Kemenangan Umat Islam pada Momen Idulfitri
Opini
Pada akhirnya, Idulfitri adalah cermin
Ia memantulkan sejauh mana kita berhasil berubah baik sebagai individu maupun sebagai umat
_________________________
Penulis Miatha
Kontributor Media Kuntum Cahaya Palembang
KUNTUMCAHAYA.com, OPINI - Umat Islam di seluruh dunia merayakan Idulfitri dengan penuh suka cita di setiap tahunnya. Jalanan dipenuhi takbir, rumah-rumah terbuka untuk silaturahmi, dan tradisi saling memaafkan menjadi pemandangan yang menghangatkan hati. Namun, di tengah euforia tersebut, muncul satu pertanyaan penting: apakah kita benar-benar meraih kemenangan?
Di Indonesia, perayaan Idulfitri memiliki dinamika tersendiri. Salah satu fakta yang hampir selalu berulang adalah adanya perbedaan penetapan hari Idulfitri di tengah masyarakat. Perbedaan ini muncul karena metode penentuan awal bulan Syawal yang tidak seragam—antara rukyat (pengamatan hilal) dan hisab (perhitungan astronomi). Akibatnya, sebagian umat merayakan lebih dahulu, sementara yang lain menyusul pada hari berikutnya.
Fenomena ini kerap memunculkan kebingungan bahkan perdebatan antarumat Islam. Namun sejatinya, perbedaan tersebut adalah bagian dari khazanah ikhtilafiyah di dalam Islam. Perbedaan tersebut sebenarnya bisa disatukan apabila umat Islam memiliki pemikiran dan peraturan yang sama.
Lebih jauh lagi, jika kita melihat dinamika global, umat Islam juga menghadapi realitas yang tidak kalah kompleks. Dalam konflik di Timur Tengah yang saat ini terjadi, sejumlah negara Arab bersama Amerika Serikat mengutuk tindakan Iran yang dinilai memperburuk eskalasi dengan Isra*l.
Negara Arab Sekutu AS
Dilansir dari cnbcindonesia.com (02-03-2026), Amerika Serikat (AS) dan sekutu Arabnya pada hari Minggu mengutuk Iran. Hal ini terjadi saat Teheran melancarkan serangkaian serangan balas dendam terhadap Isra*l dan AS yang menyerangnya Sabtu.
Fakta ini menunjukkan bahwa dunia Islam tidak selalu berada dalam satu posisi politik yang seragam. Kepentingan nation state dan tekanan geopolitik sering kali membuat negara-negara muslim berjalan sendiri-sendiri.
Kondisi ini memperlihatkan satu kenyataan yang tidak bisa diabaikan yaitu umat Islam saat ini masih disintegrasi, baik dalam aspek pemikiran, politik, maupun kepemimpinan global sehingga persatuan sulit diwujudkan. Akibatnya, suara umat sering kali tidak memiliki kekuatan kolektif yang mampu memberikan pengaruh signifikan pada tingkat dunia.
Di sisi lain, Islam telah memberikan predikat yang sangat mulia kepada umat ini sebagai khairu ummah atau umat terbaik.
Allah berfirman pada QS. Ali Imran ayat 110,
كُنْتُمْ خَيْرَ اُمَّةٍ اُخْرِجَتْ لِلنَّا سِ تَأْمُرُوْنَ بِا لْمَعْرُوْفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُوْنَ بِا للّٰهِ ۗ وَلَوْ اٰمَنَ اَهْلُ الْكِتٰبِ لَكَا نَ خَيْرًا لَّهُمْ ۗ مِنْهُمُ الْمُؤْمِنُوْنَ وَاَ كْثَرُهُمُ الْفٰسِقُوْنَ
"Kamu (umat Islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, (karena kamu) menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka. Di antara mereka ada yang beriman, namun kebanyakan mereka adalah orang-orang fasik."
Predikat ini bukan tanpa syarat, melainkan terkait dengan pelaksanaan amar makruf nahi mungkar dan keimanan yang kokoh. Di sinilah muncul paradoks yang patut direnungkan. Di satu sisi, umat Islam memiliki ajaran yang sempurna dan potensi besar, baik dari jumlah, sumber daya, maupun sejarah peradaban. Namun di sisi lain, secara politik global, umat Islam sering berada dalam posisi lemah, terpecah, dan kurang berpengaruh.
Hal ini sering disebabkan karena berbagai faktor, antara lain adalah nasional state atau batas-batas negara yang lebih dominan daripada semangat kaum muslim untuk bersatu. Selain itu, tidak adanya kepemimpinan global yang menjadikan otoritas pemersatu potensi umat sehingga permasalahan umat dapat diselesaikan dengan Islam.
Umat Butuh Kepemimpinan Global
Dari sini muncul kebutuhan akan upaya sistematis untuk mengembalikan kehidupan Islam tidak hanya pada level individu, tetapi juga pada level masyarakat dan negara. Salah satu analisis yang berkembang dalam pemikiran politik Islam adalah pentingnya keberadaan partai politik Islam yang ideologis dan memiliki dasar pemikiran yang sahih.
Dalam perspektif ini, partai politik Islam tidak sekadar menjadi alat perebutan kekuasaan, tetapi berfungsi sebagai wadah pembinaan umat (tatsqif) untuk membangun kesadaran politik berbasis akidah. Instrumen dakwah politik yang mengarahkan umat pada penerapan nilai-nilai Islam secara menyeluruh (kafah).
Namun demikian, penting untuk ditekankan bahwa gagasan ini harus ditempatkan dalam koridor yang konstruktif, damai, dan menghormati realitas sosial serta hukum yang berlaku. Upaya membangun kesadaran politik umat tidak boleh menimbulkan perpecahan baru, melainkan justru memperkuat persatuan dan kematangan berpikir.
Dalam situasi seperti ini, dunia membutuhkan kepemimpinan global yang mengutamakan hukum internasional, kerja sama antarnegara, dan perdamaian. Persatuan umat di bawah kepemimpinan global seperti Khil4fah. Sebagian kalangan memandang bahwa peran partai ideologis menjadi penting sebagai penggerak perubahan opini dan kesadaran umat. Namun, jalan menuju hal tersebut tentu tidak sederhana dan memerlukan proses panjang, dialog terbuka, serta pendekatan yang bijak.
Kemenangan Umat Makin Nyata
Kemenangan Idulfitri seharusnya tidak berhenti pada dimensi spiritual pribadi. Ia harus menjadi titik awal kebangkitan kesadaran umat, bahwa menjadi “umat terbaik” menuntut tanggung jawab besar, termasuk dalam membangun kekuatan politik yang adil, bersatu, dan berorientasi pada kemaslahatan.
Langkah awal yang realistis harus dimulai dari hal mendasar antara lain, umat harus disadarkan akan pentingnya menuntut ilmu agama, karena Islam tidak hanya mengajarkan ibadah spiritual semata. Namun, lebih dari itu Islam membahas ekonomi, pendidikan, serta politik. Ukhuwah Islamiah kembali dikuatkan sehingga perasaan, pemikiran serta peraturan dalam hidup hanya berlandaskan Islam.
Pada akhirnya, Idulfitri adalah cermin. Ia memantulkan sejauh mana kita berhasil berubah baik sebagai individu maupun sebagai umat. Jika kemenangan itu hanya bersifat personal tanpa kontribusi pada kebangkitan umat, maka ia belum sepenuhnya utuh. Semoga Islam bisa kembali tegak di muka bumi sehingga kemenangan umat akan makin nyata. Wallahualam bissawab. [GSM/MKC]


