Alt Title

Fenomena Generasi Muda Takut Nikah: Luka Ekonomi Kapitalis

Fenomena Generasi Muda Takut Nikah: Luka Ekonomi Kapitalis



Pernikahan yang seharusnya sebagai ladang kebaikan

dan jalan untuk melanjutkan keturunan justru dipandang menjadi beban

______________________


KUNTUMCAHAYA.com, SURAT PEMBACA- Media sosial Threads diramaikan dengan pembahasan anak-anak zaman sekarang lebih takut miskin, daripada takut tidak menikah.


Dikutip dari kompas.com, (13-12-2025) postingan pada Akhir Oktober 2025 tersebut langsung viral hingga banyak sekali disukai lebih dari 12.500 kali dari sebanyak pengguna 207.000 lainnya, dengan kata lain mereka menyukai unggahan dan setuju terhadap pemilik akun tersebut.


Ketakutan Miskin di Sistem Kapitalis


Fenomena generasi muda yang takut menikah menjadi sorotan utama dalam beberapa tahun terakhir. Bahkan banyak dari mereka menilai kestabilan ekonomi jauh lebih penting daripada harus segera menikah. Lonjakan harga kebutuhan, biaya hidup juga ketatnya persaingan kerja menjadi faktor utama. Narasi "marriage is scary" makin memperkuat ketakutan seorang yang akan menikah. Ketakutan miskin dari sistem kapitalisme menjadikan biaya hidup tinggi, pekerjaan sulit dan upah yang rendah


Negara yang harusnya  sebagai regulator cenderung lepas tangan dalam menjamin kesejahteraan rakyat sehingga beban hidup dipikul oleh individu. Kemudian gaya hidup materialis dan hedon tumbuh dari pendidikan sekuler dan pengaruh media liberal. Pernikahan yang seharusnya sebagai ladang kebaikan jalan untuk melanjutkan keturunan, justru menjadi beban dipandang.


Tanggung Jawab Negara dalam Islam 


Dalam Islam, negara bertanggung jawab penuh atas tersedianya lapangan kerja melalui penerapan sistem ekonomi Islam. Setiap laki-laki balig memiliki pekerjaan dengan upah layak. Pengelolaan milkiyyah ammah juga dikelola oleh negara, bukan swasta atau pun asing sehingga hadirnya kembali untuk kesejahteraan masyarakat dan mampu menekan biaya hidup.


Pendidikan berbasis akidah juga berperan membentuk generasi berkarakter sehingga tidak terjebak hedonisme dan materialisme. Mereka justru harus menjadi generasi penyelamat umat. Penguatan institusi keluarga dengan mendorong pernikahan sebagai ibadah dan penjagaan keturunan.


Sebagaimana Allah Swt., berfirman dalam QS. An-Nur: 32, "Dan nikahkanlah orang-orang yang masih membujang di antara kamu, dan juga orang-orang yang layak (menikah) dari hamba-hamba sahaya lelaki dan perempuan. Jika mereka miskin, Allah akan memberikan kemampuan kepada mereka dengan karunia-Nya. Dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya), Maha Mengetahui."


Dengan demikian, penerapan sistem ekonomi Islam dan pendidikan berbasis akidah diharapkan generasi muda dapat memiliki pandangan yang lebih positif tentang pernikahan dan memiliki keberanian untuk membangun rumah tangga yang sejahtera. Wallahualam bissawab. [SM/MKC]

 

Ummu Azzam