Alt Title
Gamophobia, Kok Bisa?

Gamophobia, Kok Bisa?

 


Islam memerintahkan istri untuk taat suami selama bukan perkara kemaksiatan 

Islam pun memerintahkan suami untuk memperlakukan istri dengan baik

______________________________


Penulis Yani Ummu Qutuz

Kontributor Media Kuntum Cahaya dan Member AMK Pegiat Literasi


KUNTUMCAHAYA.com, OPINI - Bagi sebagian orang, menikah mungkin menjadi suatu hal yang menakutkan. Maka orang akan berhati-hati mengambil keputusan untuk berkomitmen dan menikah. Kondisi takut menikah yang berlebihan ini disebut gamophobia.


Kata ini mulai sering disebut seiring dengan munculnya tren takut menikah di kalangan generasi muda. Hal ini berakibat pada menurunnya angka pernikahan, dengan angka penurunan mencapai 28,63% setara dengan sekitar 632.791 kasus pernikahan. (goodstats.id, 09/03/2024)


Phobia ini muncul karena trauma akan hubungan di masa lalu atau pengalaman masa kecil juga kondisi mental yang belum siap dan belum matang secara ekonomi. Bisa juga karena melihat pengalaman buruk yang dialami oleh pasangan yang sudah menikah, seperti perceraian, perselingkuhan, serta KDRT. Semua ini menjadi faktor kuat yang memengaruhi penurunan angka pernikahan di Indonesia. 


Hal yang paling dikhawatirkan dari fenomena takut menikah adalah faktor ekonomi. Makin sulitnya kondisi ekonomi saat ini, membuat kaum muda ragu untuk memulai kehidupan berumah tangga. Hal ini membuat kaum muda menunda pernikahan yang dikenal dengan istilah waithood, bahkan enggan untuk berkomitmen dalam pernikahan.


Kekhawatiran akan kehidupan masa depan selalu menghantui kaum muda. Khawatir tidak bisa membahagiakan pasangan, khawatir tidak bisa menyekolahkan anak, dan sebagainya. Padahal kekhawatiran seperti ini sebenarnya tidak boleh ada, karena memang belum terjadi. Mereka sudah membuat film sendiri dalam benaknya tentang gambaran kehidupan di masa depan.


Mereka salah dalam menyikapi realitas kehidupan. Bahwa dalam kehidupan itu tidak selamanya sesuai dengan harapan, kadang ada bahagia kadang sedih, kadang punya kadang tidak punya, kadang sehat kadang sakit, dan seterusnya. Namun pasangan muda kadung menganggap bahwa kehidupan pernikahan itu manis, bakal bahagia. Ketika mengalami kesulitan hidup berumah tangga mudah terjadi perselisihan, cekcok dan akhirnya bercerai. 


Kehidupan sekuler kapitalistik menjadikan kesenangan materi sebagai standar kebahagiaan. Mewahnya perayaan resepsi pernikahan dianggap sebagai ukuran kemapanan ekonomi seseorang.


Tidak sedikit orang tua yang menetapkan nominal yang tinggi pada calon menantunya untuk biaya resepsi pernikahan. Sementara banyak pria usia menikah sulit untuk mendapatkan pekerjaan yang layak. Akhirnya ketidaksiapan finansial menjadi halangan untuk menunda bahkan tidak menikah.


Mahalnya biaya hidup berdampak pada sulitnya ekonomi keluarga. Sesungguhnya masalah ini tidaklah berdiri sendiri. Ada peran negara yang membuat rakyat harus merasakan pahitnya hidup.


Negara yang menganut sistem sekuler kapitalistik telah mengabaikan hak-hak rakyat untuk hidup sejahtera. Negara lebih berpihak pada para pemilik modal dan kekuasaan, sehingga pengurusan atas rakyatnya terabaikan.


Islam memiliki pandangan yang khas dan istimewa tantang pernikahan. Dalam Islam pernikahan bukan semata terjadinya akad, akan tetapi merupakan perjanjian yang agung (mitsaqon gholizhon) antara seorang laki-laki dan perempuan yang dalam prosesinya diserahkan pada walinya. Ada konsekuensi yang harus ditaati oleh keduanya berupa hukum-hukum syarak. Allah akan limpahkan pahala bagi suami maupun istri jika melaksanakannya. 


Pernikahan adalah bagian dari ibadah karena menyempurnakan setengah agama, sebagaimana sabda Rasulullah:

"Jika seseorang menikah ia telah menyempurnakan separuh agamanya. Oleh karenanya, bertakwalah pada Allah pada separuh lainnya." (HR. Al Baihaqi dalam Syu'abul Iman. Dishahihkan oleh Syekh Al Albani dalam As-Silsilah Ashohihain No. 625)


Islam pun mengatur pergaulan yang baik antara suami dan istri. Istri diperintahkan untuk taat pada suami selama bukan dalam kemaksiatan. Ketaatan istri pada suami ini tidak akan membuat posisi istri menjadi lebih rendah sehingga rentan KDRT.


Saat Islam memerintahkan istri untuk taat, Islam pun memerintahkan suami untuk memperlakukan istri dengan baik. Allah Swt. berfirman dalam QS. An-Nisa ayat 19:

"Dan pergaulilah mereka (istri-istrimu) dengan baik."


Kehidupan suami istri adalah kehidupan yang penuh persahabatan. Suami maupun istri akan menikmati ketenteraman dan kebahagiaan yang dibangun bersama. Untuk mencapai itu semua, maka suami istri bertanggung jawab menjalani kewajibannya dan menunaikan hak-hak pasangannya dalam kehidupan pernikahan.


Suami maupun istri harus ikhlas menjalani semua tanggung jawab yang telah ditetapkan Allah Swt.. Maka seharusnya generasi muda tak perlu takut menikah, selama mereka berniat ikhlas karena Allah dan memahami hukum-hukum agama dengan benar. Wallahualam bissawab. [SJ]

Rindu di Puasa Kedelapan

Rindu di Puasa Kedelapan

 


Rindu di puasa kedelapan

Rindu yang setiap Ramadhan datang

Wahai umat kembalilah pulang

Berjuang bersama mewujudkan kepemimpinan Islam ke depan 

______________________________


Penulis Hanif Kristianto 

Sastrawan Politik dan Analis Politik-Media 



KUNTUMCAHAYA.com, PUISI - Kalau sudah rindu niscaya tersebut selalu

Dalam bibir yang terus mengalir kata-kata manis

Sangat dan sangat inginkan kehadiran di hadapan

Sesosok manusia yang tersebut di antara bilal ketika pergantian Tarawih tiba


Ya, empat manusia sahabat mulia yang melanjut kepemimpinan Muhammad

Sahabat setia yang sunnahnya diikuti dan digigit erat-erat

Sosok pemimpin sejati dan sepenuh hati

Manusia mulia yang di tangannya Islam jaya dan tersebar ke seluruh penjuru dunia


Khalifah ula Abu Bakar Ash-Shiddiq tercinta

Sahabat setia yang menemani nabi di kala hijrah

Rela berkorban nyawa melindungi baginda nabi

Pemimpin sejati yang menerapkan syariat kafah dengan kebijaksanaan manusia


Khalifah tsani Umar bin Khattab tertegas

Sahabat mulia yang menjaga Islam tanpa kata-kata

Kuat dengan kepemimpinan yang jadikan manusia taat

Pemimpin sejati yang tak bisa disamai dengan pemimpin masa kini


Khalifah tsalits Utsman bin Affan terpuji

Sahabat adiluhung di tangannya Islam bertambah agung

Ikhlas tanpa pamrih di hadapan rakyatnya

Pemimpin yang peduli tanpa pencitraan yang penuh kepalsuan


Khalifah robi' Ali bin Abi Thalib tercerdas

Sahabat pintu segala ilmu dengan sisa kekuatan memimpin rakyat yang beragam

Mulia sebab keilmuannya dan terhormat sebab kepemimpinan yang sesuai amanat

Pemimpin mahardika yang tak bisa dibodohi kaum penjajah


Pemimpin sahabat itu lahir dari sistem Islam yang bermartabat

Tugasnya jelas taat pada Allah dan Rasul-Nya dengan menerapkan syariat

Inilah sebenar-benarnya ulil amri yang sejatinya bisa ditiru pemimpin zaman ini

Inilah sebenar-benarnya pemimpin bukan hasil politik demokrasi yang penuh kepalsuan dan basi


Rindu di puasa kedelapan

Bahkan rindu ini tak bisa lagi dipendam dalam

Rindu ini berasal dari suara kalbu yang suci

Dibimbing wahyu karena hakikatnya syariat Islam itu satu untuk semua makhluk


Rindu di puasa kedelapan

Tiada guna pemimpin yang lahir dari pilihan politik demokrasi yang penuh ilusi

Pemimpinnya lahir dari manipulasi suara dan penyelewengan kekuasaan di atasnya

Percuma dan mahal biaya yang nantinya malah tak peduli rakyatnya


Rindu di puasa kedelapan

Seolah Abu Bakar dan Umar hadir bersama di setiap tarawih rakyat jelata

Sosok yang auranya tak tertandingi bahkan makamnya di samping nabi

Tidakkah umat rindu sosok manusia yang bisa diduplikasi kembali?


Rindu di puasa ke delapan

Seolah Utsman dan Ali hadir juga di penghujung Tarawih

Sosok yang mengecap dengan ucap dan sikap yang sehadap

Tidakkah umat rindu sosok manusia yang melanjutkan kehidupan Islami


Rindu di puasa kedelapan

Rindu yang setiap Ramadhan datang

Wahai umat kembalilah pulang

Berjuang bersama mewujudkan kepemimpinan Islam ke depan [SJ]

Kenaikan PPN akan Menambah Kesengsaraan Rakyat

Kenaikan PPN akan Menambah Kesengsaraan Rakyat


Menjadikan pajak sebagai sumber pendapatan adalah kebijakan yang keliru dan tidak pro rakyat

Negara memiliki sumber pendapatan yang jauh lebih besar dari pajak, yaitu pendapatan Sumber Daya Alam (SDA)

_________________________


Penulis Rosita

Admin Media Kuntum Cahaya 


KUNTUMCAHAYA.com OPINI - Kenaikan silih berganti seolah sedang berlomba untuk meraih puncak kesengsaraan. Mulai dari kenaikan bahan pokok, tarif listrik, rencana kenaikan pajak kendaraan bermotor, jalan tol, dan yang terbaru adalah kenaikan PPN di tahun 2025.


Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto menyampaikan bahwa ketentuan mengenai kenaikan tarif pajak pertambahan nilai (PPN) menjadi 12 persen akan dilaksanakan selambat-lambatnya per tanggal 1 Januari 2025. Menurut beliau pemerintah memiliki kewenangan untuk mengubah tarif PPN menjadi paling rendah 5 persen dan maksimal sampai 15 persen. Selain itu juga dikatakan karena masyarakat telah memilih untuk mendukung keberlanjutan dari pemerintahan Presiden Jokowi. (Kompas.com, 10 Maret 2024)


Kenaikan tersebut disampaikan sebagai bagian dari upaya reformasi perpajakan dan menaikkan penerimaan perpajakan. Sehingga negara akan mengalami dampak kenaikan antara Rp350-375 Triliun, menurut Ketua Badan Anggaran DPR RI Said Abdullah. (DPR RI, 14 Maret 2024)


Di sisi lain menurut Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (CELIOS) Bhima Yudhistira mengatakan kebijakan tersebut akan membebani rakyat terutama kelas menengah ke bawah. Pasalnya kenaikan tarif PPN bisa lebih tinggi dari kenaikan upah.


Sudah bisa dipastikan kenaikan ini akan semakin membuat masyarakat semakin sengsara. Pasalnya hampir di semua bidang perekonomian tidak luput dari pungutan PPN. Dari mulai makanan, pakaian, properti, kendaraan, dan lain-lain.


Kenaikan bukanlah hal baru bagi masyarakat kita, hampir tiap saat pemerintah menaikkan segala hal yang dipandang dapat menambah pemasukan kas negara. Dari mulai bahan pokok sampai barang mewah, semua tidak luput dari pungutan. Yang terbaru adalah kebijakan rencana kenaikan PPN dari 11% menjadi 12% di tahun depan.


Padahal kenaikan tersebut dilakukan di tengah-tengah masyarakat yang sedang tidak baik-baik saja. Seperti problem pemutusan hubungan kerja, perampasan lahan, mahalnya biaya pendidikan, kerusakan mental, dan lain-lain. Negara yang menganut sistem ekonomi kapitalis memiliki tabiat lebih mengedepankan kebijakan yang menguntungkan para pemilik modal dan pemangku kebijakan, daripada kesejahteraan rakyat.


Mirisnya lagi pendapatan negara dari sektor pajak rawan untuk dikorupsi. Alhasil pemasukan kas negara bukannya bertambah, malah berkurang, bahkan merugi karena diambil oleh oknum yang tidak bertanggungjawab. Ujung-ujungnya rakyatlah yang akan menjadi korban dari hal tersebut.


Jika mau jujur, negara menjadikan pajak sebagai sumber pendapatan adalah kebijakan yang keliru dan tidak pro rakyat. Karena sejatinya negara memiliki sumber pendapatan yang jauh lebih besar dari pajak, yaitu pendapatan Sumber Daya Alam (SDA). Andai saja negara dengan benar mengolahnya sesuai yang telah dicontohkan oleh Rasul saw. pasti hasilnya akan mampu menyejahterakan tanpa harus memalak rakyat.


Dalam pandangan Islam kekuasaan atau jabatan adalah amanah yang harus dijalankan dengan benar, karena amanah ini suatu saat akan dimintai pertanggungjawabannya. Maka dari itu seorang penguasa akan benar-benar mengurus rakyatnya, jangan sampai kebijakan atau aturannya menyengsarakan masyarakat seperti halnya yang terjadi saat ini.


Islam telah memberi aturan terhadap seluruh manusia yang ada di muka bumi ini, termasuk aturan bagi negara dalam hal pemasukan  yang akan cukup untuk mewujudkan kesejahteraan rakyat. Dalam hal ini untuk penyusunan anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN).


Pos pendapatan dan pengeluaran dalam Islam telah diatur baitulmal (kas negara). Di mana ia sebagai salah satu bagian dari struktur negara yang akan mengatur pemasukan maupun pengeluaran kas.


Sumber pemasukan negara akan terbagi menjadi tiga pos, yakni pertama pos fai dan kharaj. Pos ini akan mendapatkan harta dari ghanimah, fai, juga dharibah atau pajak.  Dimana orang-orang kaya saja yang  diwajibkan membayar pajak dan waktunya yang temporal (di mana kas negara sudah mencukupi maka pungutan pajak akan dihentikan).


Kedua pos kepemilikan umum. Pos ini mencakup harta kepemilikan umum seperti minyak dan gas, pertambangan, laut, sungai, hutan, padang gembala, mata air, juga aset-aset yang diproteksi negara untuk keperluan khusus. Untuk pengelolaannya negara tidak boleh memberikannya pada pihak swasta atau asing,  melainkan harus dikelola secara mandiri sehingga hasilnya hanya bagi kesejahteraan rakyat.  Dalam hal ini bisa berbentuk biaya kesehatan, pendidikan, keamanan, dan urusan komunal lainnya.


Ketiga adalah pos sedekah. Pos ini menjadi tempat penyimpanan harta-harta zakat dari pertanian, perdagangan, dan peternakan.


Itulah aturan Islam, negara tidak akan membebani rakyat dengan dalih meningkatkan pemasukan kas. Gambaran di atas sudah selayaknya negara mengambil syariat Islam dalam menjalankan setiap kebijakannya. Wallahualam bissawab. [GSM]

Kerusakan Moral Generasi, Buah Buruk Sistem Demokrasi

Kerusakan Moral Generasi, Buah Buruk Sistem Demokrasi

 


Capaian generasi gemilang tersebut didapat karena Islam memiliki sistem pendidikan yang kuat berasaskan akidah Islam

Dengan metode pengajaran talqiyan fikriyan

______________________________


Penulis Reni Rosmawati

Kontributor Media Kuntum Cahaya 


KUNTUMCAHAYA.com, OPINI - Tahun telah berganti, pemilu pun sudah berlalu. Namun, nampaknya kenakalan remaja di negeri ini masih terus melaju. Bahkan di bulan Ramadan yang mulia pun hal tersebut terus terjadi, bak jamur tumbuh di musim penghujan. Astaghfirullah, ada apa dengan generasi di negeri ini?


Dilansir oleh Kompas.com (15/3/2024), sekawanan remaja telah merudapaksa seorang pelajar SMP berinisial N (15) di Lampung Utara. Menurut keterangan kepolisian Lampung, korban awalnya dijemput pelaku D untuk menonton futsal, tetapi di perjalanan D mengarahkan motornya ke sebuah gubuk arah perkebunan di Tanjung Baru.


Di sanalah D dan sembilan kawannya memaksa N untuk melayani nafsu bejatnya selama 3 hari berturut-turut, tanpa dikasih makan dan minum. Korban pun ditemukan dalam kondisi mengenaskan dan trauma berat. Sementara itu polisi sendiri baru berhasil meringkus 6 pelaku dengan 3 di antaranya adalah anak di bawah umur. Adapun 4 pelaku lainnya masih buron. 


Sementara itu, perang sarung antarpelajar kembali terjadi di beberapa wilayah di tanah air. Salah satunya di Cikarang Barat, Kabupaten Bekasi, yang memakan satu korban jiwa. (CNN Indonesia, 16/3/2024)


Sistem Demokrasi Kapitalisme Penyebab Rusaknya Moral Generasi 


Maraknya pelajar dan anak di bawah umur menjadi pelaku beragam kejahatan mencerminkan kerusakan moral generasi di negeri ini. Di sisi lain menjadi bukti bahwa kurikulum pendidikan gagal mencetak generasi yang berkualitas, berakhlak mulia, dan dapat menahan diri dari nafsu syahwatnya. 


Apabila ditelisik dengan saksama, kenakalan remaja di negeri ini disebabkan oleh beberapa faktor, di antaranya minimnya pemahaman agama (Islam) di kalangan remaja muslim. 


Di sisi lain juga dipicu oleh lingkungan yang rusak dan maraknya tontonan yang ada, yang merusak akhlak, baik di media sosial maupun media massa. Disadari maupun tidak, lingkungan sangat berpengaruh dalam membentuk kepribadian generasi. Pun demikian dengan tontonan yang juga turut berperan dalam merusak karakter generasi. 


Faktor lainnya adalah lemahnya penegakan hukum bagi para pelaku kejahatan. Hukum yang berlaku tidak mampu memberikan efek jera, sehingga para pelaku kejahatan terus bertambah. 


Inilah buah dari diterapkannya sistem demokrasi kapitalisme. Asas sekuler yang dimiliki sistem demokrasi kapitalisme, meniscayakan bahwa aturan agama harus dijauhkan dari kehidupan. Agama hanya boleh digunakan dalam ranah ibadah; salat, puasa, zakat, haji, dan nikah.


Sementara dalam pergaulan, masyarakat, juga bernegara agama tidak diperbolehkan turut campur. Bahkan pemerintah telah berencana akan menghapuskan pelajaran agama dari kurikulum pendidikan. Sebelum dihapus saja moral generasi demikian mengkhawatirkan, apalagi jika benar-benar ditiadakan.


Maka sudah bisa dipastikan aktivitas dan lingkungan di mana mereka berada akan semakin jauh dari aturan agama. Bukan saja kasus amoral dan asusila, tindak kejahatan lainnya pun akan mereka lakukan. 

 

Padahal bagi seorang muslim, agama demikian erat kaitannya dengan pembentukan karakter seseorang. Karena agama adalah benteng penjaga manusia dari segala perbuatan maksiat. 


Islam Solusi Tuntas Kerusakan Moral Generasi


Islam diturunkan Allah bukan hanya sebatas agama, melainkan sistem kehidupan. Tercatat dalam sejarah, Islam pernah diterapkan selama 13 abad di dua pertiga dunia. Selama itulah negara yang menerapkan sistem Islam mampu melahirkan generasi berkualitas, berakhlak mulia panutan umat sepanjang masa.


Seperti Muhammad Al-Fatih yang mampu menaklukkan Konstantinopel di usia 21 tahun, Ibnu Sina yang mampu menguasai ilmu kedokteran di usia 16 tahun, juga Imam Syafi'i yang hafal Al-Qur'an 30 juz pada usia 7 tahun, dan masih banyak lagi.


Capaian generasi gemilang tersebut didapat karena Islam memiliki sistem pendidikan yang kuat berasaskan akidah Islam, dengan metode pengajaran talqiyan fikriyan. Yaitu pemindahan ilmu kepada orang lain dengan cara mentransfer hasil penginderaan terhadap fakta melalui panca indra ke dalam otak yang dihubungkan dengan pemahaman sebelumnya.


Sehingga terbentuk pemikiran yang benar tentang alam semesta, manusia, dan kehidupan, serta apa hubungannya ketiganya dengan Sang Pencipta. Inilah yang akhirnya akan mampu mencetak generasi yang beriman bertakwa, jauh dari perbuatan dosa.


Islam memandang berakhlak mulia sebagai bagian dari menjalankan aturan syarak. Karena itu, negara yang menerapkan sistem Islam di masa lalu senantiasa mewajibkan rakyatnya untuk berbuat baik dan saling menyayangi.  


Agar seluruh pendidikan terhadap generasi terwujud secara alami, maka Islam menetapkan harus ada keterlibatan keluarga, sekolah, lingkungan, dan negara untuk berperan aktif dalam mendukung tumbuh kembang generasi. 


Setiap keluarga diwajibkan menanamkan akidah yang kuat kepada anggota keluarganya. Sebab, keluarga merupakan pilar pengokoh kepribadian Islam. Budaya amar makruf di tengah-tengah masyarakat pun senantiasa diterapkan oleh sistem Islam.


Sehingga jika ada yang melakukan perbuatan dosa bisa segera dicegah, sebab rakyat tak segan saling menasihati. Alhasil, setiap individu akan menjadi pribadi yang berakhlak mulia dan senantiasa taat pada syariat. 


Di sisi lain, negara juga mengawasi seluruh tontonan yang ada. Walaupun dahulu tontonan dan tayangan di media sosial juga media massa belum ada, tetapi setiap hal yang dikira akan merusak generasi dilarang keras dipertontonkan.


Hal ini didukung oleh penerapan hukuman yang tegas dan menjerakan. Sehingga tidak ada peluang bagi orang lain untuk melakukan kejahatan serupa. 


Islam juga memandang penyaluran hasrat seksual tanpa ikatan pernikahan sebagai perbuatan tercela dan kejahatan. Adapun bagi pelaku pemerkosaan, maka hukumannya dapat disamakan dengan hukuman bagi pezina, yakni rajam atau dikubur hidup-hidup lalu dilempari batu hingga meninggal bagi yang sudah pernah menikah (mukhsan) dan dicambuk 100 kali bagi pelaku yang belum menikah (ghair mukhsan).


Karena pemerkosaan termasuk zina yang memaksa. Meskipun belum ada riwayat sahih yang menjelaskan hukuman tersebut bagi pelaku pemerkosaan, tetapi para ulama menyepakati, bahwa pelaku pemerkosaan tanpa disertai ancaman senjata tajam dijatuhi hukuman sebagaimana pezina. 


Demikianlah betapa sempurnanya sistem Islam dalam mengatasi kenakalan remaja. Karena itu sebagai negeri yang mayoritas penduduknya muslim, sudah semestinya kita merindukan sistem Islam kembali diterapkan secara kafah (menyeluruh) dalam setiap sendi kehidupan. Sungguh, menolak sistem Islam diterapkan sama saja dengan kita menentang Allah dan RasulNya. Nauzubillah. Wallahualam bissawab. [SJ]

Miris, Pinjol Meningkat Saat Ramadan

Miris, Pinjol Meningkat Saat Ramadan

 


Dalam sistem pemerintahan Islam, negara akan menyediakan pinjaman modal bagi pengusaha kecil tanpa riba 

Setiap muamalah yang terjadi di masyarakat tidak ada yang melanggar syariat karena diatur oleh Islam

______________________________


KUNTUMCAHAYA.com, SURAT PEMBACA - Maraknya pinjol di dunia maya makin menambah panjang saja masalah negeri ini. Ternyata bukan hanya negara saja yang gemar berutang, tetapi rakyatnya pun tidak sedikit yang terjerat utang ribawi. Sungguh ini sebuah musibah yang sangat besar.


Bisnis.com, JAKARTA - Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI) memproyeksi penyaluran pinjaman online (Pinjol) pada saat momentum Ramadan 2024 ini akan melonjak.


Ketua Umum AFPI, Entjik S.Djafar menyampaikan bahwa asosiasi menargetkan pendanaan di industri financial technologi peer-to-peer (fintech P2P) lending saat Ramadan dapat tumbuh sebesar 12 persen.


Hingga Januari 2024, OJK mencatat nilai outstanding pendanaan untuk sektor produktif fintech lending mencapai 33,65 persen atau sekitar Rp20,33 triliun dari total outstanding pendanaan sebesar Rp60,42 triliun.


Adanya pinjol ini digadang-gadang menjadi solusi untuk para pengusaha UMKM yang kesulitan mencari modal. Mereka berpikir dengan meminjam modal kepada perusahan Fintech bisa membantu mengembangkan usaha mereka, padahal modal yang dipinjamkan jelas ada bunganya (riba). Karena negara yang menganut sistem kapitalisme, tidak mengenal halal haram.  Yang penting pengusaha untung dalam hal ini dan tidak peduli dengan akhirat. 


Bagi masyarakat sendiri ini seperti salah satu jalan mereka mendapatkan modal. Karena dianggap pinjaman online atau pinjol ini sangat mudah didapat tanpa melalui proses panjang dan syarat yang sulit seperti mengajukan pinjaman kepada perbankan. Mereka harus menunggu lama dan menyiapkan syarat-syarat yang tidak mudah, hingga akhirnya mereka pun tidak peduli apabila harus melanggar syariat.


Ini sebuah bukti bahwa negara abai terhadap kesejahteraan rakyatnya. Di mana harusnya negara menyediakan pinjaman modal untuk pengusaha kecil tanpa ada riba agar mereka terhindar dari utang ribawi, yang jelas-jelas dalam Islam diharamkan.


Dalam sistem pemerintahan Islam, negara akan menyediakan pinjaman modal bagi pengusaha kecil tanpa ada riba di dalamnya. Setiap muamalah yang terjadi di masyarakat tidak ada yang melanggar syariat karena diatur oleh Islam.

 

Seperti firman Allah dalam Al-Qur'an surah Al-Baqarah 275, "Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba."


Mekanisme permodalan UMKM dalam Islam tidak bersumber dari perusahaan Fintech atau perbankan dan yang lainnya. Namun, bersumber dari baitulmal yang merupakan lembaga keuangan milik negara. Dalam Islam, memiliki tiga sumber pemasukan yaitu pos kepemilikan negara, pos kepemilikan umum, dan pos kepemilikan zakat.


Pos kepemilikan umum dan negara dialokasikan untuk membiayai pengusaha kecil yang membutuhkan modal. Negara akan memberikan pinjaman tanpa ada bunga bahkan bisa di berikan secara cuma-cuma.


Negara juga akan tetap mengawasi setiap pengusaha UMKM agar bertransaksi atau berakad sesuai syariat Islam. Hingga muamalah yang terjadi akan membawa keberkahan bagi masyarakat dan negara. Wallahualam bissawab. [SJ


Reni Sumarni

Hilang di Puasa Ketujuh

Hilang di Puasa Ketujuh

 


Hilang di puasa ketujuh

Puncak finish masihlah jauh

Saatnya kembali berpacu

Karena Ramadhan tahun depan belumlah tentu

______________________________


Penulis Hanif Kristianto 

Sastrawan Politik dan Analis Politik-Media 


KUNTUMCAHAYA.com, PUISI - Bukannya Ramadhan belum berakhir

Kenapa wajah sudah tak terlihat parkir?

Bahkan di masjid pun tak hadir

Kenapa bisa begitu kalau dipikir-pikir?


Puasa ketujuh berarti Ramadhan belumlah utuh

Masih 23 hari menuju puncak perayaan kemenangan berpuasa

Pelan-pelan menuju kepastian

Untuk bisa terus hadir dalam perjamuan kudus Ramadhan


Hilang di puasa ketujuh

Lisan yang menyebut sholawat ketika bilal bergantian di antara Tarawih

Kini tak terdengar menggelegar

Sayup-sayup suara anak kecil yang masih setia meski bermain ceria


Hilang di puasa ketujuh

Memang tak akan ada yang mencari

Memang tak akan ada yang merugi

Bahkan Ramadhan hadir pun datang senang hati demi yang menanti


Hilang di puasa ketujuh

Pelan-pelan mulai absen nggak lagi konsen

Pikiran sudah terbang inginnya selesai permainan

Padahal ini bukan waktunya main tapi waktunya memainkan peran


Hilang di puasa ketujuh

Lagi asyik-asyiknya menapaki jalan langit tercinta

Bintang di angkasa masih setia menunggu meteor bergerak lainnya

Senyampang langit masih terbuka kenapa tangan sudah tiada menegadah?


Hilang di puasa ketujuh

Puncak finish masihlah jauh

Saatnya kembali berpacu

Karena Ramadhan tahun depan belumlah tentu


Yang boleh hilang itu dosa yang bergelimang

Yang boleh hilang itu pikiran yang ruwet seperti benang

Yang boleh hilang itu kedengkian yang menusuk dalam

Yang boleh hilang itu kemunafikan yang berkuasa di alam [SJ]

Selamatkan Generasi dengan Islam

Selamatkan Generasi dengan Islam

 


Lemahnya keimanan berakibat tidak maunya terikat dengan aturan syariat

Kebebasan bertingkah laku yang diaruskan sistem kapitalis berdampak pada makin jauhnya adab pemuda muslim dari kepribadian Islam

______________________________


Yayan Ummu Maryam

Kontributor Media Kuntum Cahaya 


KUNTUMCAHAYA.com, OPINI - Hari ini kita melihat generasi muslim makin jauh dari identitas Islam. Potensi generasi untuk membangun peradaban Islam telah dibajak menjadi sekadar tenaga kerja dan target pasar industri kapitalis. Bahkan, di era digitalisasi saat ini nasib generasi makin memprihatinkan. 


Baru-baru ini, telah terjadi perang sarung antar-remaja, dalam semalam telah terjadi di 3 lokasi di Pangkalpinang. Lokasi perang sarung pertama terjadi di Jalan Gandaria 2, Kelurahan Kacangpedang, Pangkalpinang. Kemudian lokasi kedua perang sarung terjadi di Kelurahan Bukit Besar, sedangkan yang ketiga terjadi di Jembatan Jerambah Gantung.


Mirisnya pelaku perang sarung tersebut mayoritas dilakukan oleh pelajar Sekolah Menengah Pertama (SMP) hingga Sekolah Menengah Atas (SMA). (bangka.tribunnews.com, 17/03/2024)


Sistem kapitalisme yang mengarahkan pada kehidupan konsumerisme dan hedonisme, industri gaya hidup, hiburan dan digital telah memalingkan generasi muslim dari identitas Islam yang sebenarnya. 


Pemuda Islam tidak lagi berpikir mendalam dalam aktivitas kehidupannya. Eksploitasi ini menghantarkan pada proses hegemoni akal dan pikiran. Keberadaan akal yang seharusnya digunakan untuk menemukan jalan keimanan dan mengokohkannya.


Namun, akal pemuda saat ini malah teracuni. Pemuda hanya memikirkan kesenangan kehidupan duniawi semata. Sehingga pemuda muslim makin lemah keimannya kepada Allah Swt.. 


Lemahnya keimanan berakibat tidak maunya terikat dengan aturan syariat. Kebebasan bertingkah laku yang diaruskan sistem kapitalis berdampak pada makin jauhnya adab pemuda muslim dari kepribadian Islam. Alhasil, baik dan buruk, terpuji dan tercela, halal dan haram, tidak bisa dibedakan lagi karena standarnya tidak jelas.


Melihat potret menyedihkan generasi hari ini, umat Islam harus bersegera menyelamatkan generasi agar tidak terus-menerus menjadi korban sistem kapitalisme. Umat Islam harus berupaya mengembalikan akal dan kesadaran generasi sebagai hamba Allah Swt.. 


Umat Islam harus bersatu membangun visi politik bersama dengan pemuda untuk mewujudkan generasi khairu ummah. Umat harus mampu menggambarkan bahwa Islam itu adalah solusi. Islam memiliki paradigma dalam menyelamatkan generasi. Islam menerapkan seperangkat hukum yang menyelesaikan masalah mulai dari cabang hingga ke akarnya.


Negara dalam Islam akan melindungi generasi dari perusakan apa pun. Mekanisme perlindungannya akan dilakukan secara sistemik. Meliputi berbagai aspek yang terkait langsung maupun tidak langsung, antara lain melalui berbagai pengaturan berikut:


Pertama, pengaturan sistem ekonomi. Dalam masalah ekonomi Islam mewajibkan negara menyediakan lapangan pekerjaan yang luas agar para kepala keluarga dapat bekerja dan memberikan nafkah untuk keluarganya.


Di samping itu, kebutuhan dasar seperti kesehatan, pendidikan, dan keamanan dijamin oleh negara. Sehingga beban keluarga lebih ringan dan pendidikan anak bisa berlangsung sebagaimana mestinya. 


Kedua, pengaturan sistem pendidikan. Negara dalam Islam berkewajiban menyelenggarakan pendidikan berbasis akidah Islam bagi seluruh anak. Dengan itu maka akan terbentuk kepribadian Islam pada anak yang standar berpikir dan bersikapnya adalah Islam. 


Ketiga, pengaturan sistem kontrol sosial. Masyarakat dalam Islam akan selalu mengontrol agar individu tidak melakukan pelanggaran syariat. Budaya amar sehingga orang akan sungkan untuk makruf nahi mungkar dihidupkan melakukan perbuatan maksiat. Dalam rangka kontrol sosial ini, negara mengangkat qadhi hisbah yaitu hakim yang bertugas mengawasi ketertiban umum. 


Keempat, pengaturan media massa. Media massa bebas dalam menyampaikan informasi, namun mereka terikat dengan kewajiban untuk memberikan pendidikan bagi umat. Media massa akan menjaga akidah dan kemuliaan akhlak serta menyebarkan kebaikan di tengah masyarakat.


Media yang memuat pornografi, kekerasan, dan segala yang merusak akhlak dan agama dilarang untuk tayang dan akan diberi sanksi bagi pelaku pelanggaran ini. 


Pemimpin dalam Islam memiliki dua fungsi, pertama fungsi sebagai pemelihara urusan rakyat. 


Sebagaimana Rasulullah saw. bersabda:

"Ketahuilah setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas pihak yang kalian pimpin. Penguasa yang memimpin rakyat banyak dia akan dimintai pertanggungjawaban atas rakyatnya." (HR. Al-Bukhari dan Muslim)


Kedua, pemimpin berfungsi sebagai junnah atau perisai. 


Rasulullah saw. bersabda:

"Sungguh imam (Khalifah) itu adalah perisai orang-orang akan berperang di belakang dia berlindung dari musuh dengan kekuasaanya." (HR. Muttafaqun 'alayh)


Oleh karena itu, tidak ada jalan lain untuk  menyelamatkan generasi dengan mengembalikan generasi kepada Islam secara kafah. Yang akan membangkitkan generasi dan menghantarkan Islam kepada puncak kegemilangannya. Wallahualam bissawab. [SJ]

Penantian THR, Harap-Harap Cemas

Penantian THR, Harap-Harap Cemas

Sungguh miris, pekerja honorer dan perangkat desa, tidak semuanya memperoleh THR

Hal ini, seperti mimpi sejahtera dalam sistem kapitalisme yang diterapkan hari ini

____________________


Penulis Lia Haryati, S.Pd.i

Kontributor Media Kuntum Cahaya, Pendidik dan Pendakwah Ideologis


KUNTUMCAHAYA.com, ANALISIS - Topik hangat yang sedang diperbincangkan bahwa Tunjangan Hari Raya (THR) yang dinanti-nanti oleh masyarakat tidak akan dirasakan lagi, baik sebagai pegawai negara maupun pegawai swasta. Selama ini, rakyat hanya memperoleh gaji rutin setiap bulannya. Namun, momen Ramadan membawa berkah, sebab di bulan ini para pekerja akan memperoleh THR dengan nominal satu kali gaji. Maka, pada bulan ramadan rakyat memperoleh dua kali pemasukan.


Pemberian uang THR, membuat masyarakat yang bekerja sedikitnya bisa merasakan kesejahteraan. Tidak sedikit uang THR dipergunakan para keluarga untuk membeli beberapa baju baru, sajian makanan baik kue atau makanan lainnya, sedikit oleh-oleh untuk keluarga ketika pulang kampung, bahkan sampai ongkos mudik. Walaupun, setelah lebaran uang THR habis nyatanya masyarakat merasa bahagia sebab bisa berbagi rezeki di hari kemenangan Idul Fitri.


Tapi, tahun 2024 ini THR yang dinanti menjadi harap-harap cemas para pegawai. Apakah mereka bisa merasakan kembali kesejahteraan dari uang THR? Pemerintah sudah memastikan bahwa perangkat desa dan pekerja honorer tidak akan mendapatkan THR dan gaji ke-13 pada tahun 2024 ini.


Sebagaimana pernyataan Menteri Dalam Negeri bapak Tito Karnavian menjelaskan perangkat desa, termasuk kepala desa, mereka tidak termasuk aparatur sipil negara (ASN) sebagaimana yang diatur undang-undang. Maka dari itu, pemerintah tidak akan menganggarkan THR untuk kelompok tersebut.


Di mana “Perangkat desa memang aturannya tidak ada, di dalam undang-undang. M11w22ereka bukan bagian dari ASN. Sebab itu, perangkat desa dan kepala desa tidak termasuk dalam pemberian tunjangan hari raya (THR) yang diberikan pemerintah,” kata Tito saat konferensi pers, di Jakarta, Jumat.


Berdasarkan pengalaman sebelumnya, perangkat desa menerima THR. Namun, anggarannya diambil dari dana desa bukan dari pemerintah khusus untuk THR. Pak Tito berbicara bahwa ketentuan terkait pemberian THR kepada perangkat desa dan kepala desa akan dibahas lebih lanjut bersama asosiasi dan Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati.


Jadi “Nanti akan kami bicarakan dengan asosiasi atau Menteri Keuangan kalau ada pendapat lain. Pemerintah berprinsip ingin menyejahterakan, tapi tidak dengan memberatkan dana desa,” ujar Tito lagi.


Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Abdullah Azwar Anas menyatakan tenaga honorer juga tidak mendapatkan THR dan gaji ke-13, kecuali tenaga honorer yang telah diangkat pemerintah untuk menjadi Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK).


Dipertegas kembali bahwa “Kami sampaikan kepada pihak honorer tidak dapat THR dan gaji ke-13,” ujar Anas.


Di mana pemerintah telah menerbitkan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 14 Tahun 2024, telah menetapkan bahwa aparatur sipil negara (ASN) mereka akan menerima pencairan penuh tunjangan hari raya (THR) dan gaji ke-13 pada tahun ini. Jum'at (m.antaranews.com 15/03/24)


Seharusnya, semua pegawai negara berhak mendapatkan uang THR tanpa ada perbedaan. Sebab, mereka menjadi bagian dari negara bukan hanya ASN dan PPPK saja. Pemberian uang THR diambil dari anggaran APBN negara. Sudah seharusnya, mereka yang bekerja dan menjadi bagian dari negara patut memperoleh kesejahteraan dari uang THR tersebut secara rata tidak memihak kepada sebagian semata.


Bayangkan bagaimana dengan nasib para tenaga honorer yang bekerja untuk negara, tapi keberadaan mereka diabaikan. Padahal kita mengetahui untuk memenuhi kebutuhan hidup saat ini tidak murah dan tidak mudah. Belum lagi gaji yang mereka terima, tidak layak kadang harus menunggu berbulan-bulan untuk mendapatkan gaji yang kecil, di bawah gaji ASN. Hal yang tidak dibohongi, pasti ada harapan agar pada momen lebaran mereka memperoleh uang THR untuk melengkapi kebahagiaan mereka dalam menyambut haru Hari Raya Idul Fitri. Sayangnya, harapan itu akan hilang dengan adanya pernyataan dari pemerintah beberapa minggu lalu.


Tidak ratanya pembagian uang THR seolah Pemerintah membeda-bedakan antara pegawai yang satu dengan pegawai lainnya berdasarkan status ASN atau bukan ASN. Maka, jelas ini bagian dari kezaliman, padahal kita sadar kebutuhan hidup itu tidak mudah dan murah, bahkan bisa dua kali lipat pengeluaran kita terlebih bulan ramadan ini.


Sungguh miris, pekerja honorer dan perangkat desa, tidak semuanya memperoleh THR. Hal ini, seperti mimpi sejahtera dalam sistem kapitalisme yang diterapkan hari ini. Dalam sistem kapitalisme kekayaan alam dikuasai oleh segelintir oligarki atau pemilik modal. Hasilnya, kekayaan alam yang harusnya masuk ke APBN lalu digunakan untuk kesejahteraan masyarakat, malah dirasakan para oligarki.


Kantong para oligarki gemoy sedangkan anggaran APBN kurus. Wajar, jika saat ini negara sangat berharap pada masyarakat melalui  pemasukan pajak dan utang. Sedangkan sumber lain, tidak ada. Alhasil, anggaran menjadi sempit dan membengkak.


Pemasukan negara yang minim membuat cekak, hal ini menjadikan pemerintah hitung-hitungan ketika hendak memberikan hak rakyat, termasuk uang THR. Pemerintah seharusnya memberikan hak yang sama kepada seluruh pegawai, apapun statusnya, tanpa membedakan antara lainnya. Faktanya tidak demikian, para pegawai negara yang sudah kaya justru makin besar THR, sedangkan para pegawai honorer yang kekurangan justru tidak mendapatkannya.


Sangat jauh berbeda dengan sistem Islam. Di mana, baitulmal saat itu memiliki 12 pos penerimaan tetap. Syekh Abdul Qadim Zallum menjelaskan dalam kitab Al-Amwal fi Daulah al-Khilafah bahwa terdapat tiga bagian pemasukan negara. (1). Bagian fai dan kharaj. (2). Bagian pemilikan umum. (3) Bagian sedekah. 


Dan setiap bagian masih memiliki pos-pos untuk mengatur pemasukan bagi baitulmal. Dengan banyak pos sebagai pemasukan negara, wajar pemasukan saat itu sangat besar sehingga negara mampu menjamin kesejahteraan untuk rakyatnya. Semua ini tidak lepas dari penerapan sistem Islam yang mampu memberikan jaminan kesejahteraan hakiki. Sehingga, terpenuhi seluruh kebutuhan dari sandang, pangan, papan, kesehatan, pendidikan, dan keamanan bagi tiap-tiap individu rakyat secara kontinue, artinya kesejahteraan yang diberikan negara bukan hanya pada momen-momen tertentu seperti Hari Raya.


Kehadiran negara dengan sistem Islam memberikan jaminan pemenuhan kebutuhan pokok ini bagi tiap-tiap rakyat, bukan hanya pegawai ASN saja. Tapi seluruh warga negara, baik muslim maupun nonmuslim, pegawai negara maupun bukan, mereka semua memiliki hak yang untuk memperoleh jaminan kesejahteraan dari Daulah Khilafah.


Dalam Islam yang menjadi pegawai negara, berhak mendapat kesejahteraan yang sama. Maka negara akan menjalankan sistem Islam terkait pengupahan (ijarah). Sebagaimana dalam firmanNya: “Berikanlah kepada mereka upahnya.” (QS Ath-Thalaq: 6)


Bagi pegawai yang memperoleh upah sesuai dengan akad yang disepakati dengan negara. Maka, akad tersebut mencakup kepada jenis pekerjaan, jam kerja, tempat kerja, dan pemberian upah yang disepakati oleh kedua belah pihak yang jumlahnya berbeda-beda sesuai besarnya tanggung jawab yang dipikulnya. Wallahualam bissawab. [Dara]

Membangun Karakter Pemimpin

Membangun Karakter Pemimpin

 


Pemimpin yang mampu memberikan perintah, senantiasa mengarahkan, membangkitkan ketakwaan bagi orang-orang yang dipimpinnya

Seorang pemimpin organisasi harus bisa mengatur anggota-anggotanya untuk taat kepada pemimpinnya


Bersama Ustazah Dedeh Wahidah Achmad

______________________________


KUNTUMCAHAYA.com, TSAQAFAH - Kajian Tsaqafah Keluarga bersama Ustazah Dedeh Wahidah Achmad yang diunggah melalui channel youtube Muslimah Media Center (MMC), membahas secara jelas dan lengkap terkait apa saja yang harus dilakukan agar anak-anak kita menjadi generasi yang mempunyai jiwa atau karakter seorang pemimpin. Dan, berikut ini penjelasan lengkapnya.


Yang namanya pemimpin, dia adalah seorang amir. Seorang pemimpin harus memiliki kemampuan untuk memberikan perintah kepada orang-orang yang dipimpinnya. Seorang pemimpin organisasi harus bisa mengatur anggota-anggotanya untuk taat kepada pemimpinnya.


Dengan ketaatan itu, dengan perintah tersebut, apa yang dicanang oleh organisasi, oleh lembaga, ataupun oleh keluarga bisa terwujud. Sebaliknya gagal menjadi amir, gagal memberikan perintah kepada anggota yang dipimpinnya.


Contohnya dalam keluarga, seorang ayah gagal memberikan perintah kepada istrinya, kepada anak-anaknya, dan anggota keluarga yang berada di bawah kepemimpinannya. Maka, inilah awal dari kegagalan tujuan yang ingin dia wujudkan. 


Tentu saja, kita tidak menginginkan adanya kegagalan kepemimpinan dalam bentuk apa pun. Kita tidak berharap pemimpin negara gagal memimpin rakyatnya, pemimpin organisasi tidak sukses dalam memimpin organisasinya.


Atau, dalam lingkup yang paling kecil, seorang kepala keluarga gagal mengarahkan keluarganya, gagal membangun keluarga yang sakinah, bahagia hidup di dunia dan berharap keselamatan di akhirat kelak. 


Maka dari itu, penting bagi kita sebagai seorang ibu, bagi siapa pun, yang menginginkan akan lahirnya pemimpin-pemimpin yang mampu memberikan perintah serta memahami apa yang diperintahkan, yang menginginkan anak-anak kita, generasi kita, lahir menjadi pemimpin sejati. Pemimpin yang mempunyai karakter sebagai amir. Untuk itu kita harus memahami apa saja yang harus kita lakukan supaya putra dan putri kita memiliki karakter sebagai amir. 


Ada beberapa hal yang harus kita pahami, bahwa seorang amir itu:


Pertama, harus menguasai perkara yang akan diperintahkan. Tidak mungkin seseorang bisa menyampaikan perintah kepada orang lain, sementara dia sendiri tidak memahami apa yang dia perintahkan.


Seorang ayah tidak mungkin sukses memberikan perintah kepada anak-anaknya, kepada istrinya, ketika ia tidak paham dengan apa yang diperintahkan. Maka, dia pun tidak mungkin bisa menyuruh anak dan istrinya, bahkan orang lain untuk melakukan sesuatu.


Kedua, paham filosofi dari perintahnya. Kalau kita lihat, kita renungkan, seseorang melakukan suatu perbuatan atau meninggalkan perbuatan itu karena ada dorongan, paling tidak ada dua dorongan yaitu:


Dorongan hukum. Seseorang yang tahu bahwa suatu perkara itu hukumnya wajib di sisi Allah, maka dengan pengetahuannya tersebut dia akan terdorong sekalipun itu sulit, meskipun dia malas, atau mungkin banyak kendala lain. Dia akan tetap berusaha melakukan perbuatan tersebut. Dan, yang bisa memotivasi seseorang untuk melakukan suatu perbuatan itu karena dia tahu urgensitasnya perbuatan tersebut.


Untuk itu, seorang pemimpin harus mampu menyampaikan filosofi, paling tidak dua hal tersebut kepada orang-orang yang dipimpinnya. Kenapa harus melakukan? Apa status hukumnya di sisi Allah?


Bagi seorang muslim bahwa segala amal perbuatan itu terikat dengan hukum syara. Seorang pemimpin tidak boleh lupa untuk menyampaikan kepada anggota tentang status hukum perbuatan tersebut, apakah wajib, sunah, mubah, makruh ataukah haram.


Seorang ayah, kenapa menyuruh anaknya untuk salat berjamaah? Maka dia sampaikan bagaimana status hukum salat berjamaah, keutamaan salat berjamaah tersebut. Seorang ayah kenapa menyuruh putrinya yang sudah baligh untuk menutup aurat dengan sempurna, bagaimana status hukumnya, kenapa dia melarang pacaran, kenapa dia melarang berkhalwat dan lain sebagainya. 


Seorang pemimpin juga harus mampu menggambarkan tentang risiko atau dampak buruk ketika perintah itu tidak dilaksanakan. Seorang ayah menyampaikan kepada anaknya kenapa tidak boleh tidur terlalu malam, kenapa tidak boleh begadang.


Maka harus juga dijelaskan dampak buruknya, baik dari segi medis, sosial, atau dampak dari pekerjaan anak itu sendiri. Misal, takut kesiangan masuk sekolah, gampang terserang penyakit, pekerjaan terbengkalai dan lain-lain.


Ketiga, menyampaikan perintah dengan jelas dan tegas. Seorang pemimpin ketika menyampaikan perintah harus jelas agar perintah tersebut bisa dipahami. Seorang ayah ketika menyuruh istrinya, maka harus dipastikan apakah rangkaian kata-kata yang ia sampaikan bisa dimengerti oleh sang istri atau tidak. Ini erat kaitannya dengan skill berbicara.


Orang yang tidak jelas menyampaikan pembicaraan, tidak akan membuat orang yang mendengarnya paham, mampu mendorong untuk melakukan suatu perbuatan. Tapi justru sebaliknya, akan membuat orang yang mendengarnya bingung. 


Di sinilah pentingnya bagi kita sebagai orang tua mengevaluasi diri ketika anak tidak segera melakukan apa yang kita inginkan. Tapi sebaliknya yang dilarang justru dilakukan, seolah-olah menantang. Kita jangan cepat menyimpulkan kalau anak membangkang, tidak nurut orang tua, karena ada kemungkinan si anak tersebut tidak memahami perintah yang kita sampaikan.


Begitupun seorang pemimpin, dia harus memastikan apakah yang disampaikan itu dapat dipahami oleh lawan bicaranya atau tidak. Pemimpin organisasi harus dipahami oleh anggota organisasinya. Seorang ayah juga harus memastikan apakah istrinya memahami apa yang ia katakan. Jangan sampai apa yang diharapkan tidak terjadi karena yang disampaikan tidak dipahami.


Keempat, harus memahami kondisi orang-orang yang dipimpin. Kadang seorang pemimpin tidak memahami apa yang terjadi di lapangan, pada kondisi anggotanya, ketika itu terjadi ia akan memberikan perintah yang tidak sesuai dengan kondisi dan kemampuan anggotanya. Sehingga orang yang diperintah tidak melakukan perintahnya, bukan karena tidak mau taat.


Seorang anak bukan karena ia membangkang ketika tidak membantu ibunya membersihkan rumah, boleh jadi ia sedang sakit, atau ada pekerjaan lain yang menuntut untuk segera diselesaikan.


Seorang ibu mungkin akan menilai anaknya sebagai anak yang tidak nurut ketika dia tidak memahami kondisi anaknya. Hal berbeda jika ibu memahami kondisi anaknya, mungkin dia sedang sibuk, sedang sakit, bukan marah atau kesal, sehingga ibu akan tumbuh rasa sayang. Dan boleh jadi ibu akan mendoakan anaknya.


Ketika kita mendidik anak-anak kita untuk menjadi pemimpin, maka beritahukan kepada mereka untuk selalu memahami kondisi orang-orang di sekitarnya, orang-orang yang dipimpinnya, sehingga tidak sembarangan, tidak asal-asalan, ketika memberikan perintah. Sebaliknya, ia akan memberikan perintah sesuai dengan keadaan orang yang diperintahnya.


Kelima, mampu memberikan motivasi ruhiyah.


Membangun idrak silla biillaah. Saat kita tahu bahwa kehidupan di dunia ini bukan hanya sebatas dunia, apa pun yang kita lakukan ingin bernilai ibadah di sisi Allah. Termasuk anggota yang dipimpin bukan hanya semata taat kepada pimpinannya, bukan hanya karena takut kepada pimpinannya, tapi ada yang lebih luar biasa karena dia mengharapkan rida Allah Swt..


Dalam pandangan Islam, taat kepada pemimpin hukumnya wajib. Dan, hukum kewajiban ini bukan semata kepada individu pemimpin, tapi karena kita tahu status hukumnya, yaitu hakikatnya ia sedang menaati perintah Allah Swt..


Dan, kalau dia melakukan pelanggaran konsekuensi bukan karena takut kepada pemimpin, bukan karena takut dipecat, tapi karena ada azab di sisi Allah yang menunggunya di akhirat kelak.


Jika pemimpin mampu membangun motivasi ketakwaan kepada anggota yang dipimpinnya, maka akan terbangun ketaatan hakiki. Sesuai dengan hadis Rasulullah saw. bersabda:


"Demi Allah, Allah menunjukkan satu orang lebih baik bagi engkau daripada memiliki unta merah." (HR. Imam Bukhari)


Hadis ini menjelaskan balasan dari Allah Swt. kepada seorang pemimpin yang bisa mengarahkan kepada kebaikan, mampu membangun ketaatan orang-orang yang dipimpinnya sehingga melakukan amal saleh karena Allah Swt.. Maka lebih baik baginya daripada mendapatkan unta merah (harta yang melimpah).


Semoga hadis tersebut menjadi pendorong bagi kita sebagai orang tua, mampu menjadi orang tua pendidik. Mampu mengarahkan putra dan putri kita menjadi generasi pemimpin, berkarakter amir. Pemimpin yang mampu memberikan perintah, senantiasa mengarahkan, membangkitkan ketakwaan bagi orang-orang yang dipimpinnya.


Semoga kita mampu untuk mendidik anak-anak kita dengan cara yang benar sehingga melahirkan generasi pemimpin berjiwa amir. Aamiin. (MKC/Tinah Ma'e Miftah)

Rahasia Sukses Mendidik Anak di Ramadan

Rahasia Sukses Mendidik Anak di Ramadan

 


Jika mendidik butuh peran serta ayah dan bunda

Tidak bisa membebankan semuanya pada ibu

______________________________


KUNTUMCAHAYA.com, PARENTING - Ramadan menjadi momen spesial keluarga muslim. Tak terkecuali mengajak anak-anak untuk mengisinya dengan kegembiraan. Mau tak mau, orang tua juga butuh ilmu untuk membersamai anak-anak.  


Karenanya, Rabu (20/03/2024) Webinar Parenting Ways #1 mengupas tuntas “Cara Mendidik Anak Ini Hanya Bisa di Ramadan”. Hadir sebagai narasumber, Ustaz M Rizky Nafis (Owner Sekolah Tahfidz Plus Khoiru Ummah Wonoayu). Beliau juga konsultan parenting dan keluarga samara. Acara ini didukung UTHAMA Foundation dan STP Khoiru Ummah Wonoayu Sidoarjo.


Ustaz Nafis, panggilan akrabnya, mengawali penjelasannya jika mendidik butuh peran serta ayah dan bunda. Tidak bisa membebankan semuanya pada ibu. Membutuhkan kerja sama suami istri.


“Pertama, pahami prosesnya dalam mendidik anak. Kedua, mendampingi perkembangan anak. Ketiga, mengevaluasi tiap saat bersama pasangan. Keempat, merencanakan langkah berikutnya,” tandasnya.


Berkaitan dengan mendidik anak di Ramadan, Ustaz Nafis membeberkan aktivitas yang bisa dilakukan bersama. Kegiatan Ramadan dirancang sebagai berikut:


1. Tadarus Al-Qur’an

2. Salat Berjamaah

3. Sahur dan Buka Bersama

4. Berbagi

5. Mendengarkan Kisah Islami

6. Bermain Puzzle Islamis sangat mendukung perwujudan kegiatan di atas. Pendampingan orang tua sangat dibutuhkan. Seperti tadarus Al-Qur’an dan sholat berjamaah, umat pun berbondong-bondong. 


Beberapa pertanyaan yang muncul di antaranya:


Bunda Farza dan Aisyah

Assalamualaikum, Ustaz bagaimana cara mendidik anak bagi ibu yang single parent? Karena kadang jam 03.30 sudah menyiapkan makanan untuk dijual. Kalau murojaah sama kakaknya tidak mau. Terima kasih. 


Ayah Fatkur 

Assalamualaikum, saya bertanya kalau ayah kerja sering luar kota, cuma komunikasi lewat telepon, apa bisa efektif? Mohon pencerahannya.


Ayah Bambang H 

Assalamualaikum, Ustaz maaf sebelumnya terlambat masuk karena waktu daerah kami WITA. Baru pulang tarawih. Kebetulan anak-anak kami ada yang umur 3 tahun. Kakak-kakaknya ada yang 5, 6, 12 dan 14 tahun. Nah untuk anak kami yang masih 3 tahun, sudah bisa juga enggak diikutkanuntuk pembiasaan seperti penjelasan Ustaz tadi? Terima kasih. 


Satu per satu pertanyaan mendapatkan jawaban yang memuaskan. Langkah teknis dan praktis pun dibeber jelas. Sehingga ayah bunda yang hadir mampu memecahkan problem yang unik di setiap keluarga.


Peserta yang hadir begitu antusias mengikuti webinar Parenting Ways. Peserta menyimak dengan saksama dan memperhatikan. Insya Allah agenda ini akan berkelanjutan. Jadi, ayah bunda yang belum hadir pada edisi perdana, bisa mendaftar di agenda berikutnya. [MKC/Hanif]