Urgensi Pembinaan Islam Ideologis bagi Ibu dan Remaja
OpiniKehadiran jemaah dakwah Islam ideologis menjadi sangat urgen
untuk membina ibu dan generasi muda agar memiliki kepribadian Islam dan siap memperjuangkan kebangkitan Islam
____________________
Penulis Lilik Setiawati
Kontributor Media Kuntum Cahaya
KUNTUMCAHAYA.com, OPINI - Dalam sistem sekuler kapitalis saat ini, kecanggihan digital berdampak buruk bagi kaum hawa, khususnya ibu-ibu dan generasi muda. Tanpa rasa malu dan takut pada Allah mereka melakukan perbuatan yang melanggar syariat Islam.
Kecanggihan teknologi yang semakin meluas di kalangan anak muda, Digital 2025 Global Overview mencatat 98,7% penduduk Indonesia adalah pengguna ponsel aktif. Rata-rata waktu online 7 jam 22 menit. Masyarakat Indonesia semakin tergantung pada internet. (cnbcndonesia.com, 29-11-2025)
Dengan demikian, gaya hidup yang hedonis makin melekat. Dunia maya menampilkan kehidupan yang glamor para publik figur. Hedonisme seolah menjadi standar baru bagi mereka. Agar tidak dipandang sebagai generasi muda yang ketinggalan zaman. Tren ini mendorong mereka hanya fokus pada kesenangan pribadi, hidup mewah dan pencitraan diri.
Hal ini akan berbahaya jika dijadikan sebagai prioritas hidup. Tidak hanya itu, berbahaya bagi etika generasi muda. Terutama hedonisme akan melahirkan budaya konsumtif juga individualisme. (kompasiana.com, 18-3-2025)
Sekularisme Memengaruhi Kehidupan
Perilaku hedonisme berakar dari sekularisme yang lahir dari penerapan sistem kapitalisme. Sistem dengan standar keuntungan. Sekularisme menjangkit hampir di seluruh kehidupan generasi muda baik dunia nyata maupun ruang digital.
Akibatnya, generasi muda kehilangan jati dirinya sebagai muslim dan pelopor perubahan. Normalisasi perbuatan yang dilarang agama sudah menjadi kebiasaan mereka, sungguh menyedihkan. Aurat yang sengaja dipamerkan hanya demi like dan comment untuk mendapatkan cuan, pacaran hingga seks bebas.
Bahkan, masih banyak lagi hal-hal yang membuat kita pilu melihatnya. Tak memahami apa arti sebenarnya hidup ini. Tak ada pemahaman Islam dalam benak dan pikiran mereka. Hanya ada kebebasan berperilaku, tanpa melihat halal dan haram sebagai standar hidupnya. Bagi mereka kesenangan dan popularitas adalah tujuan.
Kaum ibu tak kalah memprihatinkan, terlihat dari degradasi peran mereka sebagai ummun wa rabbatul bayt dan pendidik generasi muda. Lemahnya akidah membuat mereka menjadi mangsa sistem kapitalis. Budaya konsumtif dan hedonisme telah menguasai kehidupan mereka. Ditambah dengan lemahnya perekonomian pascapandemi Covid-19.
Para ibu, ikut membanting tulang membantu suami untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Tertanam dalam pemikiran mereka jika punya penghasilan sendiri ia akan bebas melakukan apa saja. Terutama budaya konsumtif dan hedonis. Sungguh memprihatinkan kondisi ibu saat ini. Walaupun di dalam aturan Islam tidak melarang ibu untuk bekerja. Namun, jika bekerja menjauhkan ia dari fitrahnya agama akan melarangnya.
Digitalisasi berada di bawah hegemoni kapitalisme yang tidak hanya bertujuan ekonomi tetapi juga menyebarkan ideologi batil yang menjauhkan umat dari pemikiran Islam. Tsaqafah asing telah menancap kuat pada pemikiran para ibu dan generasi muda saat ini. Islam hanya dipahami sebagai ibadah ritual saja.
Negara sekuler memandang generasi muda dan kaum ibu sebagai objek komersial yang mendatangkan keuntungan, sekaligus menjauhkan mereka dari pembekalan Islam kafah. Akar persoalan terletak pada adopsi sekularisme dan kapitalisme sebagai paradigma bernegara sehingga peran agama dibatasi pada ranah privat.
Pentingnya Jemaah Ideologis
Di tengah penerapan sistem kapitalis, kehadiran jemaah dakwah Islam ideologis menjadi sangat urgen untuk membina ibu dan generasi muda agar memiliki kepribadian Islam dan siap memperjuangkan kebangkitan Islam. Dengan mengkaji Islam kafah akidah menjadi kuat, bertingkah laku sesuai syariat. Hidup menjadi terarah selamat dunia akhirat.
Ibu sebagai mencetak generasi muda islami yang tangguh, dan generasi muda menjadi generasi Islam terpercaya penerus peradaban dunia. Sebagaimana firman Allah Swt., “Dan hendaklah di antara kamu ada segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh berbuat yang makruf dan mencegah dari yang mungkar. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung” (TQS.Ali Imran: 104)
Ayat ini menjadi landasan kewajiban jemaah Islam yang memiliki visi ideologis tujuan perubahan sistemik. Sebagaimana yang diteladankan Rasulullah shalallahu a'laihi wassalam, jemaah dakwah ini membina umat, termasuk ibu dan generasi muda dengan Islam ideologis, menyiapkan mereka menjadi pelopor peradaban pembela Islam dan mengemban Islam kafah.
Pembinaan kepada Umat dalam Koridor Syariat
Pembinaan adalah tahapan awal untuk fokus pada pembentukan akidah (keyakinan) dan karakter sebagai fondasi bagi anggota jemaah ideologis agar amal perbuatannya sesuai syariat Islam. Wajib beramar makruf nahi mungkar, kepada keluarga, masyarakat dan negara. Supaya masyarakat paham bahwa hanya penerapan syariat Islam kafah satu-satunya solusi hakiki untuk semua problematika umat saat ini.
Bukan hanya di Indonesia, tetapi juga untuk seluruh dunia. Semua aspek kehidupan baik politik, ekonomi, sosial, budaya, pendidikan, kesehatan, semuanya diatur dengan syariat Islam sebab dengan menerapkan syariat Islam, rahmat akan tercurah bagi semesta alam. Wallahualam bissawab. [Dara/MKC]


