Alt Title

Pinjol Jebakan Alogaritma Kapitalisme

Pinjol Jebakan Alogaritma Kapitalisme



Berbagai jenis jeratan kapitalisme makin canggih

Pinjol adalah bukti nyata produk finansial dalam sistem kapitalis yang mengedepankan keuntungan, kepemilikan pribadi, dan pasar bebas


______________________


KUNTUMCAHAYA.com, SURAT PEMBACA - Sungguh sangat menyedihkan menjadi generasi gen Z di masa perkembangan digital. Mereka menghadapi kehidupan yang serba instan dan terbuka. Di tengah segala kemudahan informasi, apabila tidak dibentengi dengan sikap yang kritis, akhirnya mereka masuk dalam jebakan alogaritma, yang mana akan menggiring mereka menjadi generasi pembebek yang berkiblat pada Barat. 


Gen Z yang tenggelam dengan dunia sosial media sudah terdidik menjadi personal yang haus akan validasi dan eksistensi. Akhirnya, muncul sikap flexing dan konsumtif sebagai bentuk tuntutan yang menjadi tren di kalangan Gen Z. Sikap inilah yang mendorong mereka untuk melakukan pinjaman online.


Kepala Eksekutif Pengawas Perilaku Pelaku Usaha Jasa Keuangan, Edukasi, dan Perlindungan Konsumen OJK Friderica Widyasari Dewi menyebut tak sedikit mahasiswa yang terjerat pinjol karena gaya hidup. Desakan untuk tampil nyentrik mengikuti zaman, seperti pakaian, kuliner harus sesuai tren, membuat Gen Z merasa tidak aman (insecure) dan akhirnya mengambil cara instan, yaitu pinjol atau layanan paylater tanpa pertimbangan risiko yang matang.


Mengingat pinjaman online layanan akses kredit yang sangat mudah dan cepat, menghilangkan hambatan birokrasi perbankan konvensional. Kemudahan ini menjadi solusi instan bagi individu yang ingin memenuhi gaya hidup konsumtifnya, bahkan ketika mereka tidak memiliki dana tunai yang cukup. Menurut data OJK, angka rekening pinjol yang berusia 19-34 tahun mengalami tren kenaikan. Sebelumnya berkisar rekening per 7,7 juta per Februari 2024 menjadi 8 juta rekening pada April 2024. (detik.com, 27-06-2024)


Langkah pemerintah hingga detik ini belum mampu menyelesaikan ke akar permasalahan. Heri Sutadi dari Direktur Eksekutif ICT Institute menuturkan terkait pemberantasan judi online di Indonesia masih belum memberikan solusi. Menurutnya, pemblokiran yang dilakukan juga tidak mampu menyelesaikan sampai ke akar permasalahan.


Heru mengibaratkan Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) yang mengusir pedagang kaki lima. Bila Satpol PP tidak bekerja, pedagang kali lima akan berjualan lagi. “Jadi harus dipantau dan dijaga terus-menerus, jangan kendor untuk menutup situs serta aplikasi perjudian meski dengan label game online,” tutur Heru. (tempo.com,  21-10-2023)


Pinjol Jeratan Kapitalisme   


Generasi yang hidup saat ini adalah mereka yang terjebak dengan teknologi canggih. Kampanye kebebasan dan konsumtif menjadi tontonan sehari-hari telah memotivasi gaya hidup mereka makin hedon mengejar kenikmatan dunia yang tiada ujungnya. Pandangan hidup yang makin bebas menjauhkan agama dari kehidupan. Mengakibatkan generasi kita hidup dalam kehampaan, masuk ke dalam arahan Barat.


Kehidupan tanpa adanya filter atau standar agama sejatinya bertentangan dengan fitrah manusia. Karena mereka terjebak dengan khayalan kebahagiaan yang tidak akan pernah memberi ketenangan. Jiwa mereka dipenuhi standar hidup yang tidak akan pernah ada habisnya. Hal ini diperburuk dengan besarnya lonjakan biaya hidup yang makin mencekik, menyebabkan makin banyak orang yang terjerat pinjol. 


Berbagi jenis jeratan kapitalisme makin canggih. Pinjol adalah bukti nyata produk finansial dalam sistem kapitalis yang mengedepankan keuntungan, kepemilikan pribadi, dan pasar bebas. Di mana modal mencari keuntungan melalui pinjaman. Sistem keuangan kapitalisme yang berbasis pada keuntungan ribawi yang saat ini tumbuh pesat. Bahkan mengeksploitasi kebutuhan finansial Gen Z dengan bunga tinggi dan praktik penagihan agresif demi memaksimalkan keuntungan.


Akhirnya, banyak dari kalangan usia produktif yang tidak mampu membayar pinjol tertekan, depresi, serta berakhir dengan kematian yang tragis. Inilah konsekuensi diterapkannya kapitalisme. Sistem kerja dari kapitalisme sangat kejam. Tidak melihat siapa lawan dan kawan yang ada adalah tujuan untuk mencapai keuntungan. 


Islam Melahirkan Generasi Mulia 


Selama Islam diterapkan dalam sebuah negara, Islam mampu menghasilkan generasi hebat yang bisa melanjutkan estafet emas peradaban. Dalam pandangan Islam, masa remaja adalah usia produktif untuk berkarya di jalan dakwah. Fase di mana manusia dalam keadaan kondisi fisik yang sedang berkembang pesat, serta jiwa semangat yang besar mencari ilmu untuk mewujudkan ketaatan kepada Allah Swt..


Hal ini sesuai dengan hadis yang berbunyi: ‘Abdullah ibnu Umar bahwasanya Nabi saw. telah bersabda: “Sesungguhnya Allah mencintai anak muda yang menghabiskan masa mudanya dalam ketaatan kepada Allah ‘azza wa jalla.”


Akidah Islam melahirkan aturan kehidupan. Salah satunya adalah sistem pendidikan Islam yang berorientasi untuk melahirkan generasi yang memiliki kepribadian Islam. Mengarahkan mereka menjadi manusia yang taat kepada Allah Swt..


Islam mengarahkan setiap generasi hidup dalam rida-Nya. Mempunyai standar yang jelas antara halal dan haram sehingga mereka tidak terjebak dengan nafsu sesaat yang menjerumuskan ke dalam kemaksiatan.


Islam tidak menjadikan standar bahagia dari kepuasan materi, tetapi hidup dalam aturan Allah yang akan menghantarkan manusia pada ketenangan. Islam menuntun setiap manusia menjadi makhluk yang bermanfaat bagi orang lain. Karena hal tersebut akan mendekatkan pada posisi mulia di hadapan Allah. Sesuai dengan Allah Swt. sebagai tujuan.


Rasulullah saw.: “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia" (HR. Ahmad Ath- Thabrani ad-Daruqutni)


Apabila generasi muda menjadikan Islam sebagai acuan hidupnya, dia akan hidup dalam kemuliaan. Bukti sejarah tidak bisa terbantahkan. Bagaimana Islam mampu melahirkan generasi yang telah memberikan sumbangan terhadap peradaban umat manusia. Banyak ilmuwan di berbagai ilmu pengetahuan yang diakui dunia seperti Ibnu Sina di bidang kedokteran. Sampai saat kini kita masih mengenalnya sebagai sosok intelektual dunia.


Negara memberikan perannya sebagai pelaksana hukum Islam. Dengan menyelenggarakan pendidikan gratis yang berkualitas serta menanamkan dasar-dasar Islam sehingga generasi akan menjadi orang yang memiliki pengetahuan luas dan berkepribadian Islam. Negara juga memberikan sanksi yang sangat keras terhadap pelaku judi. Karena sistem keuangan ribawi bertentangan dengan syariat Islam. Wallahualam bissawab. [Dara/MKC]

 

Anastasia, S.Pd.