sekuler tetap diterapkan, peran ibu akan terus tergerus dan generasi akan terus menjadi korban. Oleh karena itu, upaya mencetak generasi ideologis harus dibarengi dengan perjuangan untuk mengubah sistem rusak ini menuju sistem Islam yang benar dan menyejahterakan.


Menjadi ibu generasi ideologis berarti berdiri di barisan terdepan penjaga arah umat. Dari rumah-rumah yang dipenuhi kesadaran Islam, akan lahir generasi pemimpin yang tidak hanya saleh secara personal, tetapi juga siap memimpin umat keluar dari krisis menuju kehidupan yang diridai Allah Swt.. Wallahualam bissawab. [GSM/MKC]