Alt Title

Menggantung Asa di Langit Istanbul (Bagian 3)

Menggantung Asa di Langit Istanbul (Bagian 3)

"Siapa yang telah merampas kehormatanmu itu?" Irma terbata-bata dibarengi isak tangis.
"Rafael, Bu. Tapi, ia berjanji akan bertanggung jawab dan menikah dengan Nurul."

Badai pun berembus, membuyarkan harapan. Irma masih bisa berdiri  tegak seperti batu karang. Berbeda dengan Ahmad, dia terhempas ke dasar jurang yang paling dalam. Dia telah gagal dalam mendidik anak gadisnya. Bagaimana dia akan mempertanggung jawabkan semua ini, bukan hanya kepada manusia, tetapi kepada pemilik seluruh alam semesta, Allah Swt.

_________________________________


Penulis Rumaisha

Kontributor Media Kuntum Cahaya 



KUNTUMCAHAYA.com, CERBUNG - "Apa ... kamu hamil!" teriak Irma sambil mengguncang tubuh Nurul dengan keras.

"Iya, Bu. Maafkan Nurul, telah mengecewakan dan mungkin akan membuat Abah dan Ibu malu," ucapnya sambil berlutut di bawah kaki ibunya. Air mata tak kuasa ia bendung. Penyesalan memang selalu datang terlambat.

Irma terkesiap, jantungnya berdegup kencang. Tubuhnya terhenyak ke sandaran kursi. Bumi pun terasa oleng, langit seakan jatuh menimpa tubuhnya.

Sedangkan Ahmad, mukanya merah seperti udang rebus, giginya terdengar gemeletuk menahan amarah yang luar biasa.

Ahmad menarik tangan putrinya, sorot matanya tajam, lalu menghempaskan tubuh putri kesayangannya itu ke kursi. Hampir saja, ia mencambak rambut  Nurul, kalau Irma tidak menahannya. 

"Siapa yang telah merampas kehormatanmu itu?" Irma terbata-bata dibarengi isak tangis.

"Rafael, Bu. Tapi, ia berjanji akan bertanggung jawab dan menikah dengan Nurul."

Badai pun berembus, membuyarkan harapan. Irma masih bisa berdiri  tegak seperti batu karang. Berbeda dengan Ahmad, dia terhempas ke dasar jurang yang paling dalam. Dia telah gagal dalam mendidik anak gadisnya. Bagaimana dia akan mempertanggung jawabkan semua ini, bukan hanya kepada manusia, tetapi kepada pemilik seluruh alam semesta, Allah Swt.

"Rafael yang mana?" Irma berharap bukan Rafael yang selama ini ia khawatirkan kedekatannya dengan Nurul.

Nurul pun menceritakan, bahwa Rafael adalah guru lesnya di sekolah. Selama ini, Rafael yang mengantarnya pulang. Biasanya setelah les mereka pergi ke suatu tempat dan pulang setelah larut malam.

Seketika wajah Irma menegang ketika yang dimaksud adalah Rafael yang ia khawatirkan. Rafael, seorang laki-laki nonmuslim yang sudah lama dekat dengan Nurul. Ia dan suaminya telah mengenal sosoknya. 

Seketika wajah Ahmad menegang. Ia tidak bisa berkata-kata. Jantungnya seperti tersengat aliran listrik ribuan watt. Pandangannya gelap, ia tidak merasakan  apa-apa. Badannya ambruk ke lantai. 

"Abah ... kenapa?" tanya Nurul panik sambil mengguncang tubuh Ahmad.

"Bah, kunaon ieu (kenapa ini)?" Irma memburu suaminya yang tidak berdaya.

Irma memanggil pesuruhnya. Kasim yang sedang berada di belakang, datang tergopoh-gopoh.

"Ada apa, Juragan?"

"Siapkan mobil segera, kita harus membawa Abah ke dokter."

"Nurul ikut, Bu."

"Enggak usah, gara-gara kamu, Abahmu seperti ini."

Dengan kecepatan tinggi bak dikejar hantu, Kasim membawa kendaraannya. Untuk pertolongan pertama, Kasim membawa majikannya ke Puskesmas Cibatu, untuk mendapatkan pemeriksaan awal.

Sesampainya di tempat yang dituju, Ahmad dibawa petugas ke kamar periksa.

"Dok, tolong selamatkan suami saya."

"Iya, Bu. Kami akan berusaha semaksimal mungkin. Ibu berdoa saja, serahkan semuanya kepada Allah," sahut dokter Fadli.

Setelah mendapatkan pemeriksaan, Ahmad akhirnya siuman walaupun masih belum stabil. Dokter menyatankan untuk di bawa ke rumah sakit, biar penanganannya lebih bagus.

"Biarkan, Bapak istirahat sebentar. Nanti saya akan rujuk ke RSUD Garut, ya, Bu. Untung Ibu segera membawanya, kalau terlambat nyawa Bapak kemungkinan tidak tertolong."

"Sakit apa sebenarnya suami saya, Dok?"

"Serangan jantung ringan, Bu."


***


Pukul 16.10 WIB

"Assamualaikum. Ustaz, afwan masih boleh masuk? Tadi ban motor saya bocor, jadi terpaksa harus nambal dulu," kata Umar dengan wajah khawatir. 

"Waalaikumssalam. Iya, silahkan waktu toleransi masih lima menit lagi."

"Alhamdulillah."

Dio dan Hasan, mereka  sudah duluan sampai, maklum rumah mereka hanya berjarak dua kilo meter dengan ustaz Lutfi. 

"Ayo, semangat. Ini bahasan terakhir, minggu depan kita sudah membahas kitab baru." 

Ustaz Lutfi menyampaikan, "Sesungguhnya kekuatan pemikiran Islam yang terikat dengan metodenya cukup untuk menegakkan negara Islam dan melanjutkan kembali kehidupan Islam dengan syarat, pemikiran Islam itu meresap di dalam hati dan merasuk di dalam jiwa, menyatu di dalam kaum muslimin."

Semua menyimak uraian Ustaz Lutfi dengan serius. Semangat mereka  terbakar, bergelora di dada masing-masing.

"Ustaz, bagaimana ya, supaya masyarakat juga rindu untuk segera tegaknya kembali khilafah, seperti rindunya kita?"

"Ya, enggak ada cara lain, selain kita sabar memahamkan mereka. Kan sebelumnya sudah kita bahas, bahwa para pengemban dakwah itu seperti mengukir di atas cadas yang keras, tapi yakinlah sedikit demi sedikit ukiran itu akan terbentuk. Masyarakat akan menerima Islam sebagai ideologinya."

"Aamiin,Ya Rabb." Semua serentak mengucapkannya.

"Ustaz, masih penasaran nih, boleh nanya lagi?"

"Iya, silahkan."

"Kan, kekhilafahan terakhir itu di Turki ya? Apakah kemungkinan besar titik sentral itu akan kembali terjadi di sana? Mengingat kan di sana masih banyak sisa-sisa peninggalannya?"

"Lebih tepatnya, kekhilafahan itu di Istanbul, bukan Turki. Karena, Turki itu lebih identik dengan republik Turki, pemerintahan tandingan yang didirikan oleh Kemal Attaturk, si pengkhianat umat Islam. Walaupun selama ini terkenal dengan Turki Utsmani. Saya sendiri lebih suka menyebutnya bahwa kekhilafahan terakhir itu di Istanbul," jawab Ustaz Lutfi.

"Masyaallah," ucap Umar.

Ponsel Umar berdering.

"Ustaz, izin terima telepon dulu, khawatir penting."

Umar mencoba menjawab telepon dari ibunya, tetapi tidak tersambung. Ia coba untuk telepon balik, tapi tetap tidak bisa. Umar semakin khawatir. Tidak lama kemudian, ada chat dari ibunya. 

[Mar, cepat pulang, Abahmu lagi di puskesmas Cibatu]

Umar semakin khawatir. Apa sebenarnya yang terjadi pada abahnya.

[Kenapa, Abah, Bu?] 

[Nanti saja, Ibu ceritakan. Kamu langsung saja ke puskesmas Cibatu. Ibu sama Kasim di sini]

Kurang lebih 30 menit', akhirnya Umar sampai di tempat yang dituju. Irma yang mengetahui Umar datang, langsung menariknya ke sebuah bangku yang agak jauh dari tempat Ahmad.

"Sakit apa Abah, Bu? Kok, Ibu panik seperti ini?" Umar memberondong ibunya dengan pertanyaan.

"Mar ... Kakakmu, Mar?"

"Ada apa dengan Teh Nurul?"

Irma menceritakan apa yang menimpa Nurul. Air mata terus membasahi pipinya. Kerut-kerut di wajahnya semakin jelas terlihat.

"Astagfirullah, Innaa lillahi," ucap Umar.

Apa yang selama ini ditakutkan, akhirnya terjadi juga. Umar sebenarnya telah lama mengkhawatirkan kakaknya. Nurul, telah terjerumus ke dalam pergaulan bebas. Sekularisme, benar-benar telah menjerumuskan generasi muda hari ini ke jalan yang keji, yang diharamkan oleh Allah Swt. [GSM]


-Bersambung-