Alt Title

Banjir Bandang Bukan Fenomena Alam tapi Kerakusan Manusia

Banjir Bandang Bukan Fenomena Alam tapi Kerakusan Manusia



Dengan banyaknya tumpukan gelondongan kayu di laut Sumatra

itu bukan fenomena alam melainkan bukti kejahatan para pemimpin kapitalis


__________________


Penulis Ermawati

Kontributor Media Kuntum Cahaya 


KUNTUMCAHAYA.com, OPINI - Kembali lagi negeri ini berduka, bencana alam terjadi di berbagai wilayah Sumatra Utara, Aceh, dan Padang. Namun sayangnya, di balik bencana ini bukan hanya fenomena alam biasa. Ada tangan-tangan manusia yang rakus dan tamak sehingga bencana ini terjadi.


Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyampaikan data terbaru mengenai bertambahnya jumlah korban jiwa akibat banjir bandang dan tanah longsor di tiga provinsi, yakni Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat. Sejak hari pertama peristiwa kelam itu terjadi, setiap harinya Tim SAR gabungan berusaha mencari para korban hilang yang masih tertimbun tanah. (Kompas.com, 9-12-2025)


Bencana alam memang selalu datang silih berganti apa bila sudah di penghujung tahun. Karena intensitas air hujan yang cukup banyak ditambah air hujan yang turun terus-menerus sehingga air laut dan sungai menjadi naik. Beda halnya dengan bencana banjir bandang yang terjadi di wilayah Sumatra Utara, Aceh, dan Padang semua disebabkan karena ulah tangan manusia yang tamak dan rakus.


Akibatnya, bencana alam tidak bisa terelakkan lagi seperti yang terjadi di Sumatra Utara, Aceh, dan Padang, bahkan tidak hanya itu saja Allah memberikan bukti membukakan tabir kejahatan yang selama ini membohongi rakyat. Dengan banyaknya tumpukan gelondongan kayu di laut Sumatra itu bukan fenomena alam, melainkan bukti kejahatan para pemimpin kapitalis. Allah ingin memberitahu kepada rakyat betapa rusak dan tamaknya para pemimpin negeri ini.


Bahkan, sampai detik ini pun para korban masih banyak yang belum terevakuasi karena banyak jalan yang rusak, lumpur, kayu-kayu besar sehingga masyarakat butuh alat untuk mengangkatnya sedangkan jalan darat rusak parah sehingga harus menggunakan jalur udara membuat bantuan sulit masuk. Namun, tangan dan uluran bantuan dari pemerintah belum juga datang sedangkan korban masih banyak yang tertimbun lumpur, tangis dan jeritan rakyat lalu di mana hati nurani  pemerintah.


Bukankah ini semua perbuatan mereka para penguasa yang tamak dan rakus. Melakukan penebangan hutan secara terus-menerus ini dilakukan demi tujuan mereka yaitu untuk mendapatkan keuntungan lebih besar dengan mengubah hutan menjadi pohon sawit.

 

Bahkan, penebangan hutan ini telah mengantongi izin serta dilindungi oleh aparat setempat. Sungguh tega, di mana hati nurani kalian melakukan kerusakan hanya demi kepentingan pribadi mungkin Allah murka terhadap perbuatan manusia yang rakus dan tamak.


Jika sudah begini, rakyat lagi yang menderita akibat kerusakan hutan yang mereka perbuat. Rakyat yang menjadi tumbal, setelah bencana ini datang kalian lepas begitu saja tanpa empati sedikit pun. Di mana uluran tangan dan bantuan kalian?


Di sana rakyat kelaparan, kedinginan, butuh tempat tinggal karena rumahnya telah kalian hancurkan akibat ulah tangan para penguasa yang zalim. Inilah sistem kapitalis yang rusak sehingga melahirkan para pemimpin yang bobrok yang hanya berpikir untuk kepentingan pribadi bukan untuk rakyat.


Penguasa zalim tamak dan rakus mudahnya memberikan izin penebangan hutan tanpa memikirkan kembali sebab akibat apabila melakukanya kerusakan pada hutan. Karena, hutan adalah sumber kehidupan bagi makhluk hidup tidak hanya manusia, dan masalah ini tidak dapat selesai hanya dengan ganti kebijakan baru.


Allah Swt. berfirman: "Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan oleh ulah manusia, supaya Allah menimpakan kepada mereka sebagian dari akibat perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)." (TQS. Ar-Rum [30]: 41)


Lain halnya bila sistem Islam yang digunakan. Hutan adalah kekayaan alam milik umum artinya haram bagi pemimpin untuk memiliki secara pribadi atau memperjualbelikannya kepada asing. Karena milik umum artinya semua hasil dari hutan milik rakyat untuk kebutuhan rakyat, baik pemimpin dan rakyat wajib menjaganya sebagai rasa wujud syukur kepada Sang Pencipta untuk menjaga keberlangsungan semua makhluk hidup manusia, hewan, dan tumbuhan.


Selain itu, dalam aturan Islam untuk melakukan pembangunan harus memperhatikan kondisi alam sekitar dan lingkungan agar tidak terjadi tumpang-tindih. Karena negara sangat mengutamakan keselamatan rakyatnya apakah pembangunan itu berdampak buruk atau tidak bagi lingkungan dan masyarakat. Negara juga akan selalu hadir dan siap membantu rakyat apabila ada bencana alam.


Sudah saatnya umat sadar dan mampu melihat dengan jernih untuk beralih ke sistem Islam yang Allah ridai. Hanya Islam yang mampu menyelesaikan semua permasalahan yang kita hadapi saat ini. Untuk mendapatkan rida Allah Swt. di dunia dan keberkahan hidup di akhirat serta menjalankan dan menegakkan kembali kehidupan Islam. Alhasil, kehidupan yang aman, damai, dan sejahtera dapat terwujud. Wallahualam bissawab. [Dara/MKC]