Alt Title

SELINGKUH, SALAH KAPRAH DALAM BERRUMAH TANGGA

SELINGKUH, SALAH KAPRAH DALAM BERRUMAH TANGGA


Banyaknya perselingkuhan menunjukkan betapa rapuh hubungan pernikahan dengan keimanan yang rendah. Apalagi hidup di sistem kapitalis sekuler, membuat masyarakat terbiasa melakukan sesuatu berdasarkan manfaat, kesenangan semata

 

Padahal sebagai Muslim, tidak boleh berbuat berdasarkan hal tersebut. Islam mengajarkan bahwa standar perbuatan manusia adalah halal haram

 

Penulis Bunda Irsyad

Aktivis Dakwah Serdang Bedagai

 

KUNTUMCAHAYA.com-Menikah adalah salah satu dari perintah Allah, bahkan dikatakan sebagai penyempurna dari separuh agama. Dari Anas bin Malik ra, beliau berkata bahwa Rasulullah bersabda:  "Jika seseorang menikah, maka ia telah menyempurnakan separuh agamanya. Karenanya bertakwalah pada Allah pada separuh yang lainnya.(HR. Al-Baihaqi)

 

Begitu banyak kemuliaan yang bisa diraih dari sebuah pernikahan, karenanya dapat dikatakan bahwa pernikahan adalah ibadah yang terpanjang.

 

Namun sayang, banyak orang yang tidak memahami tujuan dan makna dari pernikahan itu sendiri. Alhasil, dengan bermacam ujian hidup mengantarkan pasangan yang sudah menikah terlibat pada perselingkuhan.

 

Seperti yang dikutip dari pikiranrakyat[dot]com (Jumat, 17 Februari 2023). Berdasarkan survei yang dilakukan di Amerika Serikat tentang kasus perselingkuhan di dunia, Indonesia berada diposisi keempat. Dan ditemukan setangah dari pasangan yang sudah menikah, setidaknya pernah satu kali melakukan selingkuh selama pernikahan.

 

Fakta tersebut sangat menyedihkan, apalagi mengingat bahwa penduduk di Indonesia adalah mayoritas muslim. Di dalam Islam sendiri perselingkuhan adalah merupakan perbuatan tercela hingga berdosa. Apalagi bila sampai berzina terhadap pasangan selingkuhnya.

 

Jika disurvei maka banyak sekali faktor yang menjadi alasan mereka yang berselingkuh. Ada yang merasa hubungannya tidak harmonis, sudah hambar, pasangan yang tidak lagi cantik/tampan, banyaknya tuntutan, tidak saling menghargai hingga ingin mencoba rasa yang berbeda. Nau’zubillah!

 

Ketertarikan fisik dan kesenangan adalah yang paling menonjol sebagai pemicu terjadinya perselingkuhan di masyarakat. Semua diperparah dengan banyaknya sarana yang memfasilitasi untuk orang-orang dapat menjalin perselingkuhan. Kebebasan interaksi dan tidak adanya batasan pergaulan adalah kunci masalahnya.

 

Banyaknya kasus perselingkuhan menunjukkan kepada kita, betapa rapuh hubungan pernikahan dengan keimanan yang rendah. Apalagi hidup dalam sistem kapitalis sekuler yang membuat masyarakat terbiasa untuk melakukan sesuatu berdasarkan manfaat dan kesenangan semata. Padahal sebagai seorang Muslim kita tidak boleh berbuat berdasarkan hal tersebut. Sebaliknya, Islam mengajarkan bahwa standar dari perbuatan manusia adalah halal dan haram.

 

Maka ketika seseorang hendak menikah haruslah saling memahami landasan dan tujuan dari pernikahan itu sendiri. Bukankah pernikah ditujukan agar mereka merasa tenteram dan saling tertarik di antara pasangan sendiri.

 

Allah berfirman: "Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, agar supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya.” (QS. Ar-Ruum: 21)

 

Pernikahan bukan hanya sekadar menyatukan dua insan, dan membuat hubungan mereka manjadi halal. Namun pernikahan itu sendiri artinya kita sudah siap untuk saling menerima perbedaan pada pasangan dan menjadikannya segala aktivitas dalam pernikahan sebagai ibadah kepada Allah.

 

Pasangan suami istri (pasutri) harus saling memahami peran dan tugasnya masing-masing. Yang demikian juga dimaksudkan untuk menjaga keharmonisan dalam berumah tangga.

 

Seorang wanita sudah menjadi fitrahnya ketika menikah ia akan diamanahkan hamil dan menyusui. Sedangkan seorang suami bertanggung jawab untuk menafkahi keluarganya. Merawat dan mendidik anak-anak adalah tanggungjawab bersama, maka pandailah untuk saling membagi waktu agar tidak ada yang merasa terzalimi.

 

Pada fitrahnya manusia memang suka akan yang indah-indah. Namun percayalah keindahan yang abadi bukan terletak pada fisik seseorang. Seiring waktu bagaimanapun manusia berusaha untuk terlihat tetap muda, pasti akan menua juga. Sedangkan kecantikan yang abadi terletak pada akhlak dan iman seseorang.

 

Hati-hatilah dengan tipu daya setan, sebab yang halal bisa terlihat buruk sedangkan yang haram di luar sana akan terlihat lebih indah. Maka agar pasangan halalmu saja yang terlihat indah, ikutilah perintah Allah untuk menundukkan pandangan dari yang tidak halal bagimu.

 

Memastikan agar hubungan rumah tangga bisa tetap terjaga memang kewajiban dari pasangan itu sendiri. Namun tidak dimungkiri negara juga sangat berperan penting dalam melindungi keluarga dari perselingkuhan bahkan perceraian.

 

Penjagaan tersebut yakni dengan cara dimana negara harus menerapkan aturan-aturan yang bisa mencegah perbuatan selingkuh itu terjadi. Misal memberikan rambu-rambu tentang batasan interaksi pria dan wanita di kawasan umum. Menutup segala ruang yang memudahkan akses terjadinya perselingkuhan, terutama media sosial yang saat ini menjadi penyumbang terbesar. Menerapkan sistem sanksi sosial, kesehatan juga pendidikan sebagaimana yang diajarkan dalam Islam.

 

Namun sayangnya semua itu tampaknya mustahil bisa dilakukan dalam sebuah sistem yang tidak menerapkan sistem Islam. Maka artinya ketakwaan individu harus ekstra dikencangkan dan pemahaman akan Islam itu sendiri wajib diperdalam.

 

Terakhir, penulis dan para pembaca berharap agar negara kita tercinta bisa segera sadar dan beralih menerapkan sistem Islam. Agar manusia bisa lebih terjaga dari perbuatan yang terlarang dan keberkahan dapat menyelimuti umat manusia. Wallahualam bissawab.