Refleksi Isra Mikraj: Perjalanan Spiritual Menembus Kepemimpinan Dunia
OpiniIsra Mikraj mengajarkan bahwa perbaikan sejati dimulai dari perubahan cara pandang hidup
dari tunduk pada kepentingan manusia menuju ketundukan penuh pada hukum Allah
_______________________
Penulis Qotrunnada Firdaus
Kontributor Media Kuntum Cahaya
KUNTUMCAHAYA.com, OPINI - Rajab selalu hadir dengan suasana yang berbeda. Ada keheningan yang khas, seolah waktu melambat dan mengajak manusia menoleh ke dalam dirinya. Di bulan inilah umat Islam memperingati Isra Mikraj.
Sebuah peristiwa luar biasa yang kerap diceritakan dengan nada penuh kekaguman. Rasulullah saw. menempuh perjalanan yang melampaui batas ruang dan logika manusia. Dari Masjidil Haram menuju Masjidil Aqsha, lalu naik menembus lapisan langit.
Namun di balik kisah agung itu, tersimpan satu pertanyaan penting: Apa sebenarnya amanah yang dibawa pulang Rasulullah dari langit?
Selama ini, Isra Mikraj hampir selalu dimaknai sebagai peristiwa turunnya perintah salat. Salat dipahami sebagai ibadah personal, urusan seorang hamba dengan Tuhannya. Pemahaman ini tidak keliru, tetapi belum menyeluruh.
Dalam Islam, tidak ada perintah yang turun tanpa maksud mengatur kehidupan manusia secara utuh. Salat bukan sekadar rangkaian gerakan ritual, melainkan simbol ketaatan penuh kepada hukum Allah.
Al-Qur’an menegaskan bahwa salat memiliki peran menjaga kehidupan dari penyimpangan, sebagaimana firman Allah Swt.: “Sesungguhnya salat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar.” (QS. Al-‘Ankabut: 45)
Ayat ini menunjukkan bahwa salat bukan hanya ibadah individual, tetapi fondasi pembentuk tatanan hidup yang lurus. Bahkan dalam hadis, istilah menegakkan salat kerap digunakan sebagai kinayah bagi menegakkan hukum Allah dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara.
Sejarah pun memberi penjelasan yang tegas. Isra Mikraj tidak berdiri sendiri sebagai peristiwa spiritual yang terpisah dari realitas. Tidak lama setelahnya, Rasulullah saw. menerima Baiat Aqabah Kedua sebuah janji politik dari penduduk Yatsrib untuk melindungi beliau dan menerapkan Islam sebagai sistem kehidupan.
Dari sini tampak jelas bahwa Isra Mikraj bukan akhir dari perenungan, melainkan pintu awal menuju perubahan besar umat. Dari langit, risalah itu turun untuk membentuk tatanan di bumi.
Namun hari ini, amanah tersebut terasa sunyi. Sudah lebih dari seratus tahun umat Islam hidup tanpa institusi yang menerapkan hukum Allah secara kafah. Runtuhnya Khil4fah bukan hanya peristiwa sejarah, tetapi luka peradaban yang dampaknya masih terasa hingga kini.
Sejak saat itu, umat Islam dipaksa menyesuaikan diri dengan sistem yang tidak lahir dari wahyu, melainkan dari pemikiran manusia yang sarat kepentingan. Demokrasi sekuler dan kapitalisme global menjadi standar kehidupan, sementara syariat Islam dipersempit maknanya, dijauhkan dari ruang publik, bahkan dianggap tidak lagi sesuai dengan zaman.
Yang sering luput disadari adalah bahwa sistem yang berjalan justru menjadi pemicu lahirnya berbagai krisis yang saling terkait. Ketimpangan ekonomi semakin menguat, kekuasaan terkonsentrasi di tangan segelintir elite, sementara hukum perlahan kehilangan perannya sebagai penegak keadilan.
Di Indonesia, kondisi ini tercermin dari distribusi kekayaan yang masih didominasi oleh kelompok kecil sekitar 1 persen penduduk menguasai hampir separuh total kekayaan nasional. Meskipun kondisi perekonomian secara umum kerap disebut mengalami perbaikan. Fakta ini menunjukkan bahwa ketimpangan tetap nyata di tengah masyarakat. (voi.id, 20-11-2025)
Ketika kehidupan dijalankan tanpa berlandaskan tuntunan wahyu, hubungan antarmanusia menjadi rapuh dan keseimbangan relasi manusia dengan alam pun terganggu. Akibatnya, berbagai krisis sosial, kemanusiaan, dan lingkungan terus berulang tanpa solusi yang mampu menyentuh akar persoalan.
Dalam kondisi hari ini, P4lestina menjadi cermin paling jujur. Tanah suci yang menjadi saksi perjalanan Isra Mikraj Rasulullah saw. hingga kini masih terjajah. Kekerasan yang berulang, hancurnya rumah-rumah, dan hilangnya rasa aman berlangsung di hadapan dunia yang mengaku menjunjung nilai kemanusiaan.
Pada saat yang sama, negeri-negeri muslim terpecah dalam batas teritorial kenegaraan, lemah, dan tak mampu melindungi saudara-saudara mereka yang tertindas, baik di P4lestina maupun negeri muslim di berbagai wilayah lain.
Kondisi ini seharusnya membuat umat berhenti sejenak dan bertanya dengan jujur: Apakah persoalan umat hanya soal kurangnya ibadah pribadi, atau ada masalah yang lebih mendasar dalam cara kehidupan ini diatur?
Jika salat diturunkan dari langit sebagai simbol ketaatan kepada hukum Allah, maka meninggalkan hukum-Nya dalam kehidupan bersama adalah ketidaksesuaian yang tidak bisa terus dibiarkan.
Di sinilah Isra Mikraj menjadi sangat bermakna bagi kehidupan masa kini. Perjalanan Rasulullah saw. menembus langit mengingatkan bahwa jalan keluar bagi persoalan kehidupan tidak lahir dari bumi itu sendiri. Kemajuan teknologi, kebebasan tanpa batas, dan pertumbuhan ekonomi tidak selalu menghadirkan keadilan.
Tanpa wahyu sebagai penuntun, kemajuan justru sering berubah menjadi sarana penindasan. Isra Mikraj mengajarkan bahwa perbaikan sejati dimulai dari perubahan cara pandang hidup, dari tunduk pada kepentingan manusia menuju ketundukan penuh pada hukum Allah.
Refleksi ini menuntut lebih dari sekadar peringatan tahunan. Kesalehan pribadi harus berjalan seiring dengan kesalehan sosial. Ibadah tidak berhenti di sajadah, tetapi tampak dalam sikap menolak kezaliman, kepedulian terhadap penderitaan umat, dan kesungguhan memperjuangkan tatanan hidup yang adil. Tanpa itu, agama berisiko hanya tinggal simbol tanpa pengaruh nyata.
Sejarah telah mencatat, ketika hukum Allah ditegakkan, keadilan benar-benar dirasakan. Islam terbukti menjadi sistem penjaga terlama yang menjadi pelindung bagi warganya dari segala bentuk penindasan, bukan penonton ataupun produsen penderitaan. Maka momentum Isra Mikraj harus menjadi pelajaran mewujudkan perubahan besar dengan ketaatan penuh kepada Allah Swt..
Jika langit telah menunaikan amanahnya dengan menurunkan hukum Allah. Kini saatnya kita yang mengambil peran penerus risalah Rasulullah saw., memikul amanah melanjutkan kembali kehidupan Islam.
Pemuda harus memastikan bahwa dirinya berada di garda terdepan dalam mengambil peran tersebut. Menjadi generasi yang kokoh imannya, nyata perannya dalam mewujudkan Islam sebagai sistem sahih yang mampu memimpin dunia. Wallahualam bissawab. [Dara/MKC]


