Alt Title

Cara Islam Menyolusikan Masalah Sistemik Sampah Plastik

Cara Islam Menyolusikan Masalah Sistemik Sampah Plastik

 


Kepengurusan ini juga termasuk bagaimana negara wajib mengedukasi rakyat terhadap bahaya plastik terutama bagi kesehatan

Bagi lingkungan, sampah plastik sangat sulit diolah dan terurai oleh tanah yang pada akhirnya dapat merusak tanah, mencemari tanah dan sumber air tanah

______________________________


Penulis Lailatul Hidayah

Kontributor Media Kuntum Cahaya


KUNTUMCAHAYA.com, OPINI - Masalah sampah plastik menjadi hal penting untuk segera disolusi. Karena dampak yang ditimbulkan dapat menyebabkan berbagai penyakit bagi manusia maupun makhluk hidup lainnya, jika dibiarkan menjadi sampah yang terus menumpuk.


Mengingat sampah plastik membutuhkan waktu yang lama untuk terurai yaitu sekitar 20-500 tahun lamanya dan telah menjadi kebiasaan masyarakat untuk memanfaatkannya sebagai wadah makanan, minuman, pakaian dan lain sebagainya.


Lantas sebenarnya siapa saja yang harus berperan di dalamnya untuk menuntaskan masalah sampah plastik tersebut? Benarkah hanya peran masyarakat untuk mengurangi penggunaan plastik? 


Pada tahun 2023 saja Indonesia diketahui telah menghasilkan 12,87 juta ton sampah plastik. Dirjen Pengelolaan Sampah, limbah dan B3 Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Rosa Vivien Ratnawati, mengatakan sampah plastik masih menjadi masalah serius yang dihadapi Indonesia.


Rosa mengatakan kondisi tersebut menyebabkan penanganan sampah plastik menjadi fokus dalam Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN) 2024 yang diperingati setiap tanggal 21 Februari. Sampah plastik sebenarnya bukan hanya masalah regional, tetapi sudah global. (katadata.co.id, 7/2/2024)


Dilansir dari Telemed.ihc.id, beragamnya senyawa kimia yang terdapat di dalam sampah plastik tidak hanya berdampak buruk bagi lingkungan, tetapi juga bisa berdampak buruk bagi kesehatan manusia.


Di antaranya yaitu: gangguan pertumbuhan janin dan anak, kerusakan organ dan kanker. Selain berefek pada manusia, hewan juga merasakan dampaknya. Sebagaimana yang dikeluarkan oleh jurnal Science of the Environment yang berjudul “The Plastic Homes of Hermit Crabs in the Anthropoceace”.


Marta Szulkin, seorang ahli ekologi perkotaan dari Universitas Warsawa dan rekan-rekannya menemukan sebanyak 386 kelomang menggunakan cangkang buatan, terutama tutup botol plastik pada punggung mereka atau sepotong lampu bohlam.


Diketahui pula dari penelitian bertajuk Interactions Between Marine Megafauna and Plastic Pollution in Southeast Asia yang dipublish di jurnal Science of The Total Environment pada Mei 2023.


"Dampak dari polusi plastik paling banyak adalah hewan-hewan besar yang ada di laut daripada hewan di udara", kata Dosen di Fakultas Kelautan dan Perikanan Universitas Padjadjaran Buntoro Pasaribu di Museum Macan, Jakarta Barat, Jumat (2/6).


Disebutkan juga bahwa ada dua kasus mengenai polusi plastik yang berdampak langsung pada hewan laut hingga mengakibatkan kematian, yaitu hewan yang terikat sampah jaring nelayan dan hewan yang tidak sengaja mengonsumsi sampah plastik.


Masalah yang ditimbulkan plastik bukan hanya makroplastik saja, namun juga mikroplastik bahkan nanoplastik. Jika proses penguraian plastik tidak berjalan dengan sempurna, maka penguraian plastik akan menghasilkan mikroplastik (partikel kecil) yakni senyawa kimia dan logam berat yang justru lebih berbahaya dan beracun.


Tumpukan sampah plastik membuktikan dua kondisi yakni kelalaian negara dan rendahnya kesadaran rakyatnya akan bahaya plastik. Sistem kapitalisme membuat cara berpikir manusia menjadi sempit yakni hanya mengutamakan keuntungan saja dan kemudahan dari sisi masyarakat.


Mereka memang dimudahkan dengan bahan atau wadah plastik yang harganya lebih murah. Masyarakat juga terbiasa dengan keadaan demikian dikarenakan negara kapitalisme tidak menyediakan teknologi wadah ramah lingkungan. Justru sebaliknya, negara kapitalisme membuka lebar-lebar para pemilik modal pabrik-pabrik plastik untuk terus berproduksi. Sejatinya peran negara tidaklah demikian, negara harus hadir dalam menjalankan fungsi mengurus urusan rakyat. 


Negara yang demikian hanya ada di dalam sistem Islam, dengan negara bernama Daulah Khilafah. Rasulullah saw. pernah bersabda,


Imam (Khalifah) adalah raai’in (pengurus rakyat) dan ia bertanggung jawab atas pengurusan rakyatnya” (HR. Al-Bukhari)


Kepengurusan ini juga termasuk bagaimana negara wajib mengedukasi rakyat terhadap bahaya plastik terutama bagi kesehatan. Bagi lingkungan, sampah plastik sangat sulit diolah dan terurai oleh tanah yang pada akhirnya dapat merusak tanah, mencemari tanah dan sumber air tanah.


Memang bahwa plastik dapat memudahkan manusia dalam hal perkakas dan packaging. Hanya saja, inovasi, dan pengembangan ilmu dalam Khilafah selalu berpatok pada batasan syariat, yakni tidak boleh membuat kerusakan di bumi dan memanfaatkan alam secukupnya. Jadi, inovasi dan pengembangan ilmu bukan soal kemudahan semata demi meraih keuntungan besar seperti kapitalisme.


Allah Swt. berfirman, “Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi sesudah Allah memperbaikinya....(QS. Al-A’raf: 56)


Dalam ayat lain Allah juga berfirman, “Dan kami telah menghamparkan bumi dan menjadikan padanya gunung-gunung dan kami tumbuhkan padanya segala sesuatu menurut ukuran. Dan kami telah menjadikan untukmu di bumi keperluan-keperluan hidup dan (kami menciptakan pula) makhluk-makhluk yang kamu sekali-kali bukan pemberi rezeki kepadanya”. (QS. Al-Hijr: 19-20)


Karena itu selain mengedukasi rakyatnya terhadap sampah, Khilafah akan mengembangkan riset terpadu untuk menemukan teknologi mutakhir. Juga akan menyediakan kemasan alternatif ramah lingkungan maupun teknologi pengolah sampah yang mumpuni. Untuk saat ini sebenarnya telah banyak penelitian terkait degradasi sampah plastik, seperti teknologi yang dikembangkan oleh mahasiswa Brawijaya Malang.


“Dalam alat kami, proses degradasi plastik dilakukan sinar ultraviolet, pemanasan, dan degradasi dengan memanfaatkan mikroorganisme pendegradasi plastik. Dengan adanya perlakuan tersebut, diharapkan proses degradasi limbah plastik PET dapat berjalan lebih cepat bahkan hanya dalam beberapa bulan saja", ujar Dita mewakili timnya.


Tak hanya Universitas Brawijaya, sebenarnya kampus-kampus lain seperti Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) Surabaya, juga telah mengembangkan teknologi degradasi plastik dengan menggunakan teknologi bakteri maupun jamur. Teknologi purwarupa penyaring air tercemar mikroplastik.


Di Universitas Sydney, percobaan degradasi plastik menggunakan jamur Aspergilus terreus dan Engyodontium album membutuhkan waktu 140 hari untuk membuat plastik tersebut terurai. Khilafah tidak akan membiarkan teknologi-teknologi ini hanya sebatas hasil laboratorium semata, tetapi akan merealisasikan secara nyata dalam kehidupan. 


Tentu upaya ini akan membutuhkan biaya besar. Namun bagi Khilafah hal ini bukanlah masalah besar karena khilafah memiliki dana dari pos kepemilikan negara yakni baitulmal. Dana dari pos ini akan dialokasikan Khilafah untuk membantu pendananan inovasi penyediaan bahan alternatif plastik. Dengan begitu rakyat akan tetap dapat menikmati kemudahan teknologi plastik yang ramah lingkungan. 


Karena pada prinsipnya Khilafah fokus pada riayah urusan umat. Seberapa pun biaya yang akan dikeluarkan oleh negara, jika itu berkenaan dengan kepentingan rakyat, negara memiliki kewajiban untuk memenuhinya.


Hal ini sangat berbeda dengan sistem kapitalisme hari ini yang hanya berpihak pada kepentingan pemilik modal dan kepentingan diri sendiri. Sehingga masalah sampah plastik ini akan sulit dituntaskan, karena solusi hari ini hanyalah bersifat parsial dan tidak ada tindak tegas dari penguasa.


Maka sudah saatnya umat sadar, bahwa siapa pun pemimpinnya akan sama saja. Karena perubahan revolusioner akan terwujud dengan tegaknya sistem Islam saja yang dapat diwujudkan dengan kesatuan umat. Wallahualam bissawab. [SJ]