Refleksi Hardiknas: Pendidikan di Persimpangan Peradaban
OpiniHardiknas harus menjadi alarm keras bagi semua pihak
Negara wajib menghadirkan solusi hakiki bukan tambal sulam
____________
Penulis Yulfianis
Kontributor Media Kuntum Cahaya dan Aktivis Dakwah
KUNTUMCAHAYA.com, OPINI- Panitia Seleksi Nasional Penerimaan Mahasiswa Baru atau SNPMB 2026 menemukan sejumlah praktik kecurangan yang dilakukan peserta Ujian Tulis Berbasis Komputer-Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (UTBK-SNBT) di hari pertama pelaksanaan. (www.tempo.co, 21-04-2026)
Hari Pendidikan Nasional yang diperingati setiap 2 Mei semestinya menjadi momentum evaluasi mendasar bagi arah pendidikan bangsa. Namun, realitas hari ini menunjukkan bahwa peringatan tersebut kerap terjebak dalam seremonial tanpa makna. Upacara digelar, pidato disampaikan, tetapi krisis pendidikan terus berulang tanpa solusi yang menyentuh akar persoalan.
Di tengah gegap gempita tersebut, fakta berbicara pendidikan Indonesia semakin buram dan memprihatinkan. Bukan hanya dari aspek fasilitas tetapi juga dari sisi tujuan, nilai, dan arah tujuan pendidikan yang ingin dicapai.
Pendidikan Tanpa Arah
Salah satu potret nyata kegagalan pendidikan hari ini adalah kesenjangan yang begitu mencolok antara kota dan desa. Di perkotaan, pendidikan hadir dengan fasilitas lengkap, tenaga pendidik memadai, dan akses teknologi yang luas. Sementara pelosok negeri, di desa dan kampung, anak-anak harus mempertaruhkan keselamatan demi menuntut ilmu menyeberangi sungai, melewati jembatan rapuh, bahkan berjalan jauh tanpa kepastian keamanan.
Padahal, pendidikan adalah hak setiap anak bangsa tanpa diskriminasi. Allah Swt. berfirman: “...Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.” (QS. Al-Mujadilah: 11)
Namun, yang terjadi hari ini pendidikan justru menjadi cermin ketimpangan sosial. Lebih dari itu, pendidikan kehilangan ruhnya dalam membentuk manusia berilmu sekaligus beriman. Sekolah tampak megah secara fisik tetapi rapuh dalam nilai. Ilmu tidak lagi membentuk kepribadian, melainkan sekadar menjadi alat mencapai angka dan sertifikat.
Sekularisasi Pendidikan
Akar persoalan yang lebih dalam adalah penerapan sistem pendidikan berbasis sekularisme yang memisahkan agama dari kehidupan. Pendidikan diarahkan untuk memenuhi kebutuhan pasar, mencetak tenaga kerja kompetitif, bukan membangun manusia berkepribadian mulia.
Akibatnya, muncul berbagai penyimpangan, kekerasan, dan pelecehan di lingkungan pendidikan, hilangnya adab terhadap guru,kecurangan akademik seperti plagiarisme dan joki ujian, rendahnya kemampuan dasar siswa meski nilai tinggi.
Fenomena ini menunjukkan kegagalan sistemik. Rasulullah ﷺ bersabda: “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.” (HR. Ahmad)
Faktanya pendidikan hari ini justru menjauh dari misi tersebut. Nilai benar dan salah menjadi relatif. Adab kepada guru dianggap bisa dinegosiasikan. Bahkan, tidak sedikit guru yang dikriminalisasi ketika menjalankan tugasnya mendidik. Teknologi yang seharusnya menjadi alat bantu justru memperparah kondisi ketika tidak diiringi dengan nilai yang benar. Digitalisasi tanpa arah hanya melahirkan generasi yang cerdas secara teknis, tetapi miskin moral.
Solusi Hakiki
Islam memandang pendidikan sebagai sarana membentuk manusia seutuhnya yang beriman, berilmu, dan beramal. Pendidikan bukan sekadar transfer ilmu tetapi proses pembentukan kepribadian Islam.
Allah Swt. berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.” (QS. At-Tahrim: 6)
Ayat ini menegaskan bahwa pendidikan dimulai dari keluarga, dilanjutkan oleh masyarakat, dan dijamin oleh negara. Dalam Islam, orang tua adalah madrasah pertama dan guru adalah pembina yang dimuliakan. Negara bertanggung jawab penuh atas sistem pendidikan.
Rasulullah ﷺ juga bersabda: “Bukan termasuk golongan kami orang yang tidak menghormati yang lebih tua dan tidak menyayangi yang lebih muda.” (HR. Tirmidzi)
Ini menunjukkan betapa pentingnya adab dalam pendidikan. Bahkan para ulama menempatkan adab sebelum ilmu. Sejarah Islam telah membuktikan keberhasilan sistem ini. Generasi yang lahir bukan hanya berilmu tinggi, tetapi juga berakhlak mulia dan menjadi pelopor peradaban. Mereka adalah ilmuwan, ulama, sekaligus pemimpin yang membawa manfaat bagi dunia.
Kondisi pendidikan hari ini tidak bisa lagi dianggap sebagai masalah biasa. Ia adalah krisis peradaban. Jika dibiarkan, kehancuran generasi bukan sekadar kemungkinan, tetapi sebuah keniscayaan. Hardiknas harus menjadi alarm keras bagi semua. Negara wajib menghadirkan solusi hakiki, bukan tambal sulam kebijakan. Guru harus dimuliakan dan dilindungi, orang tua harus kembali menjalankan perannya sebagai pendidik utama, dan sistem pendidikan harus dikembalikan pada landasan yang benar. Tanpa perubahan mendasar, pendidikan hanya akan terus melahirkan generasi yang kehilangan arah.
Hanya dengan kembali kepada sistem pendidikan berbasis wahyu sajalah akan melahirkan generasi yang beriman, berilmu, dan beradab. Walhasil, pendidikan seperti ini akan mampu mewujudkan fondasi kebangkitan. Kebangkitan hakiki dan tegaknya peradan mulia yang menyejahterakan dunia. Manusianya bermartabat dan teknologinya berkembang pesat. Wallahualam bissawab. [EA/MKC]


