Rajab: Kembali pada Kepemimpinan Global Pembawa Rahmat
OpiniRajab seharusnya menjadi panggilan kembali kepada Islam sebagai ideologi total
yang mengatur seluruh kehidupan bukan sekadar dimaknai secara ritual semata
_____________________________
Penulis NurJannah
Kontributor Media Kuntum Cahaya
KUNTUMCAHAYA.com, OPINI- Bulan Rajab adalah salah bulan mulia yang Allah Swt. berikan kepada umat Islam untuk muhasabah dan memperkuat iman. Namun, derap kehidupan global menunjukkan bahwa nilai-nilai Islam justru semakin terpinggirkan. Tergerus dominasi ideologi kapitalisme sekularisme di panggung dunia.
Umat Islam, terkhusus di Indonesia yang mayoritas penduduknya muslim sedang menghadapi tantangan besar. Tantangan tersebut bukan tentang sulitnya melaksanakan ibadah ritual. Lebih dari itu, masalah yang ada sejatinya karena sistem hidup yang jauh dari nilai Islam. Kondisi tersebut membuat negeri ini tak berdaya di bawah kendali sistem rusak bernama kapitalisme.
Kapitalisme global di bawah Amerika Serikat sebagai kekuatan utama, terus menunjukkan wajah arogan yang tampak jelas. Lihatlah, bagaimana serangan militer AS terhadap Venezuela awal Januari 2026. Intervensi tersebut memantik protes dari berbagai pihak di Indonesia maupun dunia karena dinilai melanggar kedaulatan negara dan prinsip hukum internasional. (antaranews.com, 11-01- 2026)
Intervensi AS di Venezuela: Ancaman terhadap Kedaulatan dan Kemanusiaan
Dikutip dari AntaraNews pada 03-01-2026, serangan tersebut telah berdampak luas dari penangkapan Presiden Venezuela hingga dampak kemanusiaan yang masih diselidiki oleh otoritas setempat. Indonesia sendiri menyatakan keprihatinan mendalam atas tindakan AS, mengingat hal itu berpotensi menjadi preseden buruk dalam tatanan internasional yang menghormati kedaulatan negara.
Reaksi tersebut tidak hanya datang dari perwakilan resmi pemerintah. Namun, sikap yang sama juga muncul dari elemen masyarakat sipil dan organisasi non-pemerintah yang menyerukan kecaman keras terhadap intervensi tersebut. Salah satunya adalah Indonesian Council on World Affairs (ICWA).
Lembaga ini menegaskan bahwa agresi militer itu bertentangan dengan hukum internasional dan piagam PBB. Kelompok pemuda pun menyatakan bahwa tindakan tersebut mencederai prinsip non-intervensi dan merusak kerangka hukum internasional.
Realitas geopolitik seperti ini menunjukkan secara jelas bagaimana wajah kapitalisme tidak hanya soal ekonomi, tetapi juga ekspansi politik dan militer. Hal tersebut tentu berpotensi menginjak-injak nilai kemanusiaan, keadilan, dan kedaulatan bangsa-bangsa lain.
Kapitalisme: Krisis Nilai yang Menyeret Dunia
Kapitalisme merupakan sebuah ideologi yang mengidolakan pasar bebas, akumulasi modal, dan kekuasaan ekonomi. Ia mengaburkan nilai moral, menggusur spiritualitas, dan mengangkat keuntungan material sebagai ukuran tertinggi.
Dalam konteks ini, akan didapat beberapa fakta, yaitu:
Pertama, rakyat kecil terpinggirkan karena sistem yang menempatkan modal besar di atas martabat manusia
Kedua, negara kaya sumber daya sering dieksploitasi, tetapi hasilnya tidak dirasakan secara adil oleh rakyatnya
Ketiga, kerusakan lingkungan makin parah, akibat eksploitasi tak terkendali demi pertumbuhan ekonomi yang sempit dan memuaskan kerakusan para elite penguasa.
Hal itu sesuai dengan firman Allah Swt. yang artinya: "Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia.” (TQS. Ar-Rum: 41)
Ayat ini memperingatkan bahwa kerusakan global bukanlah fenomena netral, melainkan akibat dari sistem hidup yang salah, rusak, dan merusak. Hal ini akibat kehidupan manusia hanya mengejar keuntungan duniawi tanpa memperhatikan amanah dari sang Maha Pencipta dan Pengatur, yaitu Allah Swt..
Islam dan Khil4fah: Kepemimpinan Pembawa Rahmat
Islam bukan sekadar agama yang mengatur ibadah ritual semata. Lebih dari itu Islam adalah mabda (ideologi) yang mengatur seluruh aspek kehidupan. Sebagaimana Allah Swt. berfirman: ”Wahai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara kafah (menyeluruh)." (TQS. Al-Baqarah: 208)
Islam kafah adalah tawaran solusi yang mengintegrasikan iman dengan tindakan. Agama yang mulia ini juga menempatkan moral beserta struktur sosial. Terakhir, nilai tauhid terhubung dengan sistem politik. Ketika umat Islam memahami Islam secara kafah, mereka melihat bahwa ketidakadilan global adalah hasil sistem yang bertentangan dengan syariat Allah.
Rasulullah ï·º bersabda:
”Imam adalah pengurus rakyat dan ia bertanggung jawab atas rakyat yang diurusnya.” (HR Bukhari & Muslim)
Kepemimpinan dalam Islam tidak hanya mengurusi urusan politik semata tetapi harus menjamin keadilan, kesejahteraan, perlindungan, dan keberkahan bagi seluruh umat di segala penjuru dunia.
Dalam sejarah peradaban Islam, institusi Khil4fah Islamiyah adalah manifestasi penerapan Islam kafah secara struktural. Khil4fah bukan hanya menjamin keamanan umat Islam tetapi juga keadilan bagi non-muslim yang hidup di wilayahnya, serta pelestarian lingkungan sebagai amanah khalifah di bumi.
Sebagaimana Allah Swt. berfirman:"Dan agar manusia dapat menegakkan keadilan." (TQS. Al-Hadid: 25)
Ayat di atas mengandung panggilan universal untuk menegakkan keadilan tanpa kompromi, meskipun terhadap orang lain. Kepemimpinan Islam membawa yang haq bukan karena kekuatan militer atau ekonomi semata. Namun, karena berpijak pada nilai Tuhan yang adil dan pembawa rahmat bagi seluruh alam (rahmatan lil ’alamin).
Rajab: Momentum Kesadaran dan Kebangkitan Ideologis
Bulan Rajab bukan hanya panggilan untuk memperbanyak ibadah sunnah, tetapi momen refleksi ideologis. Seharusnya Rajab menjadikan umat Islam menyadari bahwa:
1. Sistem dunia saat ini tidak akan menyelesaikan masalah umat.
2. Perubahan sejati hanya datang dari penerapan Islam secara total.
3. Tanpa Islam kafah, umat akan terus terjajah oleh logika kekuasaan dunia yang rakus, rusak, dan merusak tatanan kehidupan.
Selama umat Islam menggantungkan harapan pada kapitalisme sekulerisme, terlebih meneladani gaya hidupnya, dominasi ideologi asing akan terus mengakar kuat.
Rajab seharusnya menjadi panggilan kembali kepada Islam sebagai ideologi total yang mengatur seluruh kehidupan bukan sekadar dimaknai secara ritual semata.
Khatimah
Kapitalisme sekuler telah menciptakan realitas global yang timpang, dominasi kekuatan besar; eksploitasi negara lain; runtuhnya prinsip kemanusiaan dan kedaulatan. Sementara itu, Islam kafah menawarkan solusi total yang menjamin keadilan, rahmat, dan martabat manusia.
Di bulan Rajab yang mulia ini, umat Islam harus bangkit dan kembali kepada Islam yang kafah, menyatukan iman dan amal, mengintegrasikan nilai syariah dalam sistem sosial, ekonomi, dan politik. Semua itu merupakan sebuah jawaban atas semua krisis dunia yang kita saksikan hari ini. Wallahualam bissawab. [EA/MKC]


