Alt Title

Seorang Siswa Meninggal Karena Sepatu Kekecilan Islam Solusinya

Seorang Siswa Meninggal Karena Sepatu Kekecilan Islam Solusinya



Dalam Daulah Islam pendidikan dijamin oleh negara

Bedanya ini tidak tercantum dan ditulis saja. Namun benar-benar diterapkan


_______________________


Penulis Ayu Lestari 

Kontributor Media Kuntum Cahaya 


KUNTUMCAHAYA.com, OPINI - Seorang siswa bernama Mandala Rizky Syaputra berusia 16 tahun yang sekolah di SMKN 4 Samarinda meninggalkan kisah pilu bagi dunia pendidikan.


Mandala menghembuskan nafas terakhirnya lantaran kondisi fisiknya yang melemah. Di duga karena memakai sepatu kekecilan setelah ia menjalankan tugas Praktik Kerja Lapangan (PKL) di sebuah swalayan di Samarinda sebagai pramuniaga.


Di mana, selama praktik banyak mengharuskannya untuk berdiri. Sehingga terjadilah infeksi pada bagian kakinya sampai membengkak, ia dikabarkan meninggal dunia pada 24 April 2026. (MetroTV.com, 6-5-2026)


Berita ini dengan cepat menyebar ke seluruh penjuru Nusantara. Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kalimantan Timur menerangkan bahwa Mandala sempat memberi kabar dengan mengirimkan foto kepada pihak sekolah, dan pihak sekolah sudah menindaklanjuti dengan memberikan bantuan dana. Namun, terkendala saat menjalani pemeriksaan lebih lanjut di rumah sakit lantaran kartu BPJS yang tidak aktif.


Tidak ketinggalan Wakil Ketua Komisi X DPR Hadrian Irfani memberikan pendapat dan mengungkapkan bahwa ini adalah alarm penting bagi dunia pendidikan di Indonesia. Menyarankan agar pemerintah lebih peka terhadap kebutuhan dan kesejahteraan peserta didik secara menyeluruh. (kompas.com, 5-5-2026)


Lagi-lagi kabar tak menyenangkan datang dari dunia pendidikan, di mana sebelumnya pernah kita dengar kabar seorang siswa di NTT yang bunuh diri lantaran tak mampu membeli buku dan pena. Kali ini terdengar lagi dengan permasalahan yang hampir serupa, karena permasalahan kesulitan ekonomi yaitu berita meninggalnya seorang siswa disebabkan memakai sepatu sempit dalam jangka waktu yang lama. Lantas dari kasus ini siapa yang berhak disalahkan? 


Di Indonesia kesejahteraan pendidikan dijamin dalam hak konstitusi yang tercantum dalam UUD 1945 pasal 31 "yang menegaskan bahwa setiap warga negara berhak mendapatkan pendidikan. Namun kenyataannya aturan itu tidak diterapkan dengan baik. Terbukti dengan banyaknya kasus putus sekolah karena biaya yang tak mencukupi. Ironinya sampai ada yang mengorbankan jiwa.


Kesalahan pertama terletak pada sistem yang diterapkan. Indonesia menggunakan sistem kapitalisme di mana pemilik modal menjadi pemenangnya. Terbukti sistem ini merugikan semua sektor kehidupan, termasuk pendidikan. Tak jarang kita lihat yang kaya mampu menempuh pendidikan di sekolah elit dengan fasilitas yang lengkap, namun yang miskin tertindas, bahkan banyak ditemukan rakyat miskin sekolah di ruang kelas sempit, lapuk dan tak layak.Dengan kursi dan meja seadanya. Hal ini menjadi bukti nyata kegagalan sistem kapitalisme memberikan jaminan kesejahteraan dan pelayanan dalam dunia pendidikan. 


Dalam Daulah Islam pendidikan dijamin oleh negara. Bedanya ini tidak tercantum dan ditulis saja. Namun benar-benar diterapkan seperti yang terjadi pada masa kejayaan dinasti Abbasiyah yang mampu mendirikan bayt al hikmah. Sebuah perpustakaan besar yang menjadi pusat peradaban ilmu pengetahuan di masa itu. Tentu dengan akses yang mudah dan tidak banyak syarat dan dipastikan gratis tanpa bayaran seperpun karena yang menjamin biaya pendidikan di daulah Islam adalah pemerintah.


Rasulullah shalallahu alaihi wassalam bersabda: "Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan di mintai pertanggung jawaban." (HR. Bukhari dan Muslim) 


Dari hadis di atas ketika seseorang berkomitmen menjadi pemimpin ia harus mempertanggung jawabkan amanah yang diembannya. Rasullulah juga menegaskan bahwa "pemimpin suatu kaum adalah pelayan mereka." (HR. Abu Nu'aim) 


Hadis ini menerangkan bahwa pemimpin bukan penguasa seperti yang tergambar saat ini. Mereka adalah seseorang yang bebankan amanah untuk menjadi pelayan umat. Ketika mereka menjalankan amanahnya dengan baik balasannya surga. Namun, jika mereka berkhianat diharamkan surga baginya. 


Kita memang diperintahkan untuk menaati pemerintah yang berkuasa saat ini, namun syarat pertama menjadi pemimpin adalah taat kepada Allah dan rasulnya, Allah Swt. berfirman dalam QS. An- Nisa : 59 : "Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nabi Muhammad) serta ululamri (pemegang kekuasaan) di antara kamu. Jika kamu berbeda pendapat tentang sesuatu, kembalikanlah kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rasul (sunahnya) jika kamu beriman kepada Allah dan hari Akhir. Yang demikian itu lebih baik (bagimu) dan lebih bagus akibatnya (di dunia dan di akhirat)"


Maka, kembali kepada sistem Islam yang mengatur seluruh aspek kehidupan dengan berlandaskan Al-Qur'an dan Sunnah adalah solusi yang tepat untuk menyelesaikan permasalahan ummat saat ini termasuk dalam masalah pendidikan. Wallahualam bissawab. [Dara/MKC]