Alt Title

Era Digital dan Gen Z: Antara Tantangan Zaman dan Tanggung Jawab Peradaban

Era Digital dan Gen Z: Antara Tantangan Zaman dan Tanggung Jawab Peradaban




Hal ini menunjukkan betapa media sosial dapat memengaruhi cara Gen Z berpartisipasi

dalam perubahan sosial, lebih sering berdasarkan tren daripada pemikiran yang mendalam

_________________________


Penulis Vina

Kontributor Media Kuntum Cahaya


KUNTUMCAHAYA.com, OPINI - Era digital bukan sekadar tren, ia datang tanpa bisa dibendung dan telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat modern. Survei Profil Internet Indonesia 2025 dari Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) melaporkan bahwa lebih dari 229 juta penduduk Indonesia telah terkoneksi internet, dengan penetrasi mencapai sekitar 80,66 % dari total populasi. Hal ini merupakan sebuah peningkatan konsisten dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. (ANTARA News, 06-08-2025)


Fenomena ini menunjukkan bahwa ruang digital kini telah merambah hampir semua lapisan masyarakat. Akses informasi, komunikasi, dan peluang ekonomi menjadi semakin luas. Namun bersamaan dengan itu, tantangan baru muncul: arus informasi yang tak terfilter, tekanan sosial, serta kadang ambiguitas nilai yang disebarkan melalui media daring.


Dalam Islam, teknologi bukanlah sesuatu yang ditolak. Namun, yang menentukan baik buruknya adalah paradigma dan nilai yang mengarahkan penggunaannya. Allah Swt. mengingatkan dalam firman-Nya:

 

“Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang kamu tidak memiliki pengetahuan tentangnya…” (QS. Al-Isra’: 36)


Ayat ini menggarisbawahi bahwa setiap aktivitas manusia, termasuk dalam era digital, membutuhkan kesadaran nilai dan pertanggungjawaban moral.


Generasi Lemah atau Generasi Perubahan?


Generasi Z sering dipandang sebagai generasi yang rapuh, mudah terpengaruh, dan terlalu responsif terhadap tren media sosial. Penelitian dan opini media menunjukkan bahwa media sosial dapat menciptakan tekanan psikologis yang nyata bagi anak muda, terutama ketika mereka membandingkan diri dengan standar yang sering kali tidak realistis. Dengan dominasi platform seperti TikTok atau Instagram sebagai ruang ekspresi, Gen Z menghadapi tuntutan terus-menerus untuk tampil, berprestasi, atau sekadar “terlihat baik” di dunia maya. (Theleap, 20-08-2025)


Gen Z yang lahir tahun 1997-2012 adalah salah satu kelompok paling dominan dalam penggunaan internet di Indonesia. Dalam survei APJII, Gen Z tercatat sebagai salah satu generasi utama yang aktif terhubung internet, di samping generasi milenial. (Indonesia Online, 11-08-2025)


Lebih dari sekadar pengguna pasif, Gen Z juga menunjukkan potensi kuat dalam memobilisasi opini publik melalui media sosial. Banyak pergerakan sosial yang bermula dari hashtag atau unggahan viral berhasil menarik perhatian masyarakat luas sampai ke tingkat nasional. Kasus tagar #IndonesiaGelap dan gelombang protes yang bermula di platform digital adalah contoh bagaimana suara anak muda bisa menggerakkan opini publik dalam skala nasional. (Kompas.com, 04-03-2025)


Dalam isu lingkungan, ada gerakan pembersihan sungai dan pantai yang awalnya diinspirasi lewat konten media sosial dan kemudian diikuti oleh banyak relawan untuk turun langsung ke lapangan (Annisa, 2025). Fenomena ini tidak bisa dilihat sekadar sebagai “bukti kemajuan teknologi”. Namun, ini menunjukkan bahwa Gen Z memiliki potensi kritis dan energi perubahan yang besar, sesuatu yang dalam Islam dipandang sebagai kekuatan strategis apabila diarahkan dengan nilai yang benar.


Ruang Digital Tidak Netral


Penting untuk menyadari bahwa ruang digital bukanlah ruang kosong yang bebas nilai. Algoritma media sosial saat ini tak bekerja berdasarkan nilai kebaikan atau kebenaran, melainkan berdasarkan logika kapitalistik: di mana keuntungan, engagement, dan konsumsi menjadi tujuan utama. Menarik perhatian sebanyak mungkin dan memaksimalkan waktu pengguna di platform tersebut adalah cara kerjanya. Ini berarti konten yang viral bukan selalu yang paling mendidik atau bermakna, melainkan yang paling sensasional atau mengundang reaksi emosional.


Bahkan, platform digital juga seringkali tidak berpihak pada kebenaran. Beberapa kali konten yang berkaitan dengan isu P4lestina hilang atau di take-down oleh pihak meta. Akun para influencer yang menyuarakan keadilan dihapuskan.

 

Dari sini, kita semua dapat menilai kemana arah keberpihakan ruang digital saat ini. Ujian zaman bagi Gen Z bukan hanya soal teknologi itu sendiri, tetapi tentang bagaimana nilai agama diuji dan apakah nilai tersebut mampu menjadi kompas dalam menghadapi arus nilai yang sekuler, individualistik, dan konsumtif.


Aktivisme Digital: Kesadaran atau Reaktif?


Media sosial memang memungkinkan suara-suara anak muda tersampaikan secara luas dan cepat. Aktivisme online telah menjadi fenomena global, termasuk di Indonesia. Generasi Z sering menjadi pelopor dalam kampanye sosial yang mengangkat isu ketidakadilan, lingkungan, pendidikan, atau kebijakan publik. Media sosial memungkinkan pergerakan tanpa batas ruang dan waktu, semakin mempercepat penyebaran opini dan kolaborasi antarwarga. (Indonesia Online, 11-08-2025)


Namun, penting dicatat bahwa aktivisme digital sering kali bersifat pragmatis dan reaktif: unggahan cepat, tagar viral, respons emosional, tanpa berdasar perubahan sistemik atau berkelanjutan. Hal ini menunjukkan betapa media sosial dapat memengaruhi cara Gen Z berpartisipasi dalam perubahan sosial, lebih sering berdasarkan tren daripada pemikiran yang mendalam. Sebuah ciri khas digital native, yaitu generasi yang tumbuh dengan kenyamanan scroll, like, dan komentar sebagai metrik sosial. 


Islam mengajarkan bahwa perjuangan sosial yang sahih (benar) harus mengakar pada prinsip yang kuat dan tujuan yang lebih besar (maslahah ummah), bukan sekadar respons emosional. Nabi Muhammad saw. menegaskan pentingnya perubahan yang bertahap namun berdampak:

 

“Barang siapa di antara kalian melihat kemungkaran, maka ubahlah dengan tangannya; jika tidak mampu maka dengan lisannya; dan jika tidak mampu maka dengan hatinya. Dan itulah selemah-lemahnya iman.”(HR. Muslim)


Hadits ini menggarisbawahi bahwa perubahan tidak cukup hanya pada level simbolis, ia juga harus tercermin dalam tindakan nyata dan berjangka panjang.


Islam menawarkan paradigma berpikir yang holistik dan komprehensif, bukan kapitalistik, bukan pula sosialistik, tetapi berlandaskan tauhid. Menyelamatkan generasi dari pengaruh hegemoni nilai dominan ruang digital berarti menanamkan kerangka berpikir Islam secara utuh sebagai dasar penyaringan, kritik, dan aksi.

 

Paradigma ini membantu Gen Z memaknai teknologi sebagai alat untuk ibadah, amar ma’ruf nahi munkar, serta gerakan yang didasari ideologi Islam. Pergerakan Gen Z dalam era digital  harus diarahkan untuk memberikan solusi sistemis, bukan reaktif terhadap tren atau sekadar solusi parsial yang hilang esensinya ketika momentumnya lewat. Solusi yang ideologis harus berakar kuat pada paradigma berpikir Islam dan akidah Islam. 


Namun, tak ada perubahan besar tanpa kolaborasi. Keluarga merupakan benteng pertama penanaman nilai, masyarakat adalah ruang sosial nyata, dan negara menjadi struktur yang memungkinkan implementasi nilai secara luas. Ketiganya harus bersinergi agar generasi Z tidak kehilangan arah di tengah derasnya arus digital sekuler. Tanpa peran bersama, pengaruh ruang digital yang dominan bisa menggerus nilai spiritual generasi.


Gen Z sebagai Agen Perubahan Ideologis


Era digital adalah ujian sekaligus peluang besar. Ia bisa menjadi arena kehancuran generasi atau menjadi sarana kebangkitan peradaban Islam. Tergantung nilai apa yang memandunya. Islam tidak menolak kemajuan teknologi, tetapi menuntut agar kemajuan itu tunduk pada nilai wahyu dan moral, bukan sebaliknya.

 

Setiap aktivitas kita, termasuk apa yang kita lakukan dalam ruang digital adalah amal yang akan dimintai pertanggungjawaban. Dengan bimbingan nilai Islam, generasi saat ini bukan hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi menjadi agen perubahan yang sahih. Teknologi menjadi sarana amal yang membawa manfaat besar (maslahah), menjaga jiwa (nafsi), dan memperbaiki masyarakat (ummah). Wallahualam bissawab. [GSM/MKC]

**