Alt Title

Titip Anak demi Kerja Pulang Bawa Luka

Titip Anak demi Kerja Pulang Bawa Luka



Bagaimanapun bagusnya kualitas daycare

tidak akan mampu menggantikan peran keluarga


_______________________


KUNTUMCAHAYA.com, SURAT PEMBACA - Fenomena kekerasan fisik di daycare (tempat penitipan anak) hari ini menjadi ironi yang menyakitkan.Tempat yang diharapkan menjadi rumah kedua bagi anak-anak malah berubah menjadi tempat penyiksaan fisik maupun psikis. Dalam kasus dugaan kekerasan di tempat penitipan (daycare) di Yogyakarta.


Kepala Dinas P3AKB Sumut Dwi Endah Purwanti SS,M.Si menegaskan bahwa pengawasan dilakukan secara kolaboratif bersama pihak terkait untuk memastikan setiap daycare memenuhi standar layanan dan perlindungan anak sesuai ketentuan dengan memperhatikan tumbuh kembang anak, pola pengasuhan dan stimulasi yang diberikan dengan adanya kurikulum harian dan kompetensi pengasuh memberikan pelatihan serta pemahaman dalam menangani anak usia dini serta fasilitas daycare yang cukup memadai. (Medan waspada, 30-04-2026)


Dalam perspektif kapitalisme, anak dipandang sebagai komunitas jasa demi meraih keuntungan semata (cuan). Ditambah lagi negara memfasilitasi tren ini melalui regulasi yang mewajibkan penyediaan daycare di tempat kerja. Salah satunya seperti Undang-Undang 35/2024 tentang kesejahteraan ibu dan anak (KIA) mewajibkan pemberi kerja menyediakan (1) fasilitas pelayanan kesehatan,(2) ruang laktasi, (3) penitipan anak (daycare).


Potensi keuntungan akan sangat besar ketika jumlah anak yang dititipkan makin meningkat. Demi efisiensi pemilik daycare kerap menerapkan rasio pengasuh yang tidak ideal semisal satu pengasuh untuk sepuluh balita dengan upah yang minim. Kondisi fisik yang lelah dan tidak ada ikatan emosional terhadap anak menciptakan ruang yang rawan kekerasan akibatnya kualitas pengasuhan terabaikan.


Bagaimanapun bagusnya kualitas daycare tidak akan mampu menggantikan peran keluarga. Terutama dalam memberikan kasih sayang dan stimulasi optimal bagi anak. Ditambah lagi dalam sistem ini, mendorong para perempuan khususnya ibu menjadi penopang ekonomi keluarga yang kemudian dibalut dengan isu gender dan pemberdayaan perempuan.


Hal ini sangat berbeda dengan pandangan Islam. Anak adalah amanah yang kelak dipertanggungjawabkan di hadapan Allah Swt.. Mengasuh anak adalah kewajiban orang tua dan peran tersebut tidak bisa digantikan oleh siapapun. Apalagi memberikan kepada orang lain.


Hak pengasuh utama adalah ibu sebagaimana dijelaskan dalam Kitab Ad-Dustur pasal 122 dijelaskan pengasuhan (hadhana) adalah kewajiban atas perempuan sekaligus hak bagi perempuan tersebut muslim atau nonmuslim selama anak tersebut memang butuh pengasuhan.


Seorang wanita mengadu pada Rasulullah saw., “Wahai Rasulullah anakku ini dahulu akulah yang mengandungnya, akulah yang menyusui dan memangkunya dan sesungguhnya ayahnya yang telah menceraikan aku dan ingin mengambilnya dariku.” Mendengar pengaduan itu Rasulullah saw. pun menjawab engkau lebih berhak mengasuhnya selama engkau belum menikah. (HR. Ahmad)


Dengan demikian, paradigma berpikir yang harus dibangun seorang muslim bahwa anak merupakan amanah dan ladang amal bagi orang tuanya. Hal ini mendorong orang tua untuk memberikan pendidikan yang terbaik. Ibu berupaya menjadi pendidik utama dengan senantiasa menuntut ilmu dan meningkatkan kapasitas diri karena sadar akan pertanggungjawabannya kelak.


Islam akan melindungi perempuan dari pengaruh sekularisme yang memposisikan perempuan semata sebagai alat penghasil cuan. Dalam hal ini solusi pengasuhan tidak diarahkan pada peningkatan jumlah dan kualitas melainkan pada penguatan dan mengembalikan peran ibu sebagai pengasuh utama.


Islam menyediakan seperangkat aturan agar fungsi keibuan berjalan dengan baik. Pertama, meringankan dalam ibadah seperti bolehnya ibu hamil dan menyusui tidak berpuasa agar fokus pada tumbuh kembang anak. Kedua, mewajibkan para ayah untuk memenuhi nafkah ibu dan anak. Ketiga, negara bertanggung jawab menjamin hak anak, pengasuhan yang layak, pendidikan, nafkah, gizi, tempat tinggal dan lingkungan yang sehat.


Alhasil, solusi sejati bukan segera memperbaiki daycare. Melainkan mengganti sistem kehidupan dari sistem kapitalisme menuju sistem Islam yang menjaga, anak, keluarga dan masa depan umat secara hakiki. Wallahualam bissawab. [Dara/MKC]


Ariyanti Husna