Alt Title

Darurat Sampah Darurat Amanah

Darurat Sampah Darurat Amanah



Darurat sampah sejatinya adalah darurat iman

Bumi bukan milik kita, melainkan titipan Allah yang harus dijaga

______________________________


Penulis Mommy Hulya 

Kontributor Media Kuntum Cahaya  


KUNTUMCAHAYA.com, OPINI - Tahukah kamu, sampah-sampah yang kita buang setiap hari merupakan bagian dari tabzir yang dilarang Allah?


Tabzir dalam istilah Islam bisa diartikan pemborosan atau hal yang tidak bermanfaat. Barang-barang yang hanya sekali pakai, plastik berlebihan, makanan yang terbuang, semua termasuk dalam kategori tabzir


Perilaku tabzir bisa mengakibatkan sampah makin menumpuk, mencemari air, mencemari udara, dan merugikan masyarakat sekitar. Perilaku tabzir ini bukanlah dosa pribadi, melainkan terjadi akibat kerusakan sosial dan lingkungan. Hal ini merupakan kelalaian dalam menjaga bumi yang dititipkan Allah kepada manusia.


Fakta Sosial Bantar Gebang dan Piyungan


Fakta terbaru, Bantar Gebang Bekasi saat ini menampung sampah dengan jumlah kurang lebih 7,700 ton per hari. Sementara luas pembuangan sampahnya hanya 117 hektare. Hal ini menyebabkan adanya tumpukan sampah hingga 40 meter. Penumpukan sampah ini berpotensi mengancam kesehatan dan lingkungan. Bahkan, pada tahun ini saja gunungan sampah ini pernah mengalami longsor hingga 3 kali, yakni sejak Maret 2025 hingga kejadian longsor pada akhir tahun 2025.


Permasalahan penanganan sampah juga terjadi di TPA Piyungan Yogyakarta. Kapasitas TPA Piyungan hanya mampu menampung 600 ton perbulan. Sementara produksi sampah perkotaan mencapai 300 ton perhari. Akhirnya, Pemprov Yogyakarta membuka kuota darurat pada September 2025. Namun, rencana penutupan permanen tetap di jadwalkan akhir 2025. (merdeka.com,11-01-2026)


Dampak Sosial dan Lingkungan


Tumpukan sampah telah menimbulkan bau yang menyengat, pencemaran air dan tanah, konflik sosial dan ancaman kesehatan masyarakat. Maka, gunungan sampah bukan hanya limbah fisik akan tetapi juga simbol kelalaian kolektif. Sebagaimana yang terjadi pada longsor sampah di Bantar gebang, yang nyata  membahayakan keselamatan warga sekitar TPA.

 

Darurat Sampah dalam Perspektif Islam


Darurat sampah di Bantar Gebang dan Piyungan merupakan ujian kepemimpinan. Pemimpin yang amanah sejatinya harus mampu memastikan sistem pengelolaan sampah ini berjalan efektif. Begitu pun dengan sosialisasi dan edukasi terhadap masyarakat. Himbauan agar menghindari perilaku tabzir harus terus berjalan sehingga bumi terjaga dari dampak sampah.


Kepemimpinan dalam pandangan Islam merupakan amanah yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah. Sebagaimana Rasullullah saw. pernah bersabda: “Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggung jawaban atas yang dipimpinnya."


Teladan Banyumas: dari Darurat Sampah ke Percontohan Nasional


Mengapa Banyumas bisa menjadi percontohan nasional? Seperti halnya Bantar gebang dan piyungan, pada tahun 2018 Banyumas juga pernah mengalami darurat sampah. Namun, dari krisis itu lahirlah sebuah terobosan: TPA BLE (Berbasis Lingkungan dan Edukasi).


Di Desa Kaliori, Kalibagor sampah tidak lagi dianggap sebagai sumber masalah, tetapi sebagai sumber daya yang bisa diolah. Melalui sistem ini sampah dipilah sejak awal. Ada yang diolah menjadi kompos, bahan daur ulang, bahkan energi alternatif sehingga hanya residu kecil saja yang akhirnya masuk ke landfill.


Penggunaan alat dan teknologi merupakan faktor utama yang mendukung keberhasilan pengelolaan sampah. Tak kalah pentingnya bahwa, kunci dari keberhasilan juga adanya partisipasi masyarakat. Lebih dari 70 Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) terlibat aktif dalam pengumpulan dan pemilahan sampah. Mereka menjadi ujung tombak perubahan, membuktikan bahwa solusi tidak selalu datang dari atas tetapi dari kolaborasi antara pemerintah dan warga.  


Dampak Positif Terobosan TPA BLE  


Dampak positif dari adanya terobosan TPA BLE, yaitu adanya efisiensi anggaran. Biaya pengelolaan sampah bisa turun drastis dari Rp30 miliar menjadi hanya Rp5 miliar pertahun. Volume sampah harian dari 600 ton sampah harian, ternyata ada lebih dari 493 ton berhasil diolah.


Edukasi berkelanjutan TPA BLE juga menjadi tempat belajar. Telah dikunjungi ribuan orang dari berbagai daerah setiap tahunnya. Kini Banyumas diakui sebagai percontohan nasional dalam pengelolaan sampah berbasis masyarakat.


Teknis Pengelolaan Sampah di Negara Lain dan Terobosan Pemerintah


Apa yang dilakukan di Banyumas dalam pengolahan sampah sejalan dengan praktik di negara-negara lain yang sudah lebih maju dalam pengelolaan sampah, seperti:

 

- Jepang: masyarakat disiplin memilah sampah sejak rumah tangga. Ada kategori khusus: plastik, organik, logam, bahkan sampah besar. Edukasi dilakukan terus-menerus sehingga budaya memilah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.

 

- Jerman: menerapkan sistem Green Dot, di mana produsen wajib bertanggung jawab atas kemasan yang mereka hasilkan. Sampah bukan hanya tanggung jawab konsumen, tetapi juga tanggung jawab industri.

 

- Singapura: fokus pada waste-to-energy. Sampah dibakar dalam insinerator modern untuk menghasilkan listrik, sehingga landfill bisa ditekan seminimal mungkin

 

- Swedia: hampir 99% sampah diolah, sebagian besar menjadi energi. Negara ini berhasil menjadikan sampah sebagai sumber daya, bukan beban.  


Teladan Banyumas dan negara lain menegaskan satu hal. Yakni, sampah bukan sekadar limbah melainkan amanah.  


Darurat sampah sejatinya adalah darurat iman. Bumi bukan milik kita, melainkan titipan Allah yang harus dijaga. Maka setiap plastik yang kita kurangi, setiap sampah yang kita pilah, dan setiap langkah kecil yang kita ambil adalah bagian dari amanah. 


Jika masyarakat dan pemimpin berjalan bersama, krisis sampah bisa berubah menjadi berkah sebab menjaga bumi adalah bagian dari iman. Dan iman adalah cahaya yang menuntun kita menuju keberkahan. Wallahualam bissawab. [EA/MKC]