Era Digital Kapitalisme: Tantangan bagi Aktivisme Gen Z
OpiniSelama kapitalisme sekuler masih mendominasi ruang digital
generasi muda akan terus terpapar nilai asing yang mengikis identitas keislaman
_____________________
Penulis Irmawati
Kontributor Media Kuntum Cahaya
KUNTUMCAHAYA.com, OPINI - Perkembangan era digital yang begitu cepat sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan Generasi Z. Internet dan media sosial bukan lagi sesuatu yang istimewa, melainkan kebutuhan harian. Hampir semua aktivitas, mulai dari belajar, berkomunikasi, hingga mengekspresikan diri, dilakukan melalui ruang digital.
Hal ini tidak mengherankan karena Gen Z dikenal sebagai generasi yang tumbuh dan berkembang bersama teknologi sejak usia dini. Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) mencatat jumlah pengguna internet pada semester pertama tahun ini adalah 229.428.417 jiwa. Jika dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya, angka ini menunjukkan kenaikan yang signifikan.
Kelompok yang paling dominan dalam penggunaan internet adalah Generasi Z. Dengan kontribusi 25,54 persen dari total pengguna. Disusul Generasi Milenial sebesar 25,17 persen dan Generasi Alpha sebesar 23,19 persen. (Cloud Cumputing Indonesia, 12-08-2025)
Kemajuan teknologi informasi sejatinya memberikan banyak kemudahan. Akses terhadap ilmu pengetahuan makin terbuka, komunikasi dapat dilakukan tanpa batas wilayah, dan partisipasi sosial menjadi lebih luas. Media digital memberi ruang bagi siapa saja untuk menyampaikan pendapat dan terlibat dalam berbagai isu.
Namun, di balik kemudahan tersebut realitas yang dihadapi Gen Z tidak selalu sejalan dengan harapan. Era digital justru membawa pengaruh besar terhadap pola pikir, sikap, dan perilaku generasi muda. Media sosial tidak lagi sekadar menjadi sarana berekspresi, melainkan berubah menjadi ruang persaingan yang sarat tekanan.
Nilai diri seseorang sering kali diukur dari angka-angka di layar. Jumlah tanda suka, komentar, dan pengikut. Gaya hidup Gen Z banyak dipengaruhi oleh algoritma serta tuntutan sosial yang kerap tidak realistis. Akibatnya, banyak yang merasa harus terus tampil sempurna agar diakui keberadaannya.
Tekanan dari lingkungan digital turut berdampak pada kesehatan mental. Rasa cemas, stres, hingga depresi makin sering dialami remaja akibat tuntutan untuk selalu aktif dan terlihat ideal di media sosial. Berbagai survei menunjukkan adanya peningkatan gangguan mental di kalangan remaja yang berkaitan dengan penggunaan media digital.
Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 yang dilakukan oleh Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan mencatat bahwa 5,5 persen remaja usia 10–17 tahun mengalami gangguan mental. Rinciannya meliputi 1 persen depresi, 3,7 persen gangguan kecemasan, 0,9 persen PTSD, serta 0,5 persen ADHD. Selain itu, survei di 26 negara, termasuk Indonesia, menunjukkan bahwa media sosial menimbulkan rasa cemas yang lebih tinggi pada Gen Z dibandingkan generasi sebelumnya.
Kondisi ini membuat Gen Z kerap dipersepsikan sebagai generasi yang rapuh dan rentan. Padahal di balik tekanan tersebut Gen Z memiliki potensi besar sebagai pelopor perubahan. Daya kritis dan kemampuan mereka dalam memobilisasi opini publik menjadi kekuatan penting jika diarahkan dengan tepat. Aktivisme Gen Z seharusnya tidak berhenti pada sekadar mengikuti tren, tetapi berlandaskan nilai yang jelas.
Gen Z bukan sekadar generasi hari ini, melainkan penentu masa depan. Pilihannya adalah terus hanyut mengikuti arus digital atau bangkit membangun peradaban yang berakar pada nilai. Arah masa depan sangat ditentukan oleh keputusan yang diambil saat ini.
Ruang Digital yang Sarat Kepentingan
Ruang digital pada dasarnya tidak bersifat netral. Ia dibangun dalam sistem kapitalis sekuler yang menempatkan keuntungan dan kepuasan instan sebagai tujuan utama. Platform digital dirancang bukan untuk mendidik atau membentuk karakter, melainkan untuk mempertahankan perhatian pengguna demi profit.
Akibatnya, seseorang sering dinilai dari tingkat popularitasnya. Konten yang dominan mengusung nilai kebebasan tanpa batas, konsumerisme, dan kesenangan sesaat. Banyak generasi muda yang rela mengubah karakter demi eksistensi, bahkan memilih jalan pintas seperti berutang agar terlihat diakui.
Meski Gen Z memiliki potensi kreativitas dan aktivisme yang besar, banyak gerakan yang muncul bersifat sementara. Tekanan hidup yang makin kompleks membuat sebagian anak muda terjebak dalam gaya hidup konsumtif, kehilangan arah, dan putus asa. Hal ini terjadi karena tidak adanya landasan pemikiran yang kuat sebagai dasar perjuangan menuju perubahan yang hakiki.
Islam sebagai Jalan Penyelamatan Generasi
Dengan potensi kritis dan kreatif yang dimiliki, Gen Z sejatinya dapat berperan sebagai agen perubahan dan pengontrol sosial, terutama di ruang digital. Oleh karena itu, menyelamatkan generasi dari dominasi kapitalisme sekuler menjadi hal yang sangat penting.
Upaya tersebut tidak cukup dilakukan hanya dengan membatasi penggunaan media digital. Lebih mendasar adalah perubahan paradigma berpikir, yaitu membentuk akal dan hati agar tidak terjebak pada pemikiran yang memisahkan agama dari kehidupan. Paradigma ini perlu digantikan dengan pemahaman Islam secara menyeluruh.
Islam harus dipahami sebagai sistem hidup yang mengatur cara berpikir, bersikap, dan berjuang, bukan sekadar ritual ibadah. Dengan paradigma Islam, Gen Z mampu membedakan mana tren sesaat dan mana perjuangan jangka panjang yang benar-benar bermakna. Aktivisme pun diarahkan pada solusi yang bersifat sistemis dan ideologis.
Melalui pendidikan Islam, regulasi media yang sesuai syariat, serta komunitas yang saling menguatkan, era digital dapat menjadi awal kebangkitan generasi islami. Generasi yang kokoh dalam iman, jernih dalam berpikir, dan kuat dalam moralitas. Generasi yang memanfaatkan teknologi sebagai sarana kebaikan, bukan sebagai jebakan.
Namun, perubahan ini tidak dapat dilakukan oleh individu semata. Diperlukan peran keluarga, masyarakat, dan negara. Keluarga menjadi fondasi utama dalam menanamkan akidah sejak dini. Masyarakat menciptakan lingkungan yang sehat dan bernilai. Sementara negara berperan melalui sistem pendidikan, kebijakan media, ekonomi, dan politik yang melindungi generasi.
Selama kapitalisme sekuler masih mendominasi ruang digital, generasi muda akan terus terpapar nilai asing yang mengikis identitas keislaman. Mereka berisiko menjadi sekadar pengguna teknologi, bukan pembangun peradaban.
Perubahan sejati hanya dapat terwujud melalui pemikiran ideologis yang mampu menggantikan pemikiran yang rusak. Tanpa itu, gerakan apa pun hanya akan menjadi fenomena sesaat, bukan perubahan yang hakiki. Wallahualam bissawab. [Dara/MKC]


