Kisah Duka di Balik Lambatnya Respons Negara
OpiniHal itu akan terus terjadi selama negara menerapkan sistem kapitalisme
di mana seluruh kebutuhan dasarnya menjadi ladang bisnis
_________________________
Penulis Ummu Azzam
Kontributor Media Kuntum Cahaya
KUNTUMCAHAYA.com, OPINI - Kisah pilu tentang ibu dan bayi meninggal karena terlambat mendapatkan penanganan pihak rumah sakit kembali menyita perhatian masyarakat.
Kali ini, peristiwa yang mengiris nurani tersebut harus dialami oleh Irene Sokoy dan bayi dalam kandungannya. Keduanya tak bisa diselamatkan setelah ditolak empat rumah sakit di Kabupaten dan Kota Jayapura, Papua.
Gubernur Papua, Matius D Fakhiri, memohon maaf dan mengakui itu semua kesalahan dari para jajarannya. Irene adalah warga Kampung Hobong, Distrik Sentani, Jayapura. Irene dan bayinya dinyatakan meninggal dalam perjalanan bolak-balik menuju RSUD Dok ll Jayapura setelah ditolak beberapa rumah sakit pada Senin (17-11).
Kepala Kampung Hobong Abraham Kabey mengatakan tragedi tersebut tentu sangat memilukan. Beliau juga mengatakan kejadian itu sangat menyakitkan hati masyarakat. Suami almarhum, Neil Kabey kecewa atas pelayanan pihak rumah sakit terhadap istrinya. (Detiksulsel.com, 23-11-2025)
Kasus Ibu Meninggal Saat Melahirkan Kembali Terulang
Kasus Irene dan bayinya yang meninggal karena ditolak rumah sakit adalah kasus yang sering terjadi. Bahkan banyak kita lihat di media sosial dan menjadi viral. Parahnya, saat sudah ada korban dan viral, pemerintah baru bergerak, berbenah, dan siap melayani. Pun demikian dengan pihak rumah sakit. Institusi ini juga tidak mau disalahkan dan langsung melakukan pembelaan versi mereka.
Walau korbannya adalah orang yang berbeda, tetapi kasusnya sama. Sebuah fenomena yang sama, yaitu sama-sama ditolak rumah sakit. Kebanyakan kasus tersebut adalah kasus warga miskin yang tidak punya kartu kesehatan. Mereka tidak ada jaminan apa pun ketika berobat karena tak mampu untuk membayar.
Akibat dari Kapitalisasi Pelayanan Kesehatan
Fenomena tersebut merupakan imbas dari sistem kapitalisme yang berasaskan manfaat dan bermotif untung rugi dalam melayani. Di sistem ini, semuanya dinilai dengan uang. Pemahaman tersebut membuatnya kehilangan rasa simpati dan empati. Maka ketika ada seorang ibu hamil yang harus segera mendapatkan penanganan dan perhatian tidak ada yang mau menerimanya. Padahal ada dua nyawa yang harus diselamatkan.
Memang kematian adalah takdir. Akan tetapi, ada upaya manusia ketika itu kondisinya memang masih bisa diupayakan. Untuk kasus Irene, pihak rumah sakit seharusnya bisa menyediakan alat-alat kesehatan, dokter, dan tenaga kesehatan yang siap melayani siapa pun dan kapan pun. Sedangkan fasilitas penunjang lainnya adalah ambulan.
Namun, pembangunan yang tidak merata antara daerah yang di kota dan yang di desa bahkan di pelosok daerah ternyata berpengaruh terhadap pelayanan kesehatan dan juga fasilitas yang ada. Begitu juga dengan tenaga kesehatannya. Semua dokter pasti memilih mengabdi di kota yang notabene lebih menjanjikan penghasilan.
Seharusnya untuk urusan kesehatan, siapa pun yang membutuhkan harus segera dilayani dengan baik. Jadi, ketika ada hal yang darurat seharusnya setiap unit pelayanan kesehatan harusnya ada dokter yang berjaga. Jangan sampai tidak ada dokter sama sekali. Hal itu jelas sangat menyakitkan bagi keluarga pasien karena korban terlambat mendapatkan pelayanan rumah sakit.
Namun, memang begitulah watak sistem kapitalisme yang selalu memikirkan untung rugi di setiap aktivitasnya. Parahnya, dalam sistem tersebut, kebutuhan dasar warganya akan diperjualbelikan layaknya pedagang dan pembeli. Setelah itu, dipikirkan untung ruginya untuk bisa mendapatkan uang termasuk layanan kesehatan.
Menolak pasien adalah bukti nyata bahwa banyak ketidakadilan dalam sistem pelayanan kesehatan hari ini. Barang siapa yang punya kuasa dia akan dilayani bagai raja dan diperlakukan sedemikian rupa. Akan tetapi bila pasien yang datang tak ada jaminan apa pun, pasti akan dilayani setengah hati, bahkan akan ditolak. Apalagi bagi yang tidak punya kartu jaminan kesehatan tentu akan merogoh kantong dalam-dalam demi bisa mendapatkan pelayanan yang baik.
Fenomena tersebut sungguh peristiwa yang sangat memprihatinkan. Hal itu akan terus terjadi selama negara menerapkan sistem kapitalisme, di mana seluruh kebutuhan dasarnya menjadi ladang bisnis. Di sini keuntungan sebagai motif utama, padahal masalah pelayanan kesehatan adalah masalah nyawa yang harus diselamatkan.
Pelayanan Kesehatan Merupakan Kebutuhan Dasar dalam Negara Islam
Pelayanan kesehatan adalah kebutuhan dasar manusia yang wajib disediakan oleh negara. Maka sudah seharusnya kaum muslim hidup dalam naungan sistem Islam yang akan melindungi dan meriayah semua yang menjadi hak dasar dari kebutuhan hidupnya. Begitu juga halnya dengan layanan kesehatan. Salah satunya adalah rumah sakit sebagai tempat untuk menerima pasien yang sewaktu-waktu datang untuk berobat atau untuk menerima pelayanan kesehatan yang lain.
Di sinilah tugas dan tanggung jawab Daulah Islam dalam meriayah warganya seperti dalam sabda Rasul saw.,
”Pemimpin adalah pengurus rakyat dan dia bertanggung jawab atas apa yang dipimpinnya.” (HR. Al-Bukhari )
Hal itu merupakan tugas negara, yaitu seorang imam dalam meriayah warganya sebab tugas tersebut akan dipertanggungjawabkan di akhirat. Dengan demikian, Daulah Islam tentu akan meriayah warganya dengan dilandasi keimanan kepada Allah Swt.. Jadi, tidak sekadar melayani begitu saja. Maka dari itu, seorang pemimpin tentu akan bekerja dengan penuh ketulusan dan keikhlasan.
Tidak berbelit-belit, anti ribet, dan tidak semrawut merupakan penggambaran pelayanan kesehatan di dalam Daulah Islam sebab dari kota sampai pelosok negeri semua orang akan mudah mendapatkannya. Selain itu, yang lebih membuat kita berdecak kagum adalah pelayanan yang diberikan juga berkualitas. Hal itu merupakan salah satu tanggung jawab negara/pemimpin, yaitu menyediakan pelayanan kesehatan bagi rakyatnya tanpa terkecuali.
Fakta tersebut telah dipraktikkan oleh Nabi Muhammad saw. saat menjadi kepala negara di Madinah. Rasul saw. menyediakan dokter gratis untuk Ubay, setelah mendapatkan hadiah seorang dokter dari Muqauqis, Raja Mesir. Kemudian, beliau menjadikan dokter itu dokter umum bagi masyarakat. (HR. Muslim)
Fakta berikutnya, saat Umar bin Khaththab r.a. juga menyediakan dokter gratis untuk Aslam. (HR. Al-Hakim)
Dua hadis tersebut menunjukkan bahwa pelayanan kesehatan dan pengobatan adalah kebutuhan dasar pokok yang disediakan oleh negara tanpa mempertimbangkan pasien miskin atau kaya.
Mengapa Daulah Islam sangat mampu menyediakan layanan kesehatan? Tentunya karena didukung oleh sistem ekonomi Islam. Di sistem ini, kekayaan sumber daya alam yang melimpah diolah oleh negara dan hasilnya untuk kesejahteraan rakyat termasuk pembiayaan kesehatan.
Begitulah gambaran kesejahteraan rakyat manakala Islam diterapkan. Di sistem ini, pemimpin adalah orang yang memiliki respons yang cepat dalam mengurusi rakyatnya. Sebab, aspek kesehatan sangat urgen karena menyangkut nyawa kaum muslim. Hal itu, hanya sebagian bukti nyata di aspek kesehatan, belum lagi aspek-aspek kehidupan yang lain.
Masya Allah, Islam sangat menjaga jiwa, karena nyawa seorang muslim lebih berharga dari dunia dan seisinya. Maka, Islam memastikan rakyatnya bisa menikmati pelayanan kesehatan yang mudah diakses, gratis dan berkualitas. Namun, hal itu hanya akan didapatkan dalam naungan Khil4fah Islamiah. Wallahualam bissawab. [GSM/MKC]


