Rajab: Seruan Langit Saatnya Menegakkan Syariat
Opini
Isra Mikraj bukan cerita untuk dikenang, tetapi seruan untuk bangkit
Rajab bukan hanya bulan haram yang mulia, tetapi bulan sejarah tegaknya kekuasaan Islam
_________________________
Penulis Perawati
Kontributor Media Kuntum Cahaya
KUNTUMCAHAYA.com, OPINI - Isra Mikraj Bukan Sekadar Kisah Spiritual
Rajab kembali hadir, membawa umat Islam pada ingatan agung tentang perjalanan Rasulullah ï·º ke Sidratul Muntaha dalam peristiwa Isra Mikraj. Peristiwa ini kerap dirayakan dengan kajian, ceramah, atau lomba keislaman. Namun sayangnya, peringatan ini cenderung direduksi hanya sebagai kisah mukjizat dan turunnya perintah salat lima waktu.
Padahal Isra Mikraj tak berhenti pada aspek spiritual. Tak lama setelah peristiwa langit tersebut, Nabi ï·º menerima Baiat Aqabah II (pengukuhan dukungan politik dari penduduk Madinah) yang membuka jalan bagi hijrah dan tegaknya Daulah Islam pertama. Artinya, Isra Mikraj adalah tonggak lahirnya perubahan ideologis dan politis umat Islam. (Fisilmikaffah, 16-1-2026)
Tahun ini, Isra Mikraj 1447 H jatuh pada Jumat, 16 Januari 2026 (27 Rajab) dan ditetapkan sebagai hari libur nasional oleh pemerintah Indonesia (Liputan6, 11 Januari 2024). Namun, peringatan yang berlangsung luas ini nyaris tidak menyentuh makna strategis di balik peristiwa tersebut, yakni seruan untuk menegakkan hukum langit di bumi.
Ketika Hukum Langit Diabaikan
Setelah runtuhnya Khil4fah Islamiyah pada 3 Maret 1924, umat Islam telah 105 tahun hidup tanpa sistem yang menerapkan syariat secara kafah. Syariat Islam dikerdilkan hanya sebatas ibadah pribadi. Akibatnya, umat Islam kehilangan pijakan politik dan perisai perlindungan.
Salah satu hadis menyebutkan:
“Kecuali jika kalian melihat kekufuran yang nyata, maka janganlah memberontak terhadap pemimpin selama mereka masih menegakkan salat.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Menurut para ulama seperti Imam Nawawi dan Al-Qurthubi, frasa “menegakkan salat” dalam konteks ini tidak dimaknai secara sempit sebagai ritual, tetapi mencakup penegakan seluruh hukum Allah dalam kehidupan publik, sosial, dan negara.
Namun, dalam sistem demokrasi sekuler yang mendominasi dunia hari ini, syariat Allah disingkirkan dari ruang publik. Hukum dibuat oleh manusia melalui mekanisme voting, yang justru membuka celah kepentingan oligarki dan kapitalis global. Hal ini tidak hanya menyebabkan kemiskinan struktural, tetapi juga krisis moral, disintegrasi sosial, dan ketidakadilan global yang menimpa umat Islam.
Sebagaimana terlihat dalam konflik berkepanjangan di P4lestina, Rohingya, Uighur, Kashmir, India, Rusia, dan Filipina Selatan, umat Islam menjadi korban kekejaman yang tak berkesudahan. Namun penguasa negeri-negeri Muslim memilih diam dan berkompromi, karena mereka tunduk pada sistem internasional yang tidak berpihak pada Islam dan kaum muslim.
Isra Mikraj Adalah Seruan Menegakkan Khil4fah
Isra Mikraj bukan sekadar peristiwa langit. Ia adalah sinyal perubahan dari langit untuk membangun peradaban bumi berdasarkan wahyu, bukan hawa nafsu. Maka momen Rajab ini harus dijadikan titik balik untuk:
1. Meninggalkan Sistem Sekuler Kapitalisme
Sistem kapitalisme sekuler menjadikan hukum Allah sebagai opsi, bukan kewajiban. Padahal Allah menegaskan: “Keputusan itu hanyalah milik Allah.” (QS. Yusuf: 40)
Hukum Allah adalah satu-satunya hukum yang adil, menyeluruh, dan menyelamatkan manusia dari kerusakan. Maka mencampakkan sistem sekuler bukan sikap radikal, tetapi pilihan rasional dan spiritual bagi umat yang menginginkan kebangkitan hakiki.
2. Satukan Umat di Bawah Khil4fah
Isra Mikraj dimulai dari Masjidil Haram dan berakhir di Masjidil Aqsa, dua tempat suci yang hari ini terpisah oleh batas negara dan konflik politik. Pembebasan Al-Aqsa tidak akan terjadi dengan pidato atau negosiasi, tapi melalui kekuatan persatuan politik umat, yaitu Khil4fah.
Khil4fah menyatukan umat dalam satu kepemimpinan dan satu sistem. Ia meniadakan batas nasionalisme, menyatukan potensi militer, ekonomi, dan sumber daya umat untuk mewujudkan keadilan global di bawah hukum Islam.
3. Serukan kepada Tentara Muslim
Tentara umat Islam adalah anak-anak umat terbaik. Namun saat ini, mereka dikekang oleh kepentingan politik negara bangsa. Dalam sejarah, Al-Mu’tashim mengirim pasukan hanya karena satu wanita Muslimah dilecehkan.
Shalahuddin Al-Ayyubi membebaskan Baitul Maqdis setelah umat bersatu. Kini, mereka harus kembali diseru, bukan untuk kepentingan nasional, tapi untuk membela kehormatan umat dan menegakkan sistem Islam. Khil4fah akan menjadi panglima besar umat Islam dalam menghadapi kezaliman global.
4. Dukung Perjuangan Partai Islam Ideologis
Perubahan besar tak akan datang dari partai pragmatis. Hanya partai berbasis akidah Islam yang mampu memimpin umat dengan kesadaran ideologis. Mereka tidak berkompromi pada sistem kufur, tetapi membangun opini, mengkader umat, dan mengajak kepada penegakan syariat Islam kafah.
Merekalah yang bekerja dalam senyap, memahamkan umat bahwa Islam bukan hanya akidah dan ibadah, tetapi jalan hidup yang utuh, mulai dari ekonomi, politik, sosial, hingga pergaulan.
5. Bangkitlah, Wahai Pewaris Peradaban
Kita bukan umat biasa. Kita adalah pewaris para khalifah, para penakluk, para pembebas umat. Kita adalah cucu Al-Mu’tashim, keturunan Muhammad Al-Fatih, penerus Shalahuddin. Jangan biarkan warisan kemuliaan itu dikubur oleh sistem yang menjauhkan kita dari hukum langit.
Rajab Waktunya Bangkit
Isra Mikraj bukan cerita untuk dikenang, tapi seruan untuk bangkit. Rajab bukan hanya bulan haram yang mulia, tetapi bulan sejarah tegaknya kekuasaan Islam. Hari ini, dunia tercekik oleh kepemimpinan kapitalis global yang gagal membawa keadilan dan kesejahteraan.
Maka, menegakkan kembali kepemimpinan Islam melalui Khil4fah bukan pilihan, tetapi kewajiban. Hanya dengan hukum dari langit, bumi akan menemukan keadilan sejatinya. Mari jadikan Rajab sebagai titik balik:
Dari mengenang, menuju perjuangan.
Dari ritual, menuju perubahan sistemik.
Dari nostalgia, menuju tegaknya Khil4fah Rasyidah ‘ala minhaj nubuwwah. Wallahualam bissawab. [GSM/MKC]


