Alt Title

Kejahatan Meningkat Akibat Kebebasan yang Kebablasan

Kejahatan Meningkat Akibat Kebebasan yang Kebablasan

Yang sangat menonjol dari maraknya tindak kriminalitas itu dipicu oleh pemikiran keliru tentang kehidupan, pemikiran yang salah, pemikiran yang jauh dari ajaran Islam

Banyak orang yang menjalani hidup ini sekadar untuk makan, untuk memenuhi kebutuhan,  menghabiskan waktu dengan penuh kesia-siaan

_______________________________


Penulis Ummu Bagja Mekalhaq 

Kontributor Media Kuntum Cahaya dan Pengasuh Majelis Taklim



KUNTUMCAHAYA.com, OPINI - Dilansir dari media ANTARA bahwa beragam peristiwa kriminalitas telah terjadi di Jakarta sepanjang tanggal 10/7/2023. Mulai pembunuhan di Jakarta Utara, dan lima pembunuhan disertai mutilasi yang tidak kalah sadis sedang viral saat ini.


Inilah gambaran kehidupan yang terjadi saat ini, berita berita kriminalitas  dari hari ke hari semakin banyak mengisi laman viral media sosial. Maraknya kriminalitas tidak terlepas dari sebuah sistem kehidupan yang salah yakni sistem demokrasi sekulerisme. Artinya memisahkan agama dari kehidupan. Sistem rusak yang dipraktikkan masyarakat Indonesia saat ini, menghantarkan pada jurang kehancuran.


Semua kehancuran berawal dari sistem demokrasi Sekulerisme. Artinya selama sistem demokrasi ini dipraktikan, selama itu pula kejahatan meningkat sebebas-bebasnya bahkan kebebasan yang kebablasan. Makanya, jangan heran jika semakin hari semakin meningkat tajam beragam kasus kriminalitas, termasuk pembunuhan sadis disertai mutilasi yang tidak berperikemanusiaan.


Dulu, kasus-kasus seperti ini jarang sekali terjadi. Bahkan jika pun ada, maka bisa diprediksi  pelakunya orang gila/abnormal. Itu pun "hanya sekadar" membunuh saja, tidak disertai mutilasi. Tetapi yang terjadi saat ini jauh lebih sadis. Pembunuhan yang direncanakan, pembunuhan disertai kekerasan dengan memutilasi korban untuk menghilangkan jejak, agar tidak terdeteksi polisi. Biasanya pelakunya itu, merencanakan dengan matang, penuh  perhitungan bahkan mencari informasi via media. 


Tindak kriminalitas pembunuhan disertai mutilasi ini, dipicu oleh beberapa alasan, di antaranya: Pertama kurangnya akses pendidikan, terutama pendidikan ajaran Islam kafah. Dengan kurangnya akses pendidikan, maka menghantarkan generasi Islam kepada kegelapan, rusak akidahnya rusak pula kepribadiannya.


Kedua kriminalitas dipicu pula oleh emosi,  rasa sakit hati, dendam kesumat, kisah  asmara tak terbalas, cemburu buta, bisa pula dipicu oleh perselingkuhan.


Adapun, dari sisi  sosial, tindak kriminal bisa dipicu oleh kesenjangan sosial yakni perbedaan mencolok antara yang kaya dan yang miskin. Serta tindak kriminal itu, bisa pula dipicu oleh pengangguran yang membuat hidup penuh beban.


Kondisi di lapangan tampak jelas peningkatan pengangguran dari tahun ke tahun naik tinggi. Bahkan bisa dikatakan, pada dasarnya semua rakyat Indonesia itu berstatus pengangguran.


Mau bukti? Coba lihat tengok kanan kiri saudara saudara kita, kakak, adik, paman, dan kerabat, hingga masyarakat setempat betulkah mereka banyak yang nganggur? Hanya dengan kemudahan dan karunia dari Allah, para pengangguran yang masih kuat iman bisa makan sampai saat ini, meskipun dari hasil kerja serabutan, betul?


Tetapi, perlu diketahui, yang sangat menonjol dari maraknya tindak kriminalitas itu dipicu oleh pemikiran keliru tentang kehidupan, pemikiran yang salah, pemikiran yang jauh dari ajaran Islam. Banyak orang yang menjalani hidup ini sekadar untuk makan, untuk memenuhi kebutuhan,  menghabiskan waktu dengan penuh kesia-siaan.


Pandangan kehidupan yang sesat tentang kehidupan. yakni bahwa hidup adalah untuk mengumpulkan sebanyak banyaknya harta, materi, materi dan materi yang dicari, tanpa memperhitungkan status hukumnya apakah  halal atau  haram, yang penting cepat mendapatkan uang meski dengan cara yang diharamkan dalam Islam. 


Mereka tidak mau berpikir keras untuk mendapatkan rezeki secara halal, seperti aktivitas jual beli barang yang halal zatnya, atau pun berbisnis yang diperbolehkan dalam Islam. Saat ini, kebanyakan orang tidak memiliki sifat sabar dalam menjalani hidup. Saat hilang kesabaran akibatnya hidup tanpa aturan, hidup penuh kebebasan. Sehingga untuk mendapatkan keinginannya bertindak tergesa-gesa, meskipun haram tetapi tetap saja ia lakukan.


Padahal seharusnya, kehidupan yang dijalani haruslah diniatkan semuanya untuk ibadah, termasuk mencari nafkah. Jika hidup diniatkan untuk ibadah, tentunya menjalani hidup ini penuh kesabaran. Tetapi, kesabaran itu tidak bisa diraih dengan mudah melainkan kesabaran itu harus diraih dengan meningkatkan keimanan. Keimanan itu tidak  bisa diraih dengan instan, tetapi harus diraih dengan menuntut ilmu agama, terutama mempelajari Islam kafah agar paham terhadap syariat Islam. 


Sayang, saat ini banyak orang-orang yang memilih hidup dengan instan, akhirnya memilih jalan haram. Dari sini, kerusakan timbul perlahan tetapi pasti, seperti tindak kriminalitas pembunuhan yang terjadi terus-menerus memenuhi laman media, tiada hari tanpa berita kriminalitas.


Ada kasus kriminalitas pembunuhan terjadinya diawali mengutang riba, meminjam uang riba dari rentenir/bank keliling yang sangat kejam. Mereka memberi pinjaman berbunga tinggi, yang tidak mungkin bisa dilunasi, selain pelunasannya dengan cara gali lubang tutup lubang.


Makanya banyak pengutang yang memiliki hampir 30 pintu pinjaman dari pemberi utang yang berbeda. Bahayanya saat ditagih jatuh tempo, tertekan dengan kesulitan, bingung dan kalut memikirkan dari mana uang untuk membayar utang.


Karena beratnya beban utang riba, sulit untuk dilunasi, akhirnya untuk melunasi riba itu, ia pun memutar otak dengan beragam cara. Jika buntu, maka tindak kriminal dilakukannya, seperti mencuri disertai pembunuhan, dan tidak cukup membunuh tetapi disertai mutilasi. Makin sadis, bukan?


Banyaknya tindak kriminalitas pembunuhan selain yang dilatarbelakangi oleh beberapa faktor pemicu yang sudah disebutkan di atas, ternyata saat ini banyak pula pembunuhan yang dilatarbelakangi oleh pinjol dan bank keliling/rentenir.


Bisakah setiap kasus-kasus kriminalitas diselesaikan di mahkamah peradilan? Ah, sulit untuk tuntas. Janganlah  berharap kepada mahkamah peradilan untuk menuntaskan masalah kriminalitas ini, karena tak sedikit faktanya tidak akan tuntas.


Deretan kasus kriminalitas sudah terjadi, belum tuntas diadili. Boleh cek sendiri, googling! Masih ingat kasus pembunuhan KM 50? Apakah bisa tuntas? Artinya, tidak ada cara lain, kecuali kembali kepada Islam kafah. 


Dalam Islam dijelaskan penghilangan nyawa korban, yakni  pembunuhan yang disengaja harus diadili dengan seadil-adilnya. Hukum dalam Islam adil, nyawa dibayar nyawa, hingga ada efek jera. Hukum dalam Islam pun bersifat jawabir dan jawazir, sebagai penebus dan pencegah


Al-Qur'an surah Al-Maidah ayat 45, yang artinya, "Kami telah menetapkan bagi mereka di dalamnya(Taurat) bahwa nyawa dibalas dengan nyawa, mata dengan mata,  hidung dengan hidung, telinga dengan telinga, gigi dengan gigi, dan luka-luka (pun) ada qisasnya (balasan yang sama). Barang siapa melepaskan (hak qisas)nya maka itu menjadi "penebus" dosa baginya. Barang siapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah,  maka mereka itulah orang yang zalim." (QS. Al-Maidah: 45)


Begitulah cara Islam memberikan solusi yang pasti. Siapa yang akan menggantikan sistem demokrasi? agar kejahatan bisa diatasi? Tentu yang memiliki ghirah Islam kafah yakni orang-orang yang kuat tauhidnya, mantap imannya. Mereka itulah orang-orang yang rela berjuang demi tegaknya syariat Islam yang akan membawa dampak baik bagi kehidupan. 


Sudah saatnya membuang demokrasi sesat yang gagal mengurus rakyat. Saatnya berganti dengan Islam kafah untuk kebaikan semua manusia, baik muslim ataupun nonmuslim. Hanya dengan aturan Islam saja yang mampu menghilangkan beragam kejahatan termasuk pembunuhan disertai mutilasi. 


Sebaliknya jika tidak kembali kepada aturan Islam kafah, tidak mungkin kejahatan ini berakhir. Itu karena dorongan demokrasi yang mengusung kebebasan yang kebablasan, begitu kuat mencengkeram jiwa-jiwa yang lalai atas seruan amar makruf nahi mungkar. Wallahualam bissawab. [By]