Alt Title

Ambisi Kekuasaan Begitu Menggiurkan

Ambisi Kekuasaan Begitu Menggiurkan

Demikianlah, kekuasaan dalam sistem kapitalisme sekular, menjadi alat mudahnya mendapatkan kekayaan, sedangkan kekayaan dipertaruhkan untuk meraih kekuasaan

Suap menyuap, korupsi, menyalahgunakan wewenang, begitu tumbuh subur sangat lekat dengan yang namanya kekuasaan

___________________________________


Penulis Ummu Fauzi

Kontributor Media Kuntum Cahaya 



KUNTUMCAHAYA.com, OPINI - Kekuasaan di alam kapitalisme menjadi hal yang sangat menggiurkan. Bagaimana tidak? Melalui kekuasaan, kekayaan pasti bertambah, berbagai fasilitas juga didapat. Menjadi daya tarik tersendiri untuk berlomba meraihnya. 


Beberapa waktu lalu sempat ramai diperbincangkan terkait Bupati Bandung Dadang Supriatna yang selama 2



tahun menjabat, kekayaannya bertambah sebanyak 600 juta rupiah. Menurut  Ketua DPD Korps Alumni KNPI Kabupaten Bandung, Tubagus Topan Lesmana bahwa LHKPN (Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara) hal tersebut dianggap sebagai kewajaran. Karena masyarakat bisa menilai kinerjanya selama ini, bahkan menurutnya Dadang dianggap layak untuk  maju pada pilkada  berikutnya. (Metrojabar, 16 Oktober 2023)

 

Andaikan kondisi masyarakat baik-baik saja, kebutuhan pokok terpenuhi, biaya pendidikan juga kesehatan terjangkau, maka pertambahan kekayaan pejabat layak dianggap hal wajar. Akan tetapi ketika berita dari hari ke hari menyuguhkan kondisi yang memprihatinkan, sepertinya butuh dievaluasi. Apa sebenarnya yang menjadi tolok ukur keberhasilan seorang pemimpin bila dikaitkan dengan realita masyarakat? 


Belum lagi bila ditilik dari sisi keadaan generasinya. Tidak bisa dipungkiri, banyak generasi rapuh yang hanya memikirkan untuk kesenangan duniawi nya saja, miskin visi akhirat. Terjerumus dalam berbagai kemaksiatan dan kriminalitas. Didera penyakit mental, mudah stress dan putus asa. 


Sebagian kalangan yang menganggap wajar dan layak maju pada pilkada berikutnya, hanya menilai dari sisi kejujurannya. Namun kembali lagi, tugas seorang pemimpin bukan hanya harus berlaku jujur, juga ada hal lain yang sangat penting berkaitan dengan posisinya sebagai pemimpin. Yaitu bertanggung-jawab terhadap rakyat yang dipimpinnya. Sudahkah mengurus, mengarahkan, meringankan, melindungi, serta membela rakyatnya dari berbagai kesulitan? 


Nampaknya masih jauh, dalam kasus Rempang saja rakyat menjerit minta pertolongan, namun apa daya, para penguasa negeri lebih cenderung kepada para pengusaha yang memberi keuntungan dibanding membela rakyatnya. 


Miras, pornografi, judi online yang telah nyata merusak mental generasi, tidak serius menjadi perhatian para pemangku kebijakan. Begitupun lapangan kerja makin kesini makin sulit didapat, tapi pembangunan terus jor-joran. Nilai keberhasilan hanya sebatas bangunan fisik padahal masyarakat banyak yang sakit.


Demikianlah kekuasaan dalam sistem kapitalisme sekuler. Kekuasaan menjadi alat mudahnya mendapatkan kekayaan, sedangkan kekayaan dipertaruhkan untuk meraih kekuasaan. Suap menyuap, korupsi, menyalahgunakan wewenang, begitu tumbuh subur sangat lekat dengan yang namanya kekuasaan. Setelah kekuasaan didapat, kepedulian kepada rakyat yang seharusnya mendapatkan pelayanan dan pengayoman, minim didapatkan. Saat rakyat didera kesulitan yang kian menghimpit, malah disibukan dengan ambisi kepada harta dan melanggengkan kekuasaannya.


Itulah sistem rusak yang senantiasa memelihara karakter buruk yang penuh dengan  keserakahan. Kapitalisme yang mendudukkan standar kebahagiaan pada materi juga kekuasaan telah menjadikan manusia dibuat buta akan tanggung-jawab yang berat atas amanah kepemimpinannya.

  

Sangat berbeda dengan kekuasaan dalam pandangan Islam. Seorang pemimpin menjadi yang paling akhir makan dan yang pertama merasakan lapar. Mereka melayani rakyat sepenuh hati demi meraih rida Ilahi bukan keuntungan. Kepemimpinan juga akan dijunjung tinggi sebagai amanah berat yang bisa mendatangkan penyesalan jika tidak dilaksanakan dengan penuh tanggung jawab, karena kelak akan dipertanyakan di hadapan Allah Swt. Sebagaimana  sabda Rasulullah  saw.: “Kalian begitu berhasrat atas kekuasaan, sedangkan kekuasaan pada hari kiamat kelak bisa berubah menjadi penyesalan dan kerugian.” (HR. Nasa’i dan Ahmad)


Begitu beratnya amanah bagi orang-orang yang mengerti  konsekuensinya  di akhirat kelak. Tetapi pada saat ini, peringatan nabi tersebut justru diabaikan oleh orang-orang yang begitu berambisi mengejar jabatan dan kekuasaan. 


Dalam Islam banyak diceritakan para pemimpin yang begitu amanah dan takut dengan jabatan yang diembannya. Contohnya,  Khalifah Umar bin Khattab  yang terkenal sebagai penguasa yang tegas dan sangat disiplin. Ia tidak segan-segan merampas harta para pejabatnya yang dianggap  berasal dari jalan yang tidak benar.  Serta  menunjukan sikap antikorupsi dengan menolak gratifikasi. Pemberian hadiah kepada para pejabat dilarang bertujuan agar penyelenggara negara tetap obyektif dan profesional.

 

Selain itu Khalifah Umar adalah sosok pemimpin yang sangat sederhana, memiliki rasa malu, tinggi empati, sayang kepada rakyat, dan bertakwa kepada Allah Swt. ketika para sahabat mengajukan anaknya untuk kelak menjadi khalifah, Umar marah, dengan mengatakan cukup saya saja yang jadi penguasa, tidak untuk keturunan saya. Hal itu sangat dipahami karena beratnya amanah kekuasaan. Saat kekuasaan bukan hal yang menggiurkan sehingga berlomba untuk mendapatkannya, hanya ada dalam negara yang menerapkan Islam secara kafah. Wallahu alam bissawab. [GSM]