Alt Title

Sistem Islam Penyelamat Ibu dan Generasi dari Sekularisme

Sistem Islam Penyelamat Ibu dan Generasi dari Sekularisme




Dalam Islam, tidak dikenal istilah generation gap atau jurang pemisah antar generasi

Islam hadir sebagai fondasi hidup dan standar kesuksesan yang menyatukan visi orang tua dan anak


_____________________


Penulis Nurhikmah Oktavia 

Kontributor Media Kuntum Cahaya 


KUNTUMCAHAYA.com, ANALISIS - Hari ini, kita menyaksikan sebuah realitas yang menyayat hati. Di balik gemerlapnya era digital, ada serangan ideologi yang diam-diam melumpuhkan jati diri generasi muda muslim. Lewat layar gawai yang digenggam setiap detik, arus sekularisasi masuk tanpa permisi. Mengubah pemuda yang seharusnya menjadi pelopor perubahan (agent of change) menjadi pribadi yang kehilangan orientasi hidup, pragmatis, dan terbawa arus hedonisme.


Di sisi lain, kondisi kaum ibu setali tiga uang. Ibu yang dalam Islam dimuliakan sebagai madrasatul ula (sekolah pertama), kini perannya kian tergerus. Sistem kapitalisme yang rakus memaksa mereka keluar rumah demi menambal lubang ekonomi, hingga peran strategis sebagai pendidik generasi (ummu wa rabbatul bayt) perlahan memudar. Akhirnya, rumah-rumah kita kehilangan ruhnya dan anak-anak tumbuh tanpa pegangan nilai yang kokoh.


Anomali Angka: Amannya Data, Rapuhnya Fakta


Kerapuhan moral dan sistemik ini bukan sekadar asumsi. Jika kita menilik data resmi Statistik Kriminal 2024  (bps.go.id, 11-12-2025), ada sebuah anomali yang janggal. Secara administratif, kepolisian melaporkan penurunan angka kejahatan, tetapi fakta di lapangan berbicara lain.


Dikutip dari bps.go.id (11-12-2025) dalam Statistik Kriminal 2024/2025, berdasarkan data Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) justru mencatat adanya kenaikan penduduk yang menjadi korban kejahatan hingga 0,73 persen pada tahun 2024. Rendahnya tingkat pelaporan masyarakat yang hanya menyentuh 20,28 persen menunjukkan betapa skeptisnya publik terhadap jaminan keamanan saat ini.


Kondisi ini kian diperparah dengan krisis kesehatan mental yang melanda. Dikutip dari ugm.ac.id (24-10-2022) berdasarkan data I-NAMHS menunjukkan 1 dari 3 remaja Indonesia memiliki masalah kesehatan mental. Ini adalah bukti nyata bahwa sistem sekuler gagal memberikan rasa aman fisik maupun ketenangan jiwa.


Akar Masalah: Sistem yang Memisahkan Agama


Mengapa semua ini terjadi? Akar persoalannya jelas: adopsi sekularisme sebagai paradigma bernegara. Dalam sistem ini, agama sengaja dikurung dalam ranah privat dan dijauhkan dari pengaturan urusan publik. Akibatnya, kebijakan negara tidak lagi bersandar pada halal-haram, melainkan pada asas kemanfaatan dan komersialisasi.


Negara seolah membiarkan generasi muda dan kaum ibu menjadi objek pasar bagi para kapitalis. Tanpa pembekalan Islam yang kafah, mereka mudah terombang-ambing oleh pemikiran batil. Selama fondasi bernegaranya masih sekuler, solusi yang diberikan hanya akan bersifat kosmetik, tanpa pernah menyentuh akar kerusakan.


Membangun Qiyadah Fikriyah dan Kepribadian Islam


Menghadapi kerusakan sistemik ini, kita tidak bisa hanya diam. Dibutuhkan peran nyata jemaah dakwah untuk melakukan perubahan mulai dari akar, yaitu membangun kembali kepribadian islam (syakhshiyah islamiyah) pada diri setiap muslim.


Langkah pertama adalah menanamkan qiyadah fikriyah atau kepemimpinan berpikir. Kita harus sadar bahwa Islam bukan sekadar agama ritual, melainkan sebuah ideologi yang memiliki solusi atas seluruh problematika hidup. Melalui jemaah, kaum ibu dan pemuda dibina agar memiliki wa’yu siyasi (kesadaran politik) dengan kacamata iman. Artinya, mereka mampu melihat setiap kebijakan dan kondisi zaman bukan dengan sudut pandang pragmatis, melainkan dengan standar halal dan haram.


Ibu dan Pemuda: Pelopor Perubahan Tanpa Gap


Dalam Islam, tidak dikenal istilah generation gap atau jurang pemisah antargenerasi. Islam hadir sebagai fondasi hidup dan standar kesuksesan yang menyatukan visi orang tua dan anak. Ibu memiliki misi besar untuk membentuk pelopor perubahan sejak dari rumah. Ketika ibu cerdas secara ideologis, ia akan mencetak pemuda yang memandang dakwah sebagai amanah yang wajib diperjuangkan, bukan beban.


Urgensi Jemaah Islam Ideologis


Di tengah kegelapan sistem ini, kehadiran jemaah Islam ideologis menjadi keharusan yang mendesak. Perlu ada wadah pembinaan yang mampu membedah kerusakan sistem ini sekaligus menanamkan kepribadian Islam yang tangguh. Allah Swt. telah memerintahkan dalam Al-Qur'an:


“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat (jemaah) yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang mungkar; merekalah orang-orang yang beruntung.” (TQS. Ali Imran [3]: 104)


Ayat ini adalah perintah tegas untuk membentuk jemaah dakwah yang memiliki visi politik-ideologis. Jemaah inilah yang akan membina umat secara sistemik agar tidak hanya menjadi penonton, tetapi menjadi penggerak perubahan menuju tatanan kehidupan yang diridai Allah.


Menjemput Perubahan dengan Manhaj Nabawi


Rasulullah saw. telah memberikan peta jalan yang jelas tentang bagaimana mengubah sebuah peradaban yang rusak. Beliau tidak bergerak secara sporadis, melainkan melalui tahapan yang terukur dan sistematis. Dimulai dari pembinaan (tatsqif), beliau menempa para sahabat di Darul Arqam dengan akidah yang menghujam. Alhasil, lahir individu-individu yang tidak hanya saleh secara pribadi, tetapi juga memiliki kesadaran politik untuk memimpin dunia.


Langkah ini kemudian dilanjut dengan interaksi di tengah umat (tafa’ul ma’al ummah). Inilah tugas besar jemaah dakwah hari ini: menyadarkan kaum ibu dan pemuda bahwa Islam bukanlah sekadar agama ritual. Kita harus lantang menyuarakan bahwa Islam memiliki solusi tuntas atas segala problematika hidup. Mulai dari carut-marutnya ekonomi kapitalistik hingga rapuhnya jaminan keamanan di tengah masyarakat. Tanpa interaksi pemikiran ini, umat akan terus terbuai dalam standar ganda sekularisme.


Puncaknya adalah ikhtiar menuju penerapan Islam secara kafah. Kita merindukan kembalinya kehidupan Islam di bawah naungan institusi yang menerapkan hukum Allah secara totalitas. Sebab hanya dalam naungan sistem Islam-lah, kemuliaan manusia akan terjaga. Rasulullah saw. telah mengingatkan betapa beratnya perjuangan ini di tengah fitnah akhir zaman:


“Akan datang kepada manusia suatu zaman, orang yang berpegang teguh pada agamanya seperti orang yang menggenggam bara api.” (HR. Tirmidzi)


Eksistensi jemaah dakwah hari ini hadir untuk memastikan agar "bara api" keimanan itu tidak padam. Jemaah menjadi wadah saling menguatkan agar bara tersebut tidak hanya panas bagi penggenggamnya, tetapi berubah menjadi cahaya yang menerangi jalan perubahan bagi seluruh umat. Melalui pembinaan yang konsisten, kaum ibu akan kembali menjadi pendidik ulung, dan pemuda akan bangkit sebagai garda terdepan pembela Islam.


Penutup


Perubahan besar tidak akan lahir dari sistem sekuler yang sudah cacat sejak dalam pikiran. Inilah saatnya jemaah dakwah mengambil peran strategis untuk membina umat. Wahai kaum muslimah, khususnya para ibu dan pemuda! Saatnya kita sadar bahwa perubahan tidak akan lahir dari sistem yang rusak.


Kita butuh pembinaan yang mencerdaskan, yang membuat kita paham bahwa kehormatan kita hanya akan terjaga jika Islam diterapkan sebagai sebuah sistem kehidupan. Allah Swt. telah menjanjikan pertolongan bagi hamba-hamba-Nya yang bersungguh-sungguh, sebagaimana firman-Nya: “Hai orang-orang mukmin, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.” (TQS. Muhammad [47]: 7)


Perjuangan ini mungkin terasa berat, namun bergerak dalam jamaah akan menjaga langkah kita agar tetap istikamah. ingatlah, hanya dengan tegaknya syariat Islam secara kafah, kemuliaan generasi akan kembali nyata. Saatnya kembali ke jalan dakwah, saatnya menjemput kebangkitan Islam. Wallahualam bissawab. [Dara/MKC]