Alt Title

Cara Islam Menyolusikan Geng Motor

Cara Islam Menyolusikan Geng Motor

Islam memiliki aturan sempurna yang mengatur seluruh aspek kehidupan, termasuk masalah pembentukan keluarga

Dimana orang tua harus menempatkan anak sebagai amanah yang harus dijaga, sehingga pengasuhan dan pendidikan di keluarga akan optimal

_______________________________


Penulis Umi Lia

Kontributor Media Kuntum Cahaya dan Member AMK 



KUNTUMCAHAYA.com, OPINI - Pada setiap masa generasi muda adalah aset peradaban. Mereka adalah harapan bangsa untuk melanjutkan estafet perjuangan. Oleh karenanya, adalah tanggung jawab bersama untuk menjaga dan mempersiapkannya, serta menjauhkannya dari hal-hal yang bisa mengancam dan membahayakan fisik juga pemikirannya. Karena terkadang, mudanya usia membuat mereka gegabah bertindak tanpa memperhitungkan bahaya di depan mata.


Beberapa waktu lalu, Polresta Bandung mengumpulkan 60-an orang pelajar yang tergabung dalam geng motor dan membubarkannya. Hal ini dilakukan sebagai tindak lanjut penangkapan beberapa pekan sebelumnya terkait kasus pengeroyokan yang dilakukan kelompok XTC 133 Student, yang terdiri dari pelajar di bawah usia 18 tahun dari berbagai sekolah dan kecamatan. Pada hari itu mereka dikumpulkan dengan mengundang para orang tua dan guru dari sekolah masing-masing. Untuk kemudian diberi penjelasan dan imbauan agar mereka mundur dari komunitas tersebut dan berjanji akan menjadi remaja yang baik. (Inilahkoran, 21/09/2023) 


Tindakan Polresta Bandung ini mendapatkan apresiasi dari Ketua Komnas Perlindungan Anak Jawa Barat, Diah Puspitasari Momon, yang memandangnya sebagai upaya yang luar biasa positif. Karena berhasil membuat anak-anak geng motor tersebut dengan inisiatif sendiri membubarkan organisasinya. Namun tidak cukup sampai di sini, perlu adanya usaha yang terus-menerus untuk memberikan gambaran pemuda ideal yang mau hijrah dan taat syariat.


Kapolres Jakarta Selatan, Iwan Kurniawan, pernah mengatakan bahwa polisi tidak bisa membubarkan geng motor karena mereka sekadar kumpulan orang-orang bukan organisasi formal. Tanpa ada perizinan (legalitas) kemudian mengeklaim namanya geng motor XTC misalnya, selama tidak melanggar hukum tidak apa-apa.


Banyak juga perkumpulan-perkumpulan yang kegiatannya positif, mengadakan bakti sosial atau kerja bakti dan lain-lain. Yang jadi masalah adalah ketika geng motor ini kumpul terus konvoi motor sambil membawa senjata tajam, kemudian melakukan aksi 0pengeroyokan pada orang lain. Rata-rata motif pengeroyokan dan penyerangan terhadap pihak lain lebih kepada aktualisasi diri.


Menurut pakar anak Seto Mulyadi, kenakalan remaja yang tergabung dalam geng motor timbul karena minimnya perhatian orang tua kepada anak dan menuntut pengakuan dari keduanya. Selain itu, sistem kehidupan yang diadopsi negara ini juga sangat berpengaruh. Sehingga anak terbentuk  menjadi individu yang bertingkah seenaknya tanpa memedulikan orang lain dan lingkungan sekitar, di sisi lain masyarakat juga tidak berani atau enggan mencegahnya.


Seperti yang kita ketahui bersama, anak adalah amanah yang harus dijaga. Saat mendidiknya, orang tua tidak boleh hanya mengandalkan sekolah, karena mereka butuh sandaran dan teladan. Namun sayangnya, tidak sedikit orang tua yang menjadi contoh buruk bagi anak-anaknya karena tuntutan hidup yang kian menghimpit sehingga menganggap buah hatinya sebagai beban.


Ditambah lagi dengan buruknya sistem pendidikan yang mereka dapatkan, di mana saat ini lebih cenderung pada teori yang bersifat duniawi dan abai akan nilai-nilai agama. Sehingga terbentuk pribadi yang minim keimanan. Sementara kondisi lingkungan penuh dengan segala sesuatu yang bersifat bebas, terbentuklah mereka menjadi sosok-sosok yang cenderung berbuat sekehendak hatinya tanpa peduli akibat yang dihasilkannya.


Di sisi lain, keberadaan negara nyatanya tidak bisa menghadirkan rasa aman bagi mereka. Dan dianggap gagal dalam menjaga generasi dari tayangan-tayangan media yang merusak seperti pornografi dan kekerasan. Yang secara tidak langsung telah menumbuhsuburkan tindak kriminal, tidak heran jika keberadaan geng motor ini sulit diberantas. Karena solusi yang ditawarkan berpijak pada aturan kapitalisme sekuler yang jauh akan nilai-nilai agama.


Berbeda dengan kapitalis, Islam memiliki aturan sempurna yang mengatur seluruh aspek kehidupan, termasuk masalah pembentukan keluarga. Dimana orang tua harus menempatkan anak sebagai amanah yang harus dijaga, sehingga pengasuhan dan pendidikan di keluarga akan optimal.


Peran ayah ibu akan berjalan sesuai dengan syariat. Adapun sekolah juga menjadi tempat yang kondusif untuk mencetak generasi yang berkepribadian kuat dengan pendidikan berlandaskan akidah yang kelak akan bermanfaat bagi umat.


Ini semua akan terjadi jika negara menerapkan syariat Islam secara total dalam seluruh aspek kehidupan. Sehingga mampu menghasilkan generasi yang bisa diharapkan dan dibanggakan, yang memiliki kekuatan iman dan takwa, sehingga mampu menjadi penerus tonggak perjuangan dan membawa keberkahan bagi seluruh alam.


Sebagaimana  firman Allah Swt.: "Dan sekiranya penduduk negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi. Tetapi ternyata mereka mendustakan (ayat-ayat Kami), maka Kami siksa mereka sesuai dengan apa yang telah mereka kerjakan." (QS. Al-A'raf ayat 96)


Sudah saatnya umat bangkit dan kembali memperjuangkan tegaknya syariat Allah di muka bumi dengan menerapkannya di setiap sendi kehidupan dalam sebuah sistem pemerintahan Islam. Wallahualam bissawab. [SJ]