Alt Title

Mengapa Konflik Palestina dan Israel tak Kunjung Selesai?

Mengapa Konflik Palestina dan Israel tak Kunjung Selesai?


Sungguh seharusnya berulangnya konflik antara penjajahan Israel dan Palestina, membuat umat sadar bahwa Israel dilahirkan oleh penguasa dunia dan hukum internasional. Tentu selayaknya “orang tua” bagi Israel maka tidaklah mungkin mereka mengambil keputusan yang merugikan “anaknya"

Maka, untuk mengatasi kebiadaban pendudukan Israel harus dengan kekuatan yang sepadan,  yaitu adanya negara adidaya yang tidak lain adalah negara Islam

_________________________________

 

Penulis Ranti Nuarita, S.Sos.

Aktivis Muslimah  Sukabumi & Kontributor Media Kuntum Cahaya 


KUNTUMCAHAYA.com, OPINI - Apa yang sering tergambar dalam diri kita, ketika mendengar kata Palestina? Bisa dipastikan tentu akan mengantarkan kita pada fakta maupun sejarah pelik yang tak kunjung usai juga terjadi di sepanjang masa terlebih setelah pendudukan  Yahudi di tanah Palestina. Sungguh tak ada persoalan sedemikian kompleks seperti halnya persoalan Palestina. Bahkan hingga saat ini konflik antara Palestina dan Israel selalu menjadi perbincangan hangat  seantero negeri bahkan hingga dunia.


Mengutip dari VOA Indonesia, Sabtu (7/10/2023) Hamas menembakkan ribuan roket ke Israel dan mengirim puluhan anggotanya untuk melintasi perbatasan negara yang dijaga ketat. Adapun Hamas mengatakan serangan tersebut didorong oleh peningkatan gempuran Israel terhadap warga Palestina di Tepi Barat, Yerusalem, dan terhadap warga Palestina di penjara-penjara Israel.


Kembali terjadi perang antara Palestina, serangan Palestina dianggap pemicu padahal sebenarnya adalah bentuk balasan atas kekejaman Israel selama bertahun-tahun.Lantas kapankah konflik Palestina dan Israel akan usai? 


Perlu kita ketahui Israel merupakan entitas Yahudi yang di-back-up negara- negara besar seperti Amerika Serikat (AS) sehingga mereka terus mempunyai kekuatan untuk menjajah Palestina. Ironisnya negeri-negeri muslim lain meskipun tahu kebiadaban Israel, tetapi tidak dapat berkutik karena terhalang perjanjian internasional. Kebanyakan dari mereka lagi dan lagi hanya bisa mengutuk dan mengecam. Selain itu, yang bisa mereka lakukan hanya memberikan obat dan bantuan untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari warga Palestina.


Jika demikian, bukankah ibaratnya kita hanya mengobati dan memberi makan korban perang padahal darah korban tersebut terus mengalir karena ditembaki Israel? Memang ikhtiar tersebut sudah sangat baik, tetapi sayangnya masih bersifat parsial dan belum menuntaskan akar persoalan.


Bagaimana jika meminta bantuan kepada AS? Tentu tidak mungkin. AS yang menyebut dirinya antiteror, tetapi nyatanya semua hanya sekadar lip service. Justru AS yang menjadi backing kuat teroris Israel. Bahkan AS menyuplai senjata dan mendukung pendudukan Israel atas Palestina.


Selanjutnya , Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan Mahkamah Internasional pun faktanya tidak bisa diandalkan. Apakah pernah mereka memberikan sanksi kejahatan perang yang Israel lakukan? Jawabannya tidak. Apalagi mengingat pemeran sentral di lembaga-lembaga tersebut adalah AS yang notabene pro Israel. Lembaga-lembaga tersebut tidak bisa bergerak jika AS tidak setuju.


Sama halnya, setingkat Organisasi Kerjasama Islam (OKI) pun agaknya tidak memiliki power karena sejatinya mereka pun di bawah dominasi AS. Bukankah sudah banyak informasi yang kita dapatkan bahwa, Arab Saudi pembeli senjata terbanyak dari AS? Apakah pernah senjata-senjata tersebut digunakan untuk membantu Palestina?  Tidak.


Dari semua fakta di atas kita bisa tahu, bahwa sebetulnya akar masalah konflik Palestina ada dua. Pertama, adanya oknum Israel dengan backing kuat negara-negara besar sehingga, kekuatannya sangat besar. Kedua, negeri-negeri muslim lain taringnya menjadi tumpul, karena cengkeraman perjanjian internasional.


Perlawanan terhadap kelompok negara besar tentu membutuhkan kekuatan yang besar pula. Tidak bisa satu negara nekat mendatangkan tentara langsung ke Palestina, hasilnya sudah pasti langsung dibombardir Israel juga sekutunya. Maka, dunia ini membutuhkan suatu sistem yang bisa mempersatukan seluruh negeri muslim. 


Sungguh seharusnya berulangnya konflik antara penjajahan Israel dan Palestina, membuat umat sadar bahwa Israel dilahirkan oleh penguasa dunia dan hukum internasional. Tentu selayaknya “orang tua” bagi Israel maka tidaklah mungkin mereka mengambil keputusan yang merugikan “anaknya", maka, untuk mengatasi kebiadaban pendudukan Israel harus dengan kekuatan yang sepadan, yaitu adanya negara adidaya yang tidak lain adalah negara Islam.


Dengan penerapan sistem Islam dalam institusi negara  terwujudnya perdamaian bukanlah  angan-angan, sejarah mencatat  pada masa kepemimpinan Islam khalifah Umar bin Khattab mampu mendamaikan tiga agama yakni Islam, Kristen dan Yahudi hidup berdampingan di Palestina.


Demikian pula apabila negara Islam tegak, dengan kepemimpinannya khalifah akan mengutus pasukan untuk membebaskan Palestina dari cengkeraman penjajahan Israel. Tentu untuk mewujudkannya dibutuhkan perjuangan bersama mengembalikan eksistensi Islam agar dapat berdiri tegak di atas institusi negara. Wallahualam bissawab. [Huf]