Alt Title

Derita Perempuan dan Generasi di Tengah Perampasan Ruang Hidup: Bagaimana Islam Mengatasinya?

Derita Perempuan dan Generasi di Tengah Perampasan Ruang Hidup: Bagaimana Islam Mengatasinya?

Sistem Islam benar-benar menutup celah bagi munculnya kezaliman termasuk perampasan ruang hidup bagi perempuan dan anak. Dalam sistem Islam, negara wajib menjadikan kebijakan ekonominya untuk memenuhi kebutuhan dasar seluruh rakyat, termasuk kebutuhan tanah dan lahan

Pembangunan di dalam Islam tidak melibatkan investasi asing yang justru akan membahayakan kedaulatan negara. Pembiayaan pembangunan akan diambil dari dana Baitulmaal

________________________________________



KUNTUMCAHAYA.COM, REPORTASE - Ratu - Pada hari Sabtu 30 Desember 2023, Sahabat Bincang Islam (Sabila) menyelenggarakan kajian Risalah Akhir Tahun di dengan mengangkat tema: Derita Perempuan dan Generasi di Tengah Perampasan Ruang Hidup, Bagaimana Islam Mengatasinya? Bersama Ustazah Susi Hilma, S.S. sebagai pembicara pertama dan Ustazah Rima Suryadi, S.P. sebagai pembicara kedua. Bertempat di Masjid Al-Mukhlisin, Jalan Jakarta nomor 20-22.


Hadir dalam acara kurang lebih 358 peserta dari berbagai majelis taklim yang ada di wilayah Arcamanik, Kiaracondong, dan Cibeunying Kidul. Tampak Ibu-ibu majelis taklim tersebut sudah mulai berdatangan sejak pukul 08.00 WIB, padahal acara dimulai pada pukul 08.30 WIB.


Acara diawali dengan pembacaan ayat suci Al-Qur'an surah Ibrahim oleh Ukhti Neti. Kemudian dilanjutkan dengan penampilan Shalawat oleh ibu-ibu majelis taklim Al-Amanah Antapani Kulon.


Pada pemaparan materi pertama, Ustazah Susi Hilma, S.S., menyampaikan tentang fakta ruang hidup bagi perempuan dan generasi pada saat ini terasa kian menyempit. Masyarakat sulit untuk mendapatkan tempat tinggal yang layak apalagi ideal. Menurut pembicara, hal ini terjadi disebabkan oleh adanya pembangunan ala kapitalisme yang bertumpu pada para korporat, sehingga perempuan dan generasi yang menjadi korbannya.


Para kapitalis berbondong-bondong memunculkan berbagai proyek atau berinvestasi untuk sektor perkebunan, pertanian, juga energi baru terbarukan. Semua ini membutuhkan lahan luas dan negara yang masih memiliki lahan luas tersebut adalah negara-negara dunia ketiga seperti Indonesia salah satu contohnya. 


Menurut Ustazah pula, perampasan ruang hidup memang tidak lepas dari kondisi dunia saat ini yang notabene masih berada di bawah kepemimpinan dan ideologi kapitalisme yang seringkali menghasilkan berbagai krisis termasuk kemiskinan, kelaparan, serta perampasan ruang hidup. 


Sementara itu pada pemaparan materi kedua oleh Ustazah Rima, beliau menyampaikan perbedaan antara ideologi Kapitalisme dengan Ideologi Islam dalam tata kelola pembangunan. Dalam hal ini, sistem Islam benar-benar menutup celah bagi munculnya kezaliman termasuk perampasan ruang hidup bagi perempuan dan anak. Dalam sistem Islam, negara wajib menjadikan kebijakan ekonominya untuk memenuhi kebutuhan dasar seluruh rakyat, termasuk kebutuhan tanah dan lahan. Pembangunan di dalam Islam tidak melibatkan investasi asing yang justru akan membahayakan kedaulatan negara. Pembiayaan pembangunan akan diambil dari dana Baitul mal. 


Selesai pemaparan materi, acara dilanjutkan dengan sesi tanya jawab. Cukup banyak peserta yang mengacungkan tangan ingin mengajukan pertanyaan, namun panitia membatasi dengan 3 pertanyaan saja, salah satunya dari Umu Azka. Beliau bertanya, bagaimana cara menyadarkan masyarakat bahwa kapitalisme bukan jalan hidup yang layak dipilih oleh kaum muslimin. Pertanyaan dijawab oleh kedua pemateri dengan cukup memuaskan. Menyadarkan masyarakat akan bahaya kapitalisme adalah dengan terus berdakwah tak kenal lelah. 


Pukul 11.00 WIB, acara pun berakhir, ditutup dengan doa. Tak lupa moderator mengucapkan banyak terimakasih pada seluruh peserta atas kehadiran dan antusiasmenya dalam mengikuti acara hingga selesai. Wallahualam bissawab. [GSM-MKC/Sri Gita Wahyuti]