Malapetaka Ibu dan Generasi Muda di Sistem Kapitalisme
OpiniMereka yang tumbuh dengan kekurangan sosok ibu mengakibatkan anak lapar kasih sayang
dan mencari kasih sayang dari orang lain
____________________
Penulis Sahara Maina Larasati
Kontributor Media Kuntum Cahaya
KUNTUMCAHAYA.com, OPINI - Ibu dan Anak Zaman Now
Orang tua terlebih ibu memiliki peran yang sangat penting dalam kehidupan setiap anak. Peran ibu bukan hanya sekedar melahirkan. Sebagaiman ibu-ibu di zaman modern yang tidak sedikit lupa dengan peran sejatinya.
Para ibu sering kali menganggap perannya hanya sebatas memberikan ASI, memberikan makan, mengantar sekolah, atau bahkan ketika dia sudah ikut serta berpartisipasi sebagai pencari nafkah dalam rumah tangga menganggap perannya sudah cukup sampai di sana. Tidak jarang di tengah guncangan ekonomi yang makin sulit para ibu ikut andil dalam kegiatan mencari nafkah di tengah-tengah keluarganya.
Alhasil, para ibu harus meninggalkan anak-anaknya di rumah. Akibatnya, anak-anak akan tumbuh dengan penuh kemewahan harta dan fasilitas, tetapi kurang dalam kasih sayang dan pendidikan serta pembinaan keluarga terutama ibu. Mereka yang tumbuh dengan kekurangan sosok ibu mengakibatkan anak lapar kasih sayang dan mencari kasih sayang dari orang lain.
Dengan kekurangan pendidikan serta pembinaan, anak tidak memiliki gambaran fenomena kehidupan yang akan dihadapi di luar sana. Ketika menghadapi suatu masalah anak-anak membuat problem solving sendiri tanpa dilandasi mafhum. Karena dalam tahapan pendidikan serta pembinaan ibu berperan sebagai penanam mafhum atau pemahaman kepada anak-anak.
Ibu dan Anak Terbawa Arus Sekuler Kapitalisme
Di sistem yang mengatur kehidupan ini tidak heran jika para ibu menjadi ibu-ibu karir yang hanya mementingkan profesi, jabatan, gaji, atau bahkan isi rumah serta kecantikannya. Karena para ibu ini otomatis ikut dalam sistem sekuler kapitalisme sebab tuntutan sistem tersebut menjadikan wanita kedudukannya sama dengan laki-laki. Kemudian framing masyarakat menganggap wanita yang berpendidikan itu wanita yang memiliki profesi dan jabatan tinggi.
Ditambah lagi standar kesuksesan dilihat dari kekayaan. Inilah yang membuat para ibu-ibu melakukan berbagai cara demi mendapatkan cuan bahkan tidak malu memperlihatkan auratnya.
Apalagi dengan mekarnya sistem ekonomi kapitalis membuat mereka mengalami krisis ekonomi. Mirisnya, tidak jarang para ibu dengan sukarela menggadaikan nyawanya sendiri karena tidak sanggup menopang ekonomi keluarga.
Sebagaimana dikutip dari BBC News Indonesia (10-09-25) bahwa "Sementara ekonom menyebut bunuh diri dengan faktor ekonomi yang berdiri di belakangnya sudah mengarah ke fenomena sosial. Maraknya kasus bunuh diri karena ekonomi memperlihatkan betapa realita di lapangan tidak seindah yang sering diklaim pemerintah."
Apa yang terjadi pada anak-anak tidak jauh dari apa yang dilakukan oleh ibunya. Anak yang ditinggal bekerja akan kekurangan kasih sayang dari sosok ibu. Mereka mengalami degradasi moral akibat ibunya yang tidak memberikan pendidikan dn pembinaan penuh di rumah. Akibatnya, anak mencari kasih sayang dari orang lain secara bebas.
Tidak heran, banyak anak-anak zaman sekarang tergerus dalam pergaulan bebas, bullying, judol, pinjol, perzinaan, bahkan tidak jarang juga mereka sebagai pelaku pembunuhan. Sebagaimana dikutip dari inilah.com (26-12-2024) bahwa "Kasus perundungan di sekolah, pencurian, pelecehan seksual, perzinaan, judi online, hingga pembunuhan terhadap keluarga sendiri menjadi cerminan terdegradasinya moral anak-anak bangsa."
Urgensi Kelompok Dakwah Islam bagi Ibu dan Generasi
Di zaman sekarang, di tengah sistem kehidupan yang merusak ini ibu dan generasi sangat membutuhkan Islam. Karena dalam pandangan Islam ibu adalah sosok yang mulia dengan amanah dari Allah untuk melahirkan anak-anak serta merawatnya, mendidiknya, dan membinanya.
Sedangkan anak adalah amanah dari Allah yang harus dirawat, dibesarkan dengan pendidikan dan pembinaan yang dapat mencetak generasi yang dapat meneladani Rasulullah saw. sehingga seorang ibu dalam Islam harus memiliki pemahaman tentang hakikat penciptaanya dimuka bumi ini. Dengan modal itu dia akan mendesain anaknya diiringi oleh hakikat penciptaan tersebut, yaitu menjadi hamba Allah.
Para ibu dalam Islam harus memiliki akidah Islam yang kuat yang mana tujuan kehidupannya adalah rida Allah. Dari sanalah anak akan dibekali dengan akidah islamiah sehingga tujuan kehidupan dirinya yang ditanamkan kepada anaknya hidup untuk menjadi hamba Allah agar mendapatkan rida-Nya.
Kemudian seorang ibu dalam Islam harus memiliki pola pikir islamiah. Di mana seorang ibu dalam menjalankan perannya untuk membesarkan, mendidik, serta membina anaknya tertuju pada pemahaman Islam yang dimiliki. Ia harus mampu memecahkan masalah dengan pemikiran Islam yang dimilikinya.
Serta menjadi seorang ibu dalam Islam harus memiliki pola sikap islamiah atau akhlakul karimah. Ia harus berperilaku sesuai dengan perintah dan larangan Allah. Bukan distandarisasi dari pandangan manusia apalagi berperilaku ikut-ikutan mayoritas manusia sehingga segala perilaku yang akan dicontohkan kepada anaknya adalah perilaku-perilaku yang sudah dicontohkan oleh Rasulullah saw..
Semua itu sulit dapat dilakukan secara personal melainkan membutuhkan komunitas yang akan menunjang peran ibu atau anak itu. Komunitas inilah yang disebut dengan komunitas dakwah Islam ideologis. Dalam komunitas ini, diisi oleh orang-orang yang sudah terbentuk akidah, tsaqafah atau pemahaman, serta kepribadiannya adalah kepribadian Islam.
Alhasil, apa yang keluar dari lisannya senantiasa mengajak pada ketaatan kepada Allah. Tentu ketaatannya secara menyeluruh. Mulai dari taat dalam hubungan hamba dengan Allah sebagai Tuhan, taat tatkala menjalankan hubungan sesama manusia serta taat dalam mengatur dirinya sendiri.
Khatimah
Dalam Al-Qur'an surah Az-Zariyyat ayat 56, Allah Swt. berfirman: "Tidaklah Allah menciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku"
Ayat diatas menunjukan bahwa hakikat kehidupan kita sebagai hamba dimuka bumi ini. Tentu dengan tuntunan yang sudah diajarkan oleh Nabi Muhammad saw. Maka dari itu, penting mencari komunitas yang akan menguatkan dalam ketaatan untuk beribadah kepada Allah dalam ranah apapun. Dengan peran yang diemban baik sebagai ibu maupun generasi. Wallahuallam bissawab [Dara/MKC]


