Alt Title

Idul Fitri dan Perjuangan Meraih Kemenangan Umat

Idul Fitri dan Perjuangan Meraih Kemenangan Umat




Idul Fitri ini tidak hanya mengembalikan kita kepada fitrah secara individu

tetapi juga membangkitkan kesadaran kolektif untuk memperjuangkan persatuan umat dan meraih kemenangan yang hakiki


__________________


Penulis Verawati, S.Pd.

Kontributor Media Kuntum Cahaya 


KUNTUMCAHAYA.com, OPINI - Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar, walillahil hamd. Gema takbir berkumandang di seluruh penjuru dunia menandakan datangnya hari kemenangan, yaitu Hari Raya Idul Fitri. Hari yang dinanti oleh umat Islam setelah menunaikan ibadah puasa selama kurang lebih satu bulan penuh di bulan Ramadan.


Idul Fitri sejatinya adalah momentum kemenangan, bukan sekadar kembali kepada fitrah secara individu. Akan tetapi, juga kemenangan spiritual yang seharusnya berdampak pada kehidupan umat secara kolektif.


Namun, perayaan Idul Fitri tahun ini terasa berbeda. Di tengah suasana bahagia, terselip rasa sedih dan keprihatinan. Pasalnya, umat Islam merayakan Idul Fitri tidak secara serempak. Ada yang berhari raya pada Kamis, Jumat, bahkan Sabtu. Perbedaan ini kembali memunculkan pertanyaan klasik: Mengapa sesama umat Islam bisa berbeda dalam menetapkan hari besar yang sama?


Perbedaan dalam penetapan Idul Fitri sejatinya bukan sekadar persoalan teknis hisab dan rukyat, melainkan mencerminkan kondisi umat Islam yang belum memiliki satu kepemimpinan yang mempersatukan. Fakta ini seharusnya menjadi bahan renungan bersama.


Lebih dari itu, perpecahan tidak hanya terjadi dalam urusan ibadah, tetapi juga dalam sikap politik internasional. Kita menyaksikan bagaimana negeri-negeri muslim tidak memiliki satu suara dalam merespons konflik global, khususnya yang melibatkan negeri-negeri muslim seperti P4lestina dan Iran.


Sebagian negara bahkan cenderung berpihak kepada kekuatan besar seperti Amerika Serikat dan sekutunya, termasuk Isra*l. Dilansir oleh media CNBC Indonesia (02-03-2026), Amerika Serikat (AS) dan sekutu Arabnya pada hari Minggu mengutuk Iran. Hal ini terjadi saat Teheran melancarkan serangkaian serangan balas dendam terhadap Israel dan AS yang menyerangnya pada Sabtu. Selain Tel Aviv, Iran juga menyerang negara-negara Teluk yang menampung pasukan AS sebagai tanggapan. Bahrain, Yordania, Kuwait, Qatar, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab (UEA) termasuk di dalamnya.


Hal ini makin memperlihatkan lemahnya posisi umat Islam di kancah global. Alih-alih bersatu menghadapi musuh bersama, justru terjadi konflik dan ketegangan di antara sesama negeri muslim.


Kondisi ini sangat bertolak belakang dengan gambaran ideal umat Islam sebagaimana yang disabdakan oleh Rasulullah saw.: "Perumpamaan kaum mukminin dalam hal saling mencintai, mengasihi, dan menyayangi adalah seperti satu tubuh. Jika satu anggota tubuh sakit, maka seluruh tubuh akan ikut merasakan sakit dengan tidak bisa tidur dan demam." (HR. Bukhari dan Muslim)


Hadis ini menegaskan bahwa umat Islam seharusnya memiliki rasa persatuan dan solidaritas yang kuat. Namun, realitas hari ini menunjukkan sebaliknya.


Allah Swt. juga berfirman: "Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai..." (QS. Ali Imran: 103)


Ayat ini menjadi perintah tegas bagi umat Islam untuk bersatu dan meninggalkan perpecahan. Sayangnya, persatuan tersebut hingga kini belum terwujud secara nyata dalam kehidupan umat.


Akibatnya, kebahagiaan Idul Fitri terasa belum sempurna. Kemenangan yang dirasakan seolah menjadi semu. Karena kemenangan hakiki umat Islam yakni persatuan dalam satu kepemimpinan dan terbebas dari dominasi serta penjajahan asing belum terwujud.


Dalam konteks ini, pekerjaan besar umat Islam hari ini adalah mewujudkan kembali persatuan tersebut, yakni adanya kepemimpinan global umat Islam yang mampu menyatukan visi dan langkah, sebagaimana yang pernah ada dalam sejarah peradaban Islam.


Rasulullah saw. bersabda: "Barang siapa yang mati dan di lehernya tidak ada baiat (kepada pemimpin), maka ia mati dalam keadaan jahiliah." (HR. Muslim)


Hadis ini menunjukkan wajibnya bagi umat Islam untuk mengangkat seorang pemimpin. Pemimpin yang akan menegakkan dan menerapkan aturan Islam secara menyeluruh bagi kaum muslim di seluruh dunia. Kepemimpinan ini bukan hanya kewajiban yang harus ditunaikan, tetapi juga kebutuhan mendasar untuk menyelesaikan berbagai problematika kehidupan, khususnya umat Islam dan dunia.


Arogansi Barat khususnya Amerika Serikat yang membawa ide kapitalisme, telah banyak menimbulkan penderitaan di dunia. Tidak hanya umat Islam, dunia pun diliputi ketakutan, penderitaan, kerusakan, dan kehancuran di berbagai aspek kehidupan. Maka Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin diyakini mampu menjawab berbagai persoalan tersebut, sebagaimana Islam pernah memimpin dunia selama berabad-abad.


Ramadan yang telah kita lalui sejatinya adalah madrasah ruhiah yang membentuk ketakwaan. Ketakwaan inilah yang seharusnya mendorong umat Islam untuk tidak hanya memperbaiki diri secara individu, tetapi juga peduli terhadap kondisi umat secara keseluruhan.


Kesadaran bahwa kaum muslim adalah satu saudara merupakan modal awal untuk meraih kemenangan hakiki. Allah Swt. menegaskan: "Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara..." (QS. Al-Hujurat: 10)


Oleh karena itu, arah perjuangan umat Islam hari ini tidak boleh berhenti pada aspek ritual semata, tetapi juga harus menyentuh aspek persatuan dan kepemimpinan umat. Perlu ada upaya serius dan berkelanjutan untuk menyatukan umat dalam satu visi besar: Meraih kemuliaan Islam dan kaum muslim.


Idul Fitri hendaknya tidak hanya menjadi perayaan tahunan, tetapi juga momentum muhasabah, introspeksi mendalam atas kondisi umat. Sudah sejauh mana kita berkontribusi bagi kebangkitan Islam? Sudahkah kita menjadi bagian dari solusi, atau justru masih menjadi penonton dari berbagai problematika umat?


Semoga Idul Fitri ini tidak hanya mengembalikan kita kepada fitrah secara individu, tetapi juga membangkitkan kesadaran kolektif untuk memperjuangkan persatuan umat dan meraih kemenangan yang hakiki. Wallahualam bissawab [Dara/MKC]