Kepanikan Membeli BBM dan Desakan Mewujudkan Kedaulatan Energi
OpiniKedaulatan energi menjadi faktor penting
untuk stabilitas politik ekonomi suatu negara
__________________
Penulis Siti Hanifah
Kontributor Media Kuntum Cahaya
KUNTUMCAHAYA.com, OPINI - Perang antara Iran dengan Amerika Serikat dan Isra*l memicu kepanikan luar biasa di sejumlah negara dunia, tidak terkecuali Indonesia. Di beberapa wilayah di Indonesia seperti Medan, antrean panjang terjadi di sejumlah stasiun pengisian bahan bakar umum atau SPBU di Kota Medan, Sumatra Utara, Jumat (Kompas.id, 6-3-2026)
Hal ini memicu lonjakan harga minyak dunia. Kemudian berbagai isu miring tentang minyak dunia yang makin menipis akibat perang dunia membuat masyarakat berbondong-bondong membeli minyak dengan dirigen besar.
Namun, hal ini di tepis melalui pernyataan Menteri ESDM Bahlil Lahadalia, "Kemampuan storage tempat penampung minyak kita sejak dahulu kala memang kapasitas tampungnya itu hanya 25 hari. Jadi tempat storage-nya itu hanya 25 hari. Dari dulu ini, bukan baru sekarang, dari dulu," kata Bahlil di DPP Golkar, Slipi, Jakarta Barat, Jumat.
Beliau meyakinkan masyarakat untuk tidak panic buying dengan adanya peperangan di Timur Tengah, "Jadi Insya Allah sekalipun terjadi peperangan di Timur Tengah, kondisi kita aman. Sekali lagi saya katakan aman," tuturnya. (Detiknews, 6-3-2026)
Seperti yang kita ketahui bahwa Iran merupakan negara pemasok minyak terbesar ke-3 di dunia. Adanya Perang AS-Isra*l vs Iran mengancam pasokan minyak dunia yang berakibat kepanikan di tengah masyarakat. BBM merupakan komoditas strategis, apabila ketersediaan BBM terbatas akan memengaruhi gerak ekonomi, sosial, dan politik nasional.
Selain itu, akan terjadi lonjakan dimana-mana. Lebih parahnya menyebabkan banyak ketimpangan apabila pasokan BBM berkurang. Kedaulatan energi menjadi faktor penting untuk stabilitas politik ekonomi suatu negara. Hal wajar apabila masyarakat mengalami ketakutan atau panic buying dengan adanya peperangan di Timur Tengah.
Hal ini penyebabnya adalah kapitalisme global yang mengeksploitasi sumber daya alam negeri-negeri muslim yang lemah dan meraup keuntungan sebanyak-banyaknya dan menciptakan ketergantungan kepada negara adidaya. Indonesia merupakan negara yang amat kaya, bahkan sebetulnya Indonesia sendiri bisa menjadi negara yang mandiri.
Namun, kita lihat di berbagai wilayah di Indonesia eksploitasi alam begitu jelas terpampang nyata. Contohnya kasus banjir Aceh yang belum juga pulih sampai hari ini, yang disinyalir akibat eksploitasi alam tanpa memikirkan dampaknya bagi masyarakat.
Islam Mengatur Pengelolaan Energi
Saat ini, kedaulatan energi dikuasai oleh negara-negara adidaya dan dipakai sebagai alat penjajahan untuk negara-negara yang lemah. Dalam pandangan Islam, kedaulatan energi tidak boleh dikuasai oleh individu atau suatu perusahaan swasta. Energi dalam pandangan Islam harus diatur oleh negara.
Karena sumber daya alam yang tidak akan pernah habis. Apabila dikuasai oleh individu akan menyebabkan banyak masalah ketimpangan seperti hari ini. Sebagaimana hadis yang disampaikan Rasulullah saw.: "Manusia berserikat dalam tiga hal: air, padang rumput, dan api." (HR. Abu Dawud)
Kebijakan politik Islam dalam mengelola sumber daya alam termasuk tambang, segala sesuatu yang menjadi milik umum disediakan untuk dipergunakan oleh siapa pun. Akan tetapi, tidak diperbolehkan untuk dikuasai secara individu atau swasta. Begitu pun pengelolaan sumber daya milik umum dalam skala besar oleh negara.
Negeri-negeri muslim di dunia seperti Arab, Iran, Brunei, Indonesia, Allah berkahi dengan berkelimpahan sumber daya alam, khususnya minyak bumi. Dengan hal ini, seharusnya negeri-negeri muslim tidak harus berpangku tangan dengan penjajah. Mereka bisa untuk mengelola sendiri sumber daya alam yang ada tanpa ketergantungan atau pemaksaan dari negara-negara adidaya.
Searusnya mereka yang lemah karena tanpa negeri-negeri muslim mereka tidak berdaya. Negeri-negeri muslim bisa untuk sejahtera tanpa campur tangan negera adidaya. Kapitalisme global sudah rusak tatanan kehidupan.Tidak peduli dengan dampak yang akan terjadi.
Allah sendiri sudah memperingati manusia: "Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)." (QS. Ar-Rum: 41)
Sebagaimana ikan yang tidak bisa hidup di dalam air. Begitu pun manusia tidak bisa hidup di dalam sistem yang rusak juga tidak sesuai fitrahnya manusia, yaitu sistem kapitalisme. Penjajahan kapitalisme global yang mengeruk kekayaan negeri-negeri Islam harus diberhentikan dengan menegakkan kembali sistem Islam. Hanya dengan Islam sumber daya alam dapat terkelola dengan amanah sesuai aturan yang telah Allah berikan. Wallahualam bissawab. [Dara/MKC]


