Alt Title

Ilusi Sistem Kapitalisme Melahirkan Pemimpin Nir Empati

Ilusi Sistem Kapitalisme Melahirkan Pemimpin Nir Empati



Di negeri ini bahwasanya para pejabat pemerintah lebih mengutamakan

kenyamanan kehidupan untuk para pengusaha besar daripada memberikan kenyamanan pada rakyat kecil


______________________


Penulis Harnita Sari Lubis 

Kontributor Media Kuntum Cahaya 


KUNTUMCAHAYA.com, OPINI - Bupati Aceh Selatan Mirwan MS viral di media sosial karena bupati tersebut lebih memilih menunaikan ibadah umrah daripada membantu rakyatnya yang sedang terkena banjir bandang di Aceh Selatan.


Berdasarkan berita itu, bupati tersebut diberhentikan sementara selama 3 bulan dari Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri). Mendagri yaitu Tito Karnavian menyayangkan tindakan Bupati Aceh Selatan tersebut karena tidak membantu masyarakat Aceh Selatan yang terkena dampak parah akibat longsor dan banjir. (IDN.Times, 09-12-2025)


Bupati Aceh Selatan tersebut beralasan sudah memiliki nazar untuk umrah ke tanah suci pada bulan Desember ini sehingga tidak bisa ditunda. Netizen ramai-ramai mencibir dan menyayangkan sikap bupati tersebut karena menurut masyarakat seharusnya seorang pemimpin bertanggung jawab terhadap daerah yang dipimpinnya. Apa pun alasannya, tidak boleh meninggalkan daerah yang dipimpinnya di saat terjadi bencana alam yang melumpuhkan daerah tersebut.


Permasalahan ini sedang menjadi perbincangan hangat di kalangan masyarakat pada saat ini. Masyarakat sepertinya sudah tidak percaya lagi kepada para pemimpin di negeri ini sebab mereka hanya bisa beretorika dan berjanji akan menyejahterakan masyarakat ketika mencalonkan sebagai pemimpin di daerahnya. Namun, ketika sudah menjabat pemimpin-pemimpin di negeri ini melupakan janji-janjinya. 


Beginilah nasib masyarakat di negeri ini ketika yang memimpin menerapkan sistem kapitalis sekuler yang memisahkan agama dari kehidupan. Juga menerapkan hukum dan peraturan berdasarkan buatan manusia sehingga yang berkuasa di negeri ini adalah para pengusaha yang mempunyai modal besar. Para pengusaha ini bisa menyetir para pejabat pemerintahan untuk bisa memuluskan jalan usaha mereka tanpa memikirkan dampaknya terhadap masyarakat banyak.


Di sistem kapitalis ini, para pejabat tersebut lebih memikirkan bagaimana uang sebanyak-banyaknya bisa masuk ke kantongnya dan keluarganya. Sudah menjadi rahasia umum di negeri ini bahwasanya para pejabat pemerintah lebih mengutamakan kenyamanan kehidupan untuk para pengusaha besar daripada memberikan kenyamanan pada rakyat kecil. Adapun dampak dari kebijakan itu semua yang menjadi korban adalah rakyat kecil yang notabene lebih banyak jumlahnya daripada para pengusaha besar.


Terbukti ketika diberikan izin penebangan pohon dan penambangan besar-besaran yang dilakukan para pengusaha. Akhirnya yang tidak diinginkan pun terjadi, yaitu masyarakat menjadi korban bencana alam longsor dan banjir. Sampai sekarang bantuan pun sulit didapatkan dari pemerintahan. Begitulah ketika kapitalis memimpin, sistem yang rusak dan bobrok harusnya ditinggalkan masyarakat.


Adapun solusi yang harus diemban masyarakat adalah solusi Islam. Kenapa solusi Islam? Karena Islam adalah agama dan mabda, yaitu agama yang diturunkan Allah untuk beribadah kepada-Nya beserta peraturan perundang-undangan untuk umat. Agar umat ini tidak salah jalan dan tersesat. Hanya Allah Sang Pencipta yang mengetahui bagaimana aturan yang tepat untuk hamba-Nya yang diciptakannya. 


Dalam Al-Qur'an, Allah telah menjelaskan secara rinci bagaimana bumi diciptakan Allah beserta isinya juga peraturan-peraturan untuk manusia dan alam ini. Namun, manusia mengingkari ayat-ayat Allah itu sehingga Allah telah memperingatkan manusia dalam Al-Qur'an surah Ar-Rum ayat 41 yang artinya: "Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)."


Adapun peraturan-peraturan agar manusia menjaga alam dan bumi ada di dalam surah Al-A'raf ayat 56 yang artinya: "Janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi setelah diatur dengan baik. Berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut dan penuh harap. Sesungguhnya rahmat Allah sangat dekat dengan orang-orang yang berbuat baik."


Satu lagi, Allah memerintahkan kepada para pemimpin agar memimpin rakyatnya dengan adil sesuai dengan firman Allah dalam Al-Qur'an surah As-Shad ayat 26 yang artinya: "Allah berfirman,“Wahai Daud, sesungguhnya Kami menjadikanmu khalifah (penguasa) di bumi. Maka, berilah keputusan (perkara) di antara manusia dengan hak dan janganlah mengikuti hawa nafsu karena akan menyesatkan engkau dari jalan Allah. Sesungguhnya orang-orang yang sesat dari jalan Allah akan mendapat azab yang berat, karena mereka melupakan hari Perhitungan.”


Maka dari itu, sudah jelas bahwa Allah sudah memberikan paket komplit kepada hambanya dengan menciptakan manusia dan alam semesta lengkap dengan peraturan-peraturannya dalam Al-Qur'an agar menjadi rahmat bagi semesta alam. Tidak akan terjadi bencana alam seperti sekarang ini yang mengakibatkan banyak nyawa melayang sia-sia dan banyak rumah habis tersapu air bah.


Adapun aturan-aturan ini hanya bisa diterapkan di dalam naungan Daulah agar hukum-hukum sesuai dengan syariat Islam dapat terlaksana dengan baik dan benar. Ketika Daulah tegak pada saat Khil4fah Turki Utsmani dikabarkan tidak ada seorang pun khalifah yang pergi berhaji apalagi umrah. Karena perjalanan jauh untuk sampai ke Mekkah memerlukan waktu yang berbula-bulan untuk sampai ke sana.


Pada saat itu, suasana negara kekhilafahan Turki Utsmani dibayang-bayangi oleh dua negara besar, yaitu Portugal dan Spanyol pada tahun 1517. Yang mana bisa saja suatu waktu akan mengambil alih wilayah kekhilafahan Turki jika khalifahnya pergi berhaji. Karena saat itu, berkecamuk perang antara wilayah besar.


Wilayah kekhilafahan Turki Utsmani termasuk salah satu wilayah yang diperebutkan oleh bangsa-bangsa besar pada saat itu sehingga tidak akan aman negaranya jika khalifahnya pergi berhaji. Harusnya, para pemimpin kita belajar dari sejarah kegemilangan Islam tersebut, yaitu lebih memilih memikirkan rakyatnya daripada ibadah-ibadah untuk dirinya sendiri saja karena seorang pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban terhadap yang dipimpinnya. Wallahualam bissawab. [Dara/MKC].