Solusi Tuntas Mengakhiri Penderitaan P4lestina
OpiniSejarah telah mengungkapkan asal muasal penderitaan P4lestina
Maka solusi untuk mengakhirinya adalah dengan menegakkan kembali Daulah Islamiah
______________________________
Penulis Wardani
Kontributor Media Kuntum Cahaya
KUNTUMCAHAYA.com, OPINI- P4lestina sampai sekarang masih berada dalam kondisi memprihatinkan. Walaupun sejak 10 Oktober 2025 genjatan senjata sudah disepakati. Namun, perjanjian ini sangat rapuh.
Zion*s Isra*l tercatat melakukan pelanggaran 969 kali, menewaskan 418 warga P4lestina dan melukai 1.121 lainnya. Bahkan, sampai dengan saat ini setiap harinya Zion*s Isra*l menjatuhkan bom ke G4za.
Kantor media pemerintah (GMO) menggambarkan kondisi di G4za sebagai kasus “kematian perlahan" dengan mengatakan pelanggaran selama 80 hari terakhir termasuk penembakan langsung terhadap warga sipil, serangan militer ke daerah pemukiman, pengeboman rumah, penghancuran skala besar, dan penangkapan ilegal.
Isra*l juga terus menghindari kewajibannya. Berdasarkan perjanjian gencatan senjata dan protokol kemanusiaan yang terlampir hanya 19.764 truk bantuan yang berhasil memasuki G4za, dari 48.000 truk yang dibutuhkan. Pengiriman bahan bakar hanya berjumlah 425 truk, bukan 4.000 truk seperti yang disepakati. Akibatnya rumah sakit, toko roti, dan fasilitas air hampir lumpuh. (www.minanet.com, 10-01-2026)
Selain itu, krisis tempat tinggal disinyalir makin memburuk. Isra*l terus menutup perbatasan, memblokir masuknya tenda, dan rumah mobil. 37 organisasi kemanusiaan dilarang untuk beroperasi di G4za. Kondisi ini diperburuk dengan adanya badai yang menyebabkan puluhan bangunan yang rusak, runtuh, menewaskan warga sipil, termasuk anak-anak yang membeku hingga meninggal di kamp-kamp pengungsian, dan menyebabkan lebih dari 1,5 juta pengungsi tanpa perlindungan minimum. (www.minanet, 10-01-2026)
Penderitaan saudara kita di P4lestina tidak akan berakhir selama Zion*s Isra*l masih eksis. Karena keberadaan Zion*s Isra*l inilah yang menjadi sumber malapetaka. Meskipun berbagai negeri mengutuk kebiadaban Zion*s, ratusan sanksi PBB telah dilayangkan tetapi semua itu tidak dihiraukan. Zion*s akan terus mewujudkan cita-cita mendirikan Isra*l Raya dan menguasai politik-ekonomi dunia dengan segala cara.
Tawaran penyelesaian permasalahan P4lestina yang tertuang dalam 20 poin kesepakatan yang dipimpin Donald Trump akan memposisikan P4lestina ke dalam jurang penderitaan yang makin dalam. Usulan yang ditawarkan bisa dikatakan bentuk pengakuan resmi terhadap rencana Trump atas G4za. Di dalamnya termasuk pembentukan pemerintahan teknokratis non-politik dan pembentukan International Stabilization Force (ISF) yang bertugas melucuti kekuatan para pejuang.
Ini artinya, G4za akan ada di bawah kolonialisasi jangka panjang. Kondisi ini akan membuat posisi Zion*s makin kuat. Pengiriman pasukan perdamaian juga tidak akan menyelesaikan masalah. Alih-alih akan menjaga perdamaian, kehadiran pasukan ini disinyalir akan memperkokoh kolonialisme Zion*s Israel yang dilegitimasi oleh PBB.
Pendekaan diplomatik, mengutuk dan memohon Zion*s untuk membuka gerbang perbatasan atas dasar kemanusiaan tidak cukup untuk membebaskan P4lestina dari penderitaan. Berharap kepada para pemimpin muslim juga tidak mempan. Karena mereka hanyalah penguasa boneka yang tunduk pada kafir Barat, yang mereka lakukan hanyalah sebatas mengutuk tanpa ada tindakan.
Untuk itu, perlu adanya tindakan nyata untuk menghentikan agresi Zion*s. Membiarkan Isra*l tetap eksis sama dengan membiarkan P4lestina menderita selamanya.
Untuk mengakiri penderitaan P4lestina, umat Islam harus mempunyai agenda sendiri. Umat tidak bisa menggantungkan harapan kepada solusi yang ditawarkan oleh Barat. Kembali ke asal muasal penderitaan P4lestina, yaitu ketika Daulah Islam runtuh dan dikerat-kerat menjadi 55 negara muslim.
Setelah itu entitas Yahudi dengan persetujuan Inggris yang dituangkan dalam deklarasi Balfour, mulai menduduki bumi P4lestina dan mendeklarasikan negara Zion*s Isra*l. Mulai saat itulah penderitaan rakyat P4lestina berawal hingga saat ini. Genosida, pengusiran, dan penjarahan terus dilakukan Zion*s untuk memperluas kekuasaannya.
Dengan menengok kembali asal muasal penderitaan P4lestina ini terjadi, maka solusi yang akan mengakhiri penderitaannya hanyalah dengan menegakkan kembali Daulah Islam. Ketika Daulah tegak, kafir Barat tidak bisa berbuat semena-semana terhadap umat. Daulah menjadi perisai bagi umat. Sebagaimana yang dilakukan oleh Khalifah Abdul Hamid 2, ketika entitas Yahudi berusaha untuk menyuap dengan jutaan kepingan emas unuk membeli tanah P4lestina.
Khalifah waktu itu menyatakan “Biarkan kaum Yahudi menyimpan jutaan (uang) mereka. Jika negara Khil4fah suatu hari terpecah, saat itulah mereka bisa mengambil P4lestina tanpa membayar apa pun. Entias Yahudi pun mundur.
Dengan adanya Daulah Islam, tidak hanya P4lestina yang akan dibebaskan, tetapi juga negeri-negeri muslim lainnya yang saat ini juga berada di bawah cengkeraman neo kolonialisme kafir Barat. Daulah akan menjadi negara adidaya yang akan membawa kebaikan dan keberkahan dari segenap penjuru langit.
Untuk tujuan itu maka perlu membangkitkan umat dari tidur panjangnya. Pengkhianatan penguasa Muslim harus dihentikan dan kesadaran kaum muslimin untuk bangkit dan bersatu dalam naungan Daulah Islam harus terus dikobarkan. Rasulullah saw., telah mencontohkan bagaimana cara untuk penegakkan Daulah Islam. Tahapan-tahapan dan metodenya sudah dipraktikkan langsung Rasulullah saw..
Kita sebagai umatnya tinggal meniru apa yang telah dilakukan Rasulullah saw.. Sekarang pilihan ada di tangan kaum muslim. Apakah memilih tetap berdiam diri atau berjuang untuk mengembalikan mahkota kewajiban untuk mengakhiri penderitaan P4lestina? Wallahualam bissawab. [EA/MKC]


